MATERI PEMBELAJARAN BAB.1

 BAB 1  MANUSIA MAKLUK PRIBADI


Kita sering mendengar ada sebagian remaja yang merasa tidak puas terhad Kita sering mendengar ada sebagian remaja yang merasa tidak puas terhadap apa yang ada pada dirinya. Ia tidak puas terhadap keadaan fsiknya, kebiasaan maupun karakternya, atau kemampuan serta keterbatasan yang dimilikinya. Orang-orang seperti itu sering kali berfkir: “mengapa saya tidak bisa seperti mereka?”, “apa salah saya sehingga saya bernasib seperti ini?”. Bahkan lebih jauh lagi, akhirnya mereka menganggap Tuhan tidak adil. Munculnya perasaanperasaan manusiawi seperti itu merupakan pengalaman yang wajar dan biasa dialami oleh remaja dalam upaya pencarian jati dirinya.

Jawaban atas kegelisahan remaja seperti itu, tidak akan terpuaskan selama mereka mencarinya terbatas fenomena fsik-manusiawi belaka. Mereka perlu diajak untuk masuk ke kedalaman dirinya. Mereka perlu dihantar pada pengalaman imani, sehingga sampai pada pertanyaan baru: “Mengapa Tuhan menciptakan aku seperti ini?”, “Apa maksud dan panggilan Allah dalam keadaanku seperti
ini?”. Ketika masuk dalam kedalaman pengalaman iman, mereka akan sampai menyadari bahwa apapun yang melekat pada dirinya semata-mata anugerah Allah, dan bahwa di balik semua yang melekat pada dirinya tersimpan di dalamnya maksud panggilan Allah yang luhur.

Keberanian masuk pada pengalaman  iman inilah yang akan membuat setiap orang menerima diri dan mensyukuri hidupnya sebagai anugerah. Penerimaan diri dan dan syukur itu selanjutnya akan mendorong untuk bersikap bertanggung jawab dan mengembangkan diri. Bila proses ini bisa dijalani, maka mereka akan sampai pada kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Mereka tidak akan lagi
menjadi minder, atau ingin seperti orang lain. Mereka menjadi dirinya sendiri. Mereka merasakan bahwa dirinya bukan lagi sesuatu, melainkan sebagai pribadi yang bernilai, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Untuk membantu remaja pada pengalaman dan proses di atas, maka pada Bab ini berturut-turut akan dibahas materi pokok tentang:
A. Aku Pribadi Yang Unik.
B. Mengembangkan Karunia Allah.
C. Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan.
D. Keluhuran Manusia sebagai Citra Allah.















MODUL KELAS X MATERI 1


AKU PRIBADI YANG UNIK

TUJUAN PEMBELAJARAN FASE E   10.1

Capaian Pembelajaran
3.1. Memahami diri dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.
4.1. Melatih diri dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pendalaman kisah tentang Lena Maria, peserta didik mampu memahami 

    keberadaan dirinya dengan segala kemampuan dan keterbatasannya.
2. Dengan mendalami Teks Kitab Suci Kej 1: 26 – 31, peserta didik mampu menyadari 

    bahwa ia diciptakan secara unik.
3. Dengan merefleksikan keunikan dirinya, peserta didik mampu membuat doa syukur.
Indikator
3.1.1. Menganalisis data pribadi tentang kekuatan-kekuatan dan keterbatasanketerbatasan 

           yang ada dalam diri sendiri.
3.1.2. Menjelaskan pengertian manusia sebagai pribadi yang unik
3.1.3. Merumuskan ajaran Kitab Suci tentang keunikan manusia berdasarkan Kej 1:26-31
4.1.1. Membuat doa syukur karena diciptakan sebagai pribadi yang unik
4.1.2. Membuat gambar simbol diri dan mensharingkan di depan kelas
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.
Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi
Bahan Kajian
1. Mengenali keunikan diri
2. Sikap terhadap kekuatan dan keterbatasan.
3. Keunikan manusia berdasarkan Kitab Suci.
Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. forum-kompas.com/kesehatan/271674/-gadis-muda-bunuh-diri-karenahasil

    opereasi –platik- jelek.htmL


3. http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia
4. Kitab Suci: Kej. 1: 26-31 dan Mazmur 139.
5. Teks puisi “Be Te Best”, jadilah diri sendiri yang terbaik karya Douglas Mallock
6. Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan
  Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kansius
7. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
8. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
Waktu
3 Jam Pelajaran




Pemikiran Dasar

Setiap manusia itu unik (unique/ Inggris atau unus/ latin = satu), tak ada satu orang pun yang mempunyai kesamaan dengan orang lain. Bahkan manusia kembar sekalipun selalu mempunyai perbedaan. Perbedaan itu lebih jauh dan lebih dalam dari yang dapat dilihat, dirasa, didengar dan dikatakan. Pada umumnya perbedaan ini yang membuat orang iri hati, bertentangan, bermusuhan dan ingin saling meniadakan. Padahal dengan perbedaan itu justru orang dapat saling memperkaya dan melengkapi. Perbedaan itulah yang menjadi keunikan setiap manusia. Keunikan itu bisa diamati dari hal-hal fsik, psikis, bakat/ kemampuan serta pengalaman-pengalaman yang dimilikinya. Keunikan diri itu merupakan anugerah yang menjadikan diri seseorang berbeda dan dapat dikenal dan diperlakukan secara khusus pula. Untuk mengatasi perbedaan itu, diperlukan sikap menerima diri apa adanya. Jabatan dalam keorganisasian dapat digantikan oleh orang lain, tetapi kedudukan setiap manusia dalam seluruh kerangka ciptaan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Peran orang tua dalam keluarga dapat saja digantikan oleh orang lain, tetapi peran sebagai ciptaan tidak mungkin digantikan oleh siapapun. Tuhan menciptakan setiap manusia dengan tugas yang khas di dunia ini. Orang yang bersikap positif akan menerima keunikan itu sebagai anugerah, ia bangga bahwa dirinya berbeda, ia bersyukur bahwa apa pun yang ada pada dirinya merupakan pemberian Tuhan yang baik adanya. Dengan demikian, ia tidak akan minder, ia tidak berniat menjadi sama seperti orang lain, ia tidak akan menganggap dirinya tidak berharga, ia tidak akan melakukan tindakan yang melawan kehendak Tuhan akibat ketidakpuasan terhadap dirinya, hidupnya akan tenang dan mampu bergaul dengan siapa saja. Ada orang yang kurang menerima keunikan diri. Orang yang demikian akan merasa tidak puas, bahkan dapat melakukan tindakan apa pun demi menutupi keterbatasan diri, misalnya operasi plastik. Orang yang demikian sering beranggapan seolah penampilan luar lebih penting. Singkatnya, manusia adalah makhluk yang indah dan “istimewa”. Keistimewaan dan keagungan manusia ini hendaknya sungguh disadari oleh semua peserta didik. Sebagai orang beriman kristiani yang sungguh-sungguh ingin semakin memahami, menerima, bangga, dan percaya diri, Yesus adalah teladan yang paling utama dan pertama. Dari semula Ia menyadari diri sebagai manusia yang berbeda dengan yang lainnya. Dari cara berpikir, bersikap dan bertindak, Ia tidak ragu menunjukkan diri sebagai pribadi yang tidak sama dengan yang lainnya. Sebagai seorang pribadi kita harus menyadari, mengerti dan menerima diri apa adanya. Dengan demikian kitapun akan dapat semakin mengembangkan diri dan melakukan sesuatu dengan kesadaran diri (self-consciousness), penerimaan diri
(self-acceptance), kepercayaan diri (self-confdence) dan perasaan aman diri (selfassurance) yang tinggi. Dengan dasar itu kita dapat mengisi hidup, meraih cita-cita dan melaksanakan panggilan Allah.


Langkah Pertama: Menggali Pengalaman Hidup Berkaitan
dengan Keunikan Diri dan Orang lain

a. Guru mengajak masuk peserta didik untuk duduk dengan tenang dan hening sambil   

   mengamati diri , kemudian menuliskan ciri-ciri yang ada pada dirinya, baik menyangkut 

    ciri-ciri fsik, sifat/ kebiasan baik dan buruk pada kolom bagian a.
b. Setelah selesai mengisi kolom bagian a, siswa diperkenankan meminta 4 orang temannya 

    yang lain untuk menuliskan ciri-ciri pada kolom bagian b, 


Penilaian

Fisik

SIFAT/ KEBIASAAN

Baik 

Buruk

a. Menurut diriku sendiri




b. Menurut teman temanku











c. Guru memberi kesempatan peserta didik saling bertukar lembar kolom isian, sambil 

    memperhatikan hal-hal apa yang ada pada diri orang lain tapi tidak ada pada diri sendiri 

    dan sebaliknya.


d. Setelah selesai, peserta didik diminta mengungkapkan: perasaan yang muncul saat 

    mengisi ciri-ciri dirinya, ketika melihat apa yang dituliskan temannya, ketika harus 

    menuliskan ciri-ciri temannya.

e. Guru meminta peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk merumuskan:
    sikap atau pandangan apa saja yang sering muncul saat orang menyadari bahwa dirinya berbeda 

    dengan orang lain. Apa pengaruh sikap tersebut dalam bersikap terhadap dirinya sendiri maupun 

    orang lain? Bagaimana sikapmu sendiri selama ini terhadap keadaan dirimu?
f. Setelah pleno, guru mengajak peserta didik membaca artikel berikut:

Gadis Muda Bunuh Diri Karena Hasil Operasi Plastik Jelek


Cantik, satu kata yang membuat wanita bangga, sekaligus rela menyakiti tubuhnya untuk memperoleh pujian tersebut. Di masa lalu, operasi akibat penyakit sangat dihindari karena rasa sakit yang akan ditanggung, nyatanya tidak membuat banyak wanita takut untuk melakukan operasi plastik. Jika berbicara operasi plastik, pikiran akan langsung melayang ke Korea Selatan, di mana proses operasi plastik seolah semudah membuat mie instan.
Beberapa tahun lalu, tren operasi plastik adalah kelopak mata, hidung dan payudara. Sekarang, wanita dan pria Korea Selatan suka bentuk wajah yang mungil berbentuk diamond atau segitiga. Banyak dari mereka melakukan double-jaw surgery atau operasi pemotongan rahang untuk mendapatkan wajah mungil berbentuk V.


Operasi Plastik Ini Berisiko Tinggi dan Berbahaya



Dilansir Dailymail, Choi Jin-Young, seorang profesor kedokteran gigi di Universitas Nasional Seoul mengatakan, “Operasi ini mengubah penampilan Anda lebih dramatis dibanding sebelumnya, katakanlah suntik botox atau operasi hidung, karena yang diubah adalah struktur tulang Anda,” ujarnya. Kemudian dokter tersebut melanjutkan, “Tetapi prosedur ini sangat rumit, cenderung berbahaya. Sangat tidak nyaman melihat seseorang rela rahang dan gigi hanya untuk mendapatkan wajah mungil yang cantik,” Beauty is pain.
Walaupun sudah banyak pernyataan bahwa operasi pemotongan rahang sangat berbahaya, makin banyak warga Korea Selatan yang melakukan prosedur ini. Di sana, sudah jadi hal normal melihat berbagai iklan operasi plastik dengan ukuran sangat besar di tempat umum seperti stasiun, dan di pinggir jalan. Iklan itu semakin menggoda dengan foto perubahan 

wajah sebelum dan sesudah operasi plastik.

Bunuh Diri Karena Operasi Plastik

Diperkirakan, 5000 orang sudah menjalani operasi pemotongan rahang. Shin Hyon-Ho, seorang pengacara yang khusus menangani kasus malpraktik mengatakan bahwa operasi ini mengakibatkan rasa sakit luar biasa pada rahang, mulut jadi miring, gigi tidak sejajar, juga hilangnya kemampuan mengunyah dan tersenyum. “Kasus akibat operasi plastik semakin tinggi, dengan komplikasi yang 

makin serius,” ujarnya. Yang menyedihkan, pada bulan Agustus tahun lalu, seorang gadis 23 tahun bunuh diri setelah menjalani operasi pemotongan rahang. Gadis itu meninggalkan catatan sebelum bunuh diri, dia mengakhiri hidupnya karena operasi plastik yang dijalani membuatnya tidak dapat mengunyah dan tidak berhenti menangis karena kerusakan saraf di saluran air mata. Semoga saja kejadian menyedihkan ini tidak terjadi kembali.


g. Guru meminta peserta didik membandingkan hasil diskusi kelompok dengan kasus di atas: sikap  

    seperti apa yang ditampilkan dalam artikel tersebut ?
h. Guru dapat mengajak peserta didik mendalami lebih lanjut, dengan mengajukan pertanyaan: 

    coba kemukakan contoh lain yang menunjukkan sikap tidak menerima diri! Bila demikian, apa 

    yang membuat seseorang  “bernilai” di mata orang lain: kecantikan, kekayaan atau apa?

i. Bila dipandang perlu, guru dapat menyampaikan beberapa gagasan pokok berikut:

• Menerima diri merupakan proses yang tidak mudah. Banyak remaja yang seringkali tergoda untuk merasa tidak puas dengan dirinya sendiri. Ketika melihat temannya lebih kaya, ada remaja yang berpikir: mengapa saya dilahirkan dalam keluarga yang miskin? Ketika melihat orang lain berkulit putih, ada remaja yang berfkir: mengapa saya dilahirkan dengan kulit kusam? Ketika melihat temannya berhidung mancung, ada remaja yang berpikir: mengapa saya dilahirkan dengan hidung pesek? Melihat temannya pintar dalam pelajaran tertentu, ada remaja yang berpikir: mengapa saya 

tidak sepandai dia?
• Mereka yang masih berpikir seperti itu, rupanya belum menyadari; bahwa untuk hal-hal tertentu, khususnya yang bersifat fsik-jasmaniah, apa yang melekat dalam diri kita sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan. Mereka lupa, bahwa banyak orang kaya juga tidak bahagia, banyak orang cantik atau tampan juga tidak sukses; sebaliknya banyak orang dengan wajah biasa (bahkan kurang menarik) dari keluarga miskin sekalipun bisa sukses dan dihargai banyak orang.
• Sikap tidak menerima diri bisa menumbuhkan sikap iri, ingin menjadi seperti orang lain, dan akhirnya menghalalkan segala cara. Kasus remajaremaja di Korea Selatan yang melakukan operasi plastik merupakan salah satu contohnya. Tetapi apa yang mereka lakukan bukan jaminan untuk
bisa hidup bahagia.
• Maka pertanyaan yang paling mendasar untuk direfleksikan adalah: nilai apa yang ingin kalian kejar yang dapat menentukan kebahagiaan kalian? Apakah nilai seseorang ditentukan oleh kecantikan atau ketampanan? oleh hidung yang mancung? atau oleh sikap dan perilaku serta keteladanan hidup?


Langkah Kedua: Mendalami Ajaran Kitab Suci tentang
Keunikan Manusia

a. Guru meminta peserta didik mencari teks Kitab Suci yang berbicara tentang keunikan diri!
b. Guru dapat mengajak peserta didik mendalami teks Kitab Kej 1: 26 – 31!

26 Berfrmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfrman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29 Berfrmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhtumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah 

demikian. 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

c. Guru mengajak peserta didik membaca dan merenungkan teks sekali lagi dalam hati, 

    dengan mengganti kata “manusia” dan kata “mereka” dengan nama mereka sendiri.
d. Guru meminta peserta didik mensharingkan tanggapan mereka tentang isi teks, misalnya 

    dengan pertanyaan: Perasaan apa yang kamu rasakan saat mengganti kutipan dengan

    namamu? pesan apa yang hendak disampaikan Kitab Kejadian berkaitan dengan keunikan 

    manusia umumnya dan keunikanmu sendiri?
e. Bila dipandang perlu guru dapat menyampaikan beberapa gagasan pokok  berikut:
• Waktu menciptakan manusia, Allah merencanakan dan menciptakannya menurut gambar dan rupa-

   Nya. Menurut citra-Nya. (Kej 1:26)


• Waktu menciptakan manusia, Allah seolah-olah perlu “bekerja” secara khusus. “Tuhan  Allah 

   membentuk manusia dari debu dan tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam  hidungnya” 

   (Kej 2:7).

• Segala sesuatu, termasuk taman Firdaus, diserahkan oleh Allah untuk manusia (Kej 1:26).
• Bukankah manusia itu istimewa? Tuhan memperlakukan manusia secara khusus. Manusia 

  sudah dipikirkan dan direncanakan oleh Allah sejak keabadian. Kehadiran manusia di muka bumi 

  telah disiapkan dan diatur secara teliti dan mengagumkan. Manusia sungguh diperlakukan sebagai “orang”,sebagai pribadi, “seperti” Tuhan sendiri. Betapa uniknya kita manusia ini!


• Sebagai orang beriman kristiani yang sungguh-sungguh ingin semakin memahami, menerima, bangga, dan percaya diri, Yesus adalah teladan yang paling utama dan pertama. Dari semula Ia menyadari diri sebagai manusia yang berbeda dengan yang lainnya. Dari cara berpikir, bersikap dan bertindak, Ia tidak ragu menunjukkan diri sebagai pribadi yang tidak sama dengan yang lainnya. Sebagai seorang pribadi kita harus menyadari, mengerti dan menerima diri apa adanya. Dengan demikian kitapun akan dapat semakin mengembangkan diri dan melakukan sesuatu dengan kesadaran diri (self-consciousness), penerimaan diri (self-acceptance), kepercayaan diri (self-confdence) dan perasaan aman diri (self-assurance) yang tinggi. Dengan dasar itu kita dapat mengisi hidup, meraih 

cita-cita dan melaksanakan panggilan Allah.

Langkah Ketiga: Menghayati Keunikan Diri Hidup Sehari-hari

a. Guru meminta peserta didik menggambar simbol diri disertai dengan penjelasan yang 

    mengungkapkan identitas diri mereka
b. Peserta didik merumuskan niat/kebiasaan/sikap yang akan dilakukan dalam menghayati 

    keunikan diri sesuai dengan pesan Kitab Suci.
c. Untuk menutup kegiatan pembelajaran, guru mengajak peserta didik masuk dalam 

    suasana hening untuk berefleksi:
• Setiap orang adalah pribadi yang unik, tidak ada duanya. Meskipun mereka kembar dalam

   satu rahim, mereka tetap berbeda satu dengan yang lain.
• Ciri fsik, sifat, cara berpikir, dan pengalaman keberhasilan, serta kegagalan membentuk

   keunikan setiap pribadi, selain latar belakang keluarga yang sangat mempengaruhi.
• Setiap orang adalah pribadi yang unik, yang memiliki kekhasan tersendiri dalam  menghayati 

   keberadaan dirinya dan menghayati hidupnya. Satu dengan yang lain tidak pernah sama.
• Sumber sejati keunikan pribadi manusia adalah Allah sendiri, yang telah menciptakan

   manusia secara khusus, pribadi demi pribadi secara ajaib.
• Manusia adalah suatu “karya seni”, suatu “masterpiece” dari Allah yang luar biasa.

   Singkatnya diri anda adalah pribadi yang indah dan istimewa.
• Douglas Mallock dalam puisinya yang berjudul Be Te Best, Jadilah Diri Sendiri yang  Terbaik. Mengungkapkan ajakannya seperti ini Jika kau tak dapat menjadi pohon meranti di puncak bukit, jadilah semak belukar di lembah. Jadilah semak belukar yang teranggun di  sisi bukit, kalau bukan rumput, semak belukar pun jadilah! Jika kau tak boleh menjadi rimbun, jadilah rumput, dan hiasilah jalan dimana-mana. Jika kau tak dapat menjadi ikan mas, jadilah ikan sepat. Tapi jadilah ikan sepat terlincah di dalam payau. Tidak semua  dapat menjadi nahkoda, lainnya harus menjadi awak kapal dan penumpang. Pasti ada  sesuatu untuk semua. Karena ada tugas berat, maka ada tugas ringan di antaranya dibuat  yang lebih berdekatan. Jika kau tak dapat menjadi bulan, jadilah bintang. Jika kau tak  dapat menjadi jagung, jadilah kedelai Bukan dinilai kau kalah ataupun menang. Jadilah dirimu 

sendiri yang terbaik!


EVALUASI:

Menjelaskan pengertian manusia sebagai pribadi yang unik.

Merumuskan ajaran Kitab Suci tentang keunikan manusia berdasarkan
Kej 1:26-31

Membuat doa syukur karena diciptakan sebagai pribadi yang unik

Membuat gambar simbol diri dan mensharingkan di depan kelas






                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                          Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                              BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                       NIP.19660826 200501 1 001



Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001

















MODUL KELAS X MATERI 2



Mengembangkan Karunia Allah

Capaian Pembelajaran
3.2. Memahami makna bersyukur atas diri apa adanya.
4.2. Mengungkapkan rasa syukur atas diri apa adanya.
Tujuan Pembelajaran
1. Dengan mendalami kisah tentang orang muda yang berprestasi dan sharing
tentang upaya-upaya dalam meraih prestasi, peserta didik dapat menyebutkan
sikap-sikap dan upaya yang diperlukan dalam mengembangkan bakat dan
kemampuannya.
2. Dengan mendalami teks Kitab Suci Mat 25: 14 – 30, peserta didik dapat
menjelaskan tentang mengembangkan karunia Allah atau talenta
3. Dengan merefleksikan kemampuan dan keterbatasan dirinya, peserta didik
mampu membuat doa syukur atas karunia Allah yang ia terima.
Indikator
1. Menganalisis pengalaman diri sendiri selama ini tentang upaya
mengembangkan karunia Allah berupa talenta atau kemampuan yang
dimiliki.
2. Merumuskan sikap-sikap yang sering muncul dalam menghadapi kekuatan
dan keterbatasan diri
3. Menganalisis informasi dari buku-buku atau browsing internet tentang kisahkisah hidup orang sukses karena melalui perjuangan keras mengembangkan
bakatnya dengan belajar dan bekerja.
4. Menyimpulkan ajaran Kitab Suci tentang cara mengembangkan karunia
Allah atau talenta.
5. Menuliskan refleksi tentang upaya mengembangkan talenta,
6. Mengungkapkan doa syukur (tertulis) atas kemampuan dan keterbatasan
yang dianugerahkan Allah.
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.
Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi 

Bahan Kajian
1. Pengalaman diri sendiri dalam mengembangkan karunia Allah berupa talenta
atau kemampuan yang dimiliki.
2. Sikap-sikap yang sering muncul dalam menghadapi kekuatan dan keterbatasan
diri
3. Kisah-kisah hidup orang yang sukses dalam mengembangkan bakatnya
dengan belajar dan bekerja.
4. Ajaran Kitab Suci tentang cara mengembangkan karunia Allah atau talenta.


Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. Kisah tentang GM Irene Kharisma Sukandar http://osis.sman7malang.sch.

    id/index.php?option=com_content&view=article&id=116:mengenal-sosokgmw-indonesia-irene-

    kharisma-sukandar-&catid=40:redaksi&Itemid=69
3. Kitab Suci: ( Mat 25: 14 – 30)
4. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. 

    Yogyakarta:Kanisius, 2008.
5. Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan
  Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kansius
6. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
7. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores.
8. http://sosok.kompasiana.com/2013/03/08/gratia-nindyaratri-peserta-lombascience-tingkat-   

   internasional-di-usa-535252.html
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Agnes_Monica
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Michael_Adrian

Waktu
3 Jam Pelajaran

Pemikiran Dasar

Orang muda seringkali tidak menyadari kemampuan-kemampuan dan talenta yang ada dalam diri mereka, di lain pihak merekapun sulit menerima keterbatasanketerbatasannya. Hal ini mungkin tidak bisa dilepaskan dari pengaruh lingkungan, di mana mereka diperlakukan sebagai anak-anak. Akibatnya mereka tidak bisa mengembangkan diri secara maksimal. Dalam pembahasan ini kita diajak untuk menyadari bahwa setiap manusia adalah unik dan diberikan kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Sebagai kaum beriman patutlah kita bersyukur kepada Tuhan dengan cara mengembangkan bakat dan kemampuan dengan sebaik-baiknya. Keunggulan diri berkaitan dengan
bakat dan kemampuan hendaknya tidak membuat setiap orang merasa lebih unggul dari yang lain, sehingga dapat memunculkan sikap sombong dan arogan. Demikian halnya dengan keterbatasan yang ada tidak membuat orang menjadi rendah diri, minder atau bahkan merasa menjadi orang yang tidak berguna.


Menurut Aristoteles, manusia akan bahagia jika ia secara aktif merealisasikan bakat-bakat dan potensinya. Manusia adalah makhluk yang mempunyai banyak potensi, tetapi potensi-potensi itu akan menjadi nyata jika kita merealisasikannya. Kebahagiaan tercapai dalam mempergunakan atau mengaktifan bakat dan kemampuannya. Setiap orang mempunyai kemampuan dan bakat-bakat dalam ukuran tertentu. Kemampuan dan bakat yang dimiliki seseorang seharusnya dikembangkan dan
digunakan. Kemampuan dan bakat adalah anugerah Tuhan, yang dalam Kitab Suci sering disebut talenta. Tuhan menghendaki agar talenta itu dikembangkan dan digunakan. Dalam Injil Matius 25:14-30, dikisahkan tentang seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan memberi mereka sejumlah talenta untuk “dikembangkan” dan “digunakan”. Setiap orang, termasuk para remaja diberi talenta oleh Tuhan. Mereka harus mengembangkan dan menggunakan talenta itu sebagaimana mestinya. Mengembangkan dan menggunakan talenta sebagaimana mestinya adalah panggilan dan tuntutan Kristiani. Allah memberikan kemampuan dan talenta yang berbeda kepada setiap orang dan kemampuan itu hendaklah digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan bersama. Yesus memberikan gambaran seorang tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. 

(Mat 25:14 – 30). Iapun menindak tegas kepada seorang hamba yang tidak mau mengembangkan talenta dan hanya memendamnya ke dalam tanah.




Langkah Pertama: Menyadari Kekuatan dan Keterbatasan
a. Guru memberi pengantar singkat, misalnya: impian hidup setiap orang adalah meraih sukses.  

    Dengan kesuksesan yang diraih, ia tidak hanya membanggakan diri sendiri, melainkan orang tua 

    dan keluarga, mungkin juga guru-guru, tetangga dan sebagainya.
b. Guru mengajak peserta didik membaca kisah berikut!

 

Nama Irene Kharisma Sukandar mungkin asing di telinga kita. Tapi nama ini sudah sering banget jadi bahan perbincangan di dunia catur junior tingkat internasional. Irene Kharisma Sukandar memang termasuk pendatang baru dalam olahraga catur Indonesia. Mengenal catur di usia 7 tahun tepatnya 1999 lalu, Irene telah memperlihatkan talenta yang luar biasa. Pada tahun 2001 ketika usianya baru 9 tahun, putri pasangan Singgih Heyzkel (ayah) dan Cici Ratna Mulya (ibu) ini sudah berhasil meraih gelar Master Percasi (MP). Setahun kemudian dia memperoleh gelar Master Nasional Wanita (MNW). Dua tahun kemudian yakni pada tahun 2004 ketika berlangsung Olimpiade Catur di Malorca, Spanyol, Irene mulai memperlihatkan tajinya dengan merebut gelar Master FIDE Wanita (MFW). Bukan itu saja, Irene juga meraih medali perak dalam arena yang melibatkan 864 peserta dari 107 negara ini. Hasil kerja keras, tak kenal lelah dan selalu ingin maju menjadi kunci keberhasilannya. Pada ajang seleknas catur SEA Games XXIII/2005, Manila, Filipina yang berlangsung Pebruari 2005 di Wisma Catur F. Sumanti, Gedung KONI DKI, Tanah Abang I, Jakarta Pusat, Irene melawan pecatur pria. Untuk mengukur sekaligus mematangkan kemampuannya, Irene oleh Eka Putra Wirya pada Maret 2005 diadu dengan pecatur putri asal Hongkong bergelar Grand Master Wanita (GMW) yakni Anya Sun Corke melalui partai dwitarung enam babak di SCUA Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dwitarung itu memang berakhir imbang 3-3, namun apa yang diperlihatkan pecatur remaja putri masa depan Indonesia ini sungguh layak mendapat pujian. Bahkan Irene dipastikan dapat memenangkan duel itu jika saja dia tak melakukan kesalahan di partai terakhir. Namun Eka dapat memakluminya. Pembina olahraga terbaik pilihan wartawan olahraga SIWO Jaya pada tahun 1993 itu kemudian tidak ragu-ragu untuk secepatnya mengorbitkan Irene sampai menggapai gelar Grand Master Wanita (GMW) pertama Indonesia. Bagaikan gayung bersambut, Irene pun telah menyatakan kesiapan sekaligus tekadnya guna mewujudkan target Eka Putra Wirya tersebut. “Ada dua cita-cita besar saya, pertama meraih gelar GM dan kedua menjadi juara dunia,” papar pecatur yang mengidolakan GM Judith Polgar dari Hongaria ini. Irene memang bukan Judith Polgar. Namun melihat bakat dan kesungguhannya dalam berlatih selama ini, impiannya menjadi juara dunia sekaligus meraih gelar Grand Master bukan isapan jempol atau pepesan kosong. Irene bukanlah pecatur karbitan dan PB. Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) pun termasuk Eka Putra Wirya juga tak akan mengatrol atau mengarbit prestasi anak kedua dari tiga bersaudara ini. Keberhasilannya menahan imbang Anya yang kelasnya dua tingkat lebih tinggi dapat dijadikan acuan atau paling tidak cermin untuk melihat prospek Irene ke depan.


c. Guru mengajak peserta didik hening sambil menjawab beberapa pertanyaan berikut: Apa yang terpikir olehmu saat melihat gambar dan cerita di atas? Bayangkan gambar dan tokoh di atas adalah dirimu, kira-kira piala itu lambing sukses kalian dalam bidang apa? atau menjadi Grand master dalam bidang apa? apa yang telah kalian lakukan sehingga bisa mencapainya? Siapa saja yang berperan dalam mencapai sukses tersebut? (Tuliskan permenunganmu)


d. Guru mengajak peserta didik menuliskan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka, entah menyangkut kekuatan maupun keterbatasan, baik menyangkut fsik, bakat/kemampuan, materi/ekonomi, sifat, dan yang lainnya, serta bidang yang dapat menjadi peluang meraih sukses






Kekuatan dan Keterbatasanku
Nama: ………………………..

Aspek-Aspek Diriku

Kekuatanku

Keterbatasanku

Fisik/Jasmani



Bakat/Kemampuan



Materi/Ekonomi



Sifat – Sifat



Impian (sukses) yang ingin ku raih:










e. Guru meminta peserta didik mensharingkan dalam kelompok.

f. Setelah selesai sharing, peserta didik dalam kelompok merumuskan pertanyaan berkaitan dengan hal-hal: tokoh tokoh remaja yang sukses, sikap yang perlu dikembangkan dalam upaya mengembangkan diri, peran orang lain dalam meraih sukses. Antar kelompok diminta saling menukar
pertanyaan untuk dijawab.


g. Setelah diskusi kelompok dan pleno, coba resapkan kisah berikut: Lena Maria adalah seorang wanita yang tangguh. Dia terlahir dengan banyak sekali keterbatasan karena cacat fsik yang dimilikinya. Ia terlahir tanpa tangan dan kaki kirinya hanya setengah dari kaki kananya. Tetapi dia tidak pernah menyerah dan selalu bersyukur atas semua yang dimilikinya. Dengan bekal mimpi, kemauan dan semangat pantang menyerah, akhirnya dia bisa mengembangkan semua talenta yang dimilikinya. Dia bisa meraih kesuksesan walaupun dengan kondisi fsik yang terbatas. Pada usia 18 tahun, ia memecahkan rekor berenang pada kejuaraan dunia. Bakatnya pada music juga sangat luar biasa. Ia sekarang sebagai penyanyi professional. (Bila dimungkinkan, Guru dapat mengajak peserta didik menonton flm Lena Maria dengan mengakses http://www.youtube.com/watch?v=LNcwST4Ga0w)

h. Guru meminta peserta didik mengungkapkan pesan yang sangat menarik
dari kisah Lena Maria?

i. Bila dipandang perlu guru dapat memberi masukan sebagai berikut:
• Pada dasarnya setiap manusia dianugerahi oleh Tuhan dengan berbagai kemampuan walaupun dengan kadar yang berbeda antar satu dengan yang lain. Orang yang pandai dalam pelajaran matematika belum tentu terampil dalam olah raga, orang yang pandai bernyanyi belum tentu
pandai juga dalam olah raga. Orang yang pandai dalam pelajaran IPA belum tentu pandai bersosialisasi dengan teman. Tidak ada orang yang pandai dan terampil dalam segala hal.
• Kenyataan semacam ini seharusnya menyadarkan setiap orang bahwa di satu pihak setiap manusia mempunyai kemampuan, tetapi di lain pihak dia mempunyai keterbatasan. Maka tugas setiap orang adalah menemukan apa yang menjadi kemampuannya, serta menemukan juga
keterbatasannya.
• Sikap yang bijaksana dalam menghadapi kemampuan dan keterbatasan antara lain: kemampuan sebagai anugerah Tuhan, diharapkan tidak menjadikan seseorang menjadi sombong atau takabur; Kemampuan harus ditingkatkan, dilatih terus menerus agar semakin berkembang dan dapat dijadikan andalan hidup. Sebaliknya keterbatasan jangan sampai membuat orang minder; menganggap hidup sebagai nasib buruk dari Tuhan atau merasa hidupnya tidak berguna. Kelemahan atau keterbatasan harus disadari dan diatasi agar tidak menjadi hambatan
untuk memperkembangkan diri.
• Mentalitas yang perlu dikembangkan: sikap mau bekerja keras, mau belajar dari orang lain, tidak cepat menyerah, optimis, mau mencoba, dsb.

• Banyak orang sukses justru setelah ia menyadari keterbatasannya, seperti nampak dalam kisah Lena Maria. Banyak tokoh sukses yang berasal dari keluarga miskin. Tetapi kemiskinan itu menumbuhkan tekad untuk menunjukkan bahwa orang miskinpun dapat sukses. Ia tidak mau orang lain melecehkan dirinya karena miskin. Ia ingin orang lain juga menghargai dirinya sebagai pribadi yang bermartabat. Itulah sebabnya dia belajar dengan keras dan meraih prestasi yang gemilang.

Langkah kedua: Mendalami Pesan Kitab Suci Tentang
Panggilan Mengembangkan Anugerah
a. Guru mengajak peserta didik mendalami teks Kitab Suci yang berkaitan
dengan panggilan untuk mengembangkan anugerah kemampuan, misalnya:
Perumpamaan Tentang Talenta (Mat 25: 14 – 30)


b. Peserta didik diminta merumuskan pesan yang tersirat dari kutipan di atas
c. Bila dipandang perlu guru dapat menyampaikan beberapa gagasan pokok
berikut:
• Yesus memberikan gambaran seorang tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. ( Mat 25: 14 – 30). Iapun menindak tegas  kepada seorang hamba yang tidak mau mengembangkan talenta dan hanya memendamnya ke dalam tanah.
• Setiap orang diberi talenta oleh Tuhan. Mereka harus mengembangkan dan menggunakan talenta itu sebagaimana mestinya. Mengembangkan talenta sebagaimana mestinya adalah panggilan dan tuntutan orang beriman kristiani.
• Kita harus mengembangkan bakat yang kita miliki, karena Tuhan telah memberikan talenta kepada manusia ciptaan-Nya, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki manusia masing-masing.
• Kita harus seperti hamba yang pertama dan hamba yang kedua yang mengembangkan talenta yang mereka punya dengan baik.
• Kita tidak boleh mencontoh hamba yang ketiga, yang hanya mengubur talentanya, tanpa berusaha untuk mengembangkannya.
• Allah akan sedih dan kecewa karena kita hanya memendam bakat yang kita miliki. Terlebih kita merasa iri hati terhadap kemampuan yang orang lain miliki. Allah memberikan masing-masing talenta kepada umat-Nya, dan talenta itu harus kita syukuri, serta kita kembangkan. 


Langkah ketiga: Menghayati Panggilan Tuhan Untuk
Mengembangkan Anugerah yang Dimiliki
a. Guru mengajak peserta didik masuk dalam suasana hening, peserta didik diminta merumuskan gagasan-gagasan penting yang diperoleh dalam pelajaran ini, serta merumuskan niat/sikap yang akan dilakukan atau dikembangkan !
b. Masih dalam suasana hening, peserta didik diajak untuk berefleksi dengan menyimak kisah berikut:


                                          Kisah Pensil
Pada awal mula, Pencipta Pensil berbicara kepada pensil dengan mengatakan: “Ada lima hal yang harus kamu ketahui sebelum aku mengirimmu ke dunia. Ingatlah itu selalu dan kamu akan menjadi pensil terbaik sesuai potensimu.“
Pertama. “Kamu akan mampu melakukan banyak hal besar, tapi hanya jika Anda membolehkan dirimu dipegang oleh tangan Seseorang.”
Kedua. “Kamu akan mengalami peruncingan yang menyakitkan dari waktu ke waktu, tetapi hal ini dipersyaratkan jika Anda ingin menjadi sebuah pensil yang lebih baik.”
Ketiga. “Kamu memiliki kemampuan untuk mengoreksi kesalahan apa pun yang Anda perbuat.”
Keempat. “Bagian terpenting akan selalu berupa apa yang berada di dalam.”
Kelima. “Betapa pun kondisinya, Kamu harus terus menulis. Kamu harus selalu meninggalkan suatu tanda yang jelas, terbaca betapa pun sulitnya situasi.” Sang pensil mengerti, berjanji untuk mengingat, dan pergi ke dalam kotak. Ia benar-benar memahami maksud Penciptanya.
“Sekarang tempatkan dirimu pada posisi pensil. Ingatlah selalu hal itu dan jangan pernah lupa. Dan, Kamu akan menjadi orang terbaik sesuai dengan potensimu.”
Satu. “Kamu akan mampu melakukan banyak hal besar, tapi hanya jika Anda membolehkan dirimu dipegang oleh tangan Tuhan. Dan, biarkan orangorang lain bertemu denganmu untuk mendapatkan pemberian yang Anda miliki.”



Dua. “Kamu akan mengalami peruncingan yang menyakitkan dari waktu ke waktu, dengan menghadapi berbagai masalah. Tapi, Anda akan memerlukan hal itu untuk menjadi seorang yang lebih kuat.”
Tiga. “Kamu akan mampu mengoreksi berbagai kesalahan yang mungkin akan Anda perbuat agar bertumbuh melalui pelbagai kesalahan itu.”
Empat. “Bagian terpenting dalam dirimu selalu berupa apa yang berada di dalam.


Lima. “Pada permukaan apa pun yang kamu jalani, kamu harus meninggalkan tandamu. Betapa pun situasinya, kamu harus terus mengabdi Tuhan dalam segala hal.”


Tiap orang ibarat sebuah pensil...


Ia diciptakan oleh Pencipta untuk suatu maksud yang unik dan spesial. Hal seperti ini pernah dikatakan Mother Teresa dalam wawancara dengan Edward Desmond dari Majalah Time tahun 1990, “Saya hanya pensil kecil di Tangan Tuhan. Dia yang berpikir. Dia yang menulis. Pensil itu tidak bisa apa-apa. Ia hanya digunakan. Saya merasa Tuhan ingin memperlihatkan kebesaran-Nya dengan menggunakan ketiadaan.” Dengan pengertian dan usaha terus mengingat, marilah kita maju terus dalam hidup kita di bumi ini dengan memiliki sebuah tujuan yang bermakna dalam hati kita dan suatu hubungan dengan Tuhan tiap hari. Anda diciptakan untuk melakukan hal-hal yang besar!
Sumber : motivationplannet.wordpress.com


c. Peserta didik diminta menuliskan makna kisah tersebut bagi dirinya berkaitan dengan upaya   

    mengembangkan  talenta yang dimiliki.
d. Peserta didik membuat doa syukur secara tertulis sebagai ungkapan rasa syukur atas kemampuan 

   dan keterbatasan  yang dianugerahkan Allah pada dirinya.




Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                      Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                             BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                       NIP.19660826 200501 1 001



Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001












MODUL KELAS X MATERI 3

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Capaian Pembelajaran
3.3. Memahami jati diri sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat
4.3. Menunjukkan jati diri sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat.
Tujuan Pembelajaran
1. Melalui pendalaman cerita “Adat Mengkondisikan Perempuan di bawah pria” dan sharing tentang 

     perbedaan laki-laki dan perempuan, peserta didik mampu menjelaskan sifat saling melengkapi 

     antara laki-laki dan perempuan.
2. Dengan mendalami teks Kej 2: 18 – 23, peserta didik mampu menjelaskan kesetaraan laki-laki 

    dan perempuan.
3. Dengan merefleksikan tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, peserta didik mampu membuat 

    doa syukur atas jati dirinya sebagai laki-laki dan perempuan.
Indikator
1. Menginventarisir bentuk-bentuk pelanggaran terhadap martabat perempuan yang sering terjadi 

    dalam masyarakat kita.
2. Menjelaskan ajaran Gereja tentang sifat saling melengkapi dalam relasi antara laki-laki 

    dan perempuan.
3. Menjelaskan ajaran Kitab Suci (Alkitab) tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan,

     (misalnya dalam Kitab Kejadian 2: 18 – 23)
4. Menuliskan refleksi tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan.
5. Membuat doa syukur sebagai ungkapan syukur atas jati dirinya sebagai lakilaki dan perempuan 

    yang saling melengkapi dan sederajat
Bahan Kajian
1. Kedudukan Laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.
2. Perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi biologis dan psikologis.
3. Sifat saling melengkapi dalam relasi antara laki-laki dan perempuan.
4. Ajaran Kitab Suci (Alkitab) tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan.
Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. Kitab Suci Kej 5: 18 – 23)
3. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik
    untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius, 2008.

4.Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan
  Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius
5. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
6. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.
Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Presentasi
3. Diskusi
4. Penugasan
5. Studi Pustaka
6. Refleksi



Pemikiran Dasar

Pada usia remaja, seseorang mengalami pertumbuhan jasmaniah dan rohaniah yang sangat besar. mereka mengalami adanya dorongan-dorongan dan daya-daya tertentu dalam dirinya, khususnya daya tarik terhadap lawan jenisnya. Daya tarik terhadap lawan jenis ini sering belum disadari secara penuh oleh para remaja sebagai hal yang luhur, indah, wajar, dan manusiawi. Ketidaktahuan dan
ketidaksadaran akan adanya dorongan dan daya tarik terhadap lawan jenis ini dapat menyebabkan remaja tidak pandai menempatkan diri dalam pergaulan antar-jenis. Bahkan, pergaulan antar-jenis di kalangan para remaja sering “menyimpang”. Karena itulah, para remaja memerlukan bimbingan agar mereka memiliki pengetahuan dan kesadaran yang memadai tentang hakikat kepriaan dan kewanitaan serta daya tarik terhadap lawan jenisnya. Dengan demikian, para remaja dapat menghargai dirinya sendiri dan lawan jenisnya (pria dan wanita) sebagai ciptaan Tuhan yang indah, luhur, dan suci.
Dalam pembahasan ini peserta didik akan diajak untuk menyadari bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan semartabat dan sederajat. Keduanya diciptakan menurut citra Allah: diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang satu dan sama ( kej 1, 26 -27). Lebih dari itu, mereka dianugerahi kepercayaan dan kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam karyaNya yang agung.
Mereka dipanggil untuk membangun persekutuan (communio) dan bekerja sama dalam pengelolaan dunia dan seisinya serta pelestarian generasi umat manusia (kej 1, 31). Laki-laki dan perempuan saling melengkapi. Sifat korelatif itu sangat jelas dalam bentuk pria dan wanita. Tetapi juga kelihatan dalam seluruh kemanusiaannya, seperti: perasaan, cara berpikir, dan cara menghadapi kenyataan, termasuk Tuhan. Tuhan mengatakan: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan
menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2: 18).

        Laki-laki dan perempuan diciptakan bukan pertama-tama sebagai tuan dan hamba atau atasan dan bawahan, tetapi rekan yang sepadan. Tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada keduanya sama. Nilai karya dan peran mereka pada karya Allah pada umumnya tidak berbeda: tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Sabda Allah yang berbunyi: “Baiklah kita menjadikan
manusia menurut gambar dan rupa kita…”(kej 1, 26) dan “…yang dijadikanNya itu sungguh amat baik” (kej 1, 31) menunjukkan perbedaan manusia dengan ciptaan lain. Sabda itu menunjukkan keistimewaan mereka sebagai laki-laki dan perempuan di antara semua ciptaan, bukan perbedaan mereka sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam Kitab Kejadian juga diceritakan bahwa pria dan wanita merupakan ciptaan Tuhan yang paling indah. Pria dan wanita diciptakan Tuhan untuk saling
melengkapi, untuk menjadi teman hidup. Pria saja tidaklah lengkap. Allah sendiri berkata: “Tidaklah baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan seorang penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej 2: 18). Untuk menyatakan bahwa wanita sungguh-sungguh merupakan kesatuan dengan pria, maka Tuhan menciptakan wanita itu bukan dari bahan lain, tetapi dari tulang rusuk pria itu. Maka, pria itu kemudian berkata tentang wanita itu demikian: “Inilah dia, tulang
dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej 2: 23). Dari kutipan Kitab Suci ini jelaslah bahwa hubungan pria dan wanita adalah hubungan yang suci dan sepadan.


Langkah Pertama: Mendalami Pandangan Masyarakat
Tentang Peranan dan Tugas Perempuan
a. Guru mengajak peserta didik untuk membaca dan merenungkan artikel berikut ini:


Adat Mengkondisikan Perempuan Di Bawah Pria


Adat menempatkan perempuan adalah ibu yang memberikan segalagalanya. Sementara pria adalah kepala rumah tangga yang diidentikkan dengan seorang kepala perang, penguasa atas keluarga.
Direktris Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Perempuan dan Anakanak (LP3A), Dra Self Sanggenafa, Jumat (31/1), mengatakan, adat tidak mengajarkan kekerasan suami terhadap perempuan. Tetapi, kondisi yang dibangun melalui sistem adat tradisional telah memosisikan perempuan di bawah tekanan dan kekerasan suami. Sebagai perempuan yang hidup dalam sistem adat Papua harus pasrah, tabah, dan sabar atas setiap situasi di dalam keluarga, termasuk menerima
semua bentuk kekerasan dan kekejaman suami terhadap istri dan anak-anak di dalam keluarga. Sikap seperti ini dinilai adat sebagai sikap perempuan yang beretika, tahu diri, menghormati adat, membawa rezeki, dan melahirkan keturunan yang beruntung. Sikap pasrah dan menerima ini masih mendominasi 90 persen perempuan, termasuk mereka yang sudah berpendidikan tinggi. Walau perempuan itu seorang pejabat, tetapi di rumah ia masih harus rela menerima perlakuan kasar
suami dan menghormati suami seperti perempuan tradisional lain. Hampir semua perempuan dalam keluarga memiliki semacam perasaan“wajib” menerima kekerasan dari suami dan keluarga suami. Sikap ini diturunkan dari generasi ke generasi melalui sosialisasi ibu kepada putrinya. Saat kecil ibu sudah mengajarkan bagaimana bersikap sopan terhadap saudara laki-laki dan menjelang dewasa perempuan diberi pengertian mengenai sikap sopan terhadap suami. Tetapi, pria jarang diajarkan sikap sopan terhadap perempuan di rumah. Salah satu penyebab terpenting sikap pasrah istri terhadap suami adalah mas kawin. Makin tinggi nilai mas kawin, beban moril yang ditanggung istri
makin tinggi. Istri merasa seakan-akan “dibayar mahal”. Karena itu, seluruh diri, jiwa raganya harus dibaktikan untuk melayani seluruh kebutuhan suami, termasuk anggota keluarga suami.
http://groups.yahoo.com/neo/groups/beritalingkungan/conversations/topics/4841


b. Guru meminta peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk merumuskan:
tanggapan atas artikel tersebut? Menjelaskan pandangan masyarakat tentang kedudukan antara laki-laki dan perempuan entah dalam keluarga, dalam perkawinan, dalam pekerjaan, dan sebagainya. Kalau dalam judul artikel di atas seolah memosisikan yang satu lebih hebat dari yang lain. Coba diskusikan juga laki-laki mempunyai keunggulan dalam hal apa dan kelemahan dalam
hal apa; dan juga perempuan unggul dalam hal apa dan lemah dalam hal apa?


c. Setelah selesai, guru memberi kesempatan peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok

    dalam pleno.
d. Dalam pleno, khusus berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan, baik laki-laki atau perempuan, 

    guru mengajak peserta didik memilah : manakah yang sungguh-sungguh mencirikan identitas 

    sebagai laki-laki, dan identitas sebagai perempuan?
e. Untuk melengkapi informasi tentang kekhasan laki-laki dan perempuan, kalian bisa mencarinya 

    dari berbagai sumber, atau bertanya.


Langkah Kedua: Mendalami Ajaran Kitab Suci tentang
Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan

a. Guru mengajak peserta didik membaca dan merenungkan Kej 2:18-23
                                        Kitab Kejadian 2: 18 – 23

18 TUHAN Allah berfrman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” 19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan,sebabiadiambildarilaki-laki.”

b. Guru mengajak peserta didik menganalisa teks, kemudian merumuskan pesan berdasarkan analisa mereka, dengan bantuan pertanyaan: Siapa yang menghendaki supaya manusia (laki-laki) tidak seorang diri? Kira-kira mengapa? Siapa yang menjadikan penolong bagi laki-laki? Apakah yang satu
lebih tinggi dari yang lain? Lihat ayat 20, apakah ternak, burung sepadan dengan manusia? Lihat pula ayat 23, apakah ini pengakuan sederajat atau menganggap yang satu lebih hebat dari yang lain? Rangkailah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kecil itu menjadi jawaban.


Langkah Ketiga: Menghayati Kesetaraan Laki-Laki dan
Perempuan.

a.Guru menyampaikan beberapa gagasan berikut:
• Banyak orang bila berbicara tentang kesederajatan antara perempuan dan laki-laki, sering terbatas pada masalah pembagian tugas atau fungsi. Maka banyak orang begitu yakin, bahwa kepala keluarga itu harus seorang bapak. Sekalipun sang bapak itu pengangguran dan yang berjuang matimatian mencari nafah sang istri, tetap saja bapak yang kepala keluarga. Ibu bertugas beres-beres rumah, dan sebagainya.
• Banyak laki-laki ketika berbicara soal kesederajatan, lebih berfokus pada apa yang seharusnya seorang perempuan perbuat baginya. Dan sebaliknya, perempuan berpikir apa yang seharusnya laki-laki perbuat baginya. Selama manusia berpikir seperti itu, maka kesederajatan sulit diwujudkan.
• Sebaliknya kesederajatan akan terwujud bila orang berpikir secara baru. Pikiran baru itu adalah ketika laki-laki mampu berkata: perempuan diciptakan Tuhan sebagai penolong saya, berarti dia(perempuan) itu adalah bukti cinta Tuhan pada saya. Tuhan menghendaki saya berkembang lewat bantuan dia, maka saya akan menghormati dan melakukan apapun yang terbaik bagi dia. Bila saya menghormati dan mengasihi dia, saya pun mencintai Tuhan. Demikian pula sebaliknya: perempuan berkata: Saya telah diciptakan Tuhan sebagai penolong dia, maka saya akan menghormati dan melakukan apa saja yang terbaik bagi dia, sebab hal itu merupakan wujud saya mengasihi Tuhan.
• Pikiran-pikiran semacam itu dapat diwujudkan melalui contoh berikut: Remaja laki-laki tidak akan merasa gengsi bila terbiasa mau membantu keluarga mencuci piring atau masak.
• Panggilan Tuhan atas laki-laki atau perempuan adalah: masing-masing berkembang dan    memperkembangkan diri menjadi laki-laki sejati dan perempuan sejati.

b. Guru melakukan dialog interaktif dengan pertanyaan: sikap dan keterampilan apa saja yang harus kalian perkembangkan agar menjadi laki-laki atau perempuan sejati?

c. Mengungkapkan syukur atas jati dirinya sebagai perempuan atau laki-laki yang saling melengkapi dan sederajat dalam bentuk doa, atau puisi.




  Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                      Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                             BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                       NIP.19660826 200501 1 001



Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001





MODUL KELAS X MATERI 4


Keluhuran Manusia Sebagai Citra Allah

Capaian Pembelajaran

3.4. Memahami sikap saling menghargai sesama manusia yang diciptakan sebagai
      Citra Allah yang bersaudara satu sama lain
4.4. Bersikap saling menghargai sesama manusia yang diciptakan sebagai Citra
      Allah yang bersaudara satu sama lain

Tujuan Pembelajaran

1. Setelah mendalami cerita tentang harapan di tengah konflik dan belajar dari
    tokoh pejuang kemanusiaan, siswa dapat menganalisa alasan munculnya
    tindakan diskriminasi dan sikap fanatisme dalam hidup manusia.
2. Setelah mendalami ajaran Gereja (KGK 357,358 360 – 362) dan Kitab Suci
    (Kej 1: 26-27, Gal 3: 28 dan Luk 10: 25-37), siswa dapat memahami keluhuran
    manusia sebagai Citra Allah.
3. Setelah merefleksikan penghayatan dirinya tentang keluhuran manusia
    sebagai Citra Allah, siswa dapat membuat aksi nyata bersama kunjungan ke
    panti asuhan/membantu sesama yang berkebutuhan khusus dan memberikan
    sumbangan kemanusiaan.

Indikator
1. Menganalisis sebab-sebab munculnya tindakan diskriminasi dan sikap
    fanatisme dalam hidup manusia.
2. Merumuskan ajaran Gereja dalam buku-buku dokumen Gereja yang
    mengajarkan tentang keluhuran martabat manusia sebagai Citra Allah.
3. Merumuskan ajaran Kitab Suci (Alkitab) tentang keluhuran manusia sebagai
    Citra Allah.
4. Merumuskan keistimewaan manusia sebagai Citra Allah dibandingkan
    dengan ciptaan Allah lainnya.
5. Menuliskan refleksi tentang keluhuran manusia sebagai Citra Allah.
6. Membuat aksi nyata bersama kunjungan ke panti asuhan/ membantu sesama
    yang berkebutuhan khusus dan memberikan sumbangan kemanusiaan.
Bahan Kajian
1. Sikap dalam memperlakukan orang lain sebagai sesama yang memiliki
    keluhuran sebagai Citra Allah.
2. Kisah hidup beberapa tokoh pejuang kemanusiaan.
3. Sebab munculnya tindakan diskriminasi dan sikap fanatisme dalam hidup
    manusia.
4. Ajaran Gereja tentang keluhuran martabat manusia sebagai Citra Allah.

5. Ajaran Kitab Suci (Alkitab) tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan.
6. Keistimewaan manusia sebagai Citra Allah dibandingkan dengan ciptaan
    Allah lainnya.
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.




Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi
Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. Kitab Suci Kej 5: 18 – 23)
3. Majalah Hidup No. 28 Tahun ke-60, 9 Juli 2006
4. Majalah Hidup no. 45 tahun ke-60, 5 Nopember 2006
5. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik
    untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius, 2008.
6. Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan
    Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius
7. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
8. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
9. http://id.wikipedia.org/wiki/Bunda_Teresa
10. http://www.tokohindonesia.com/biograf/article/285-ensiklopedi/2543-suritauladan- 

      bangsa/
11. http://id.wikipedia.org/wiki/YB Mangunwijaya/
12. http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Talib
13. dblindonesia.com 1ball.wordpress.com/2010/07/25/pengalaman-pertama-kepanti-

      asuhan/
Pemikiran Dasar

Dalam pelajaran yang lalu kita telah belajar bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Pada pelajaran ini akan dibahas kekhasan yang lain dari manusia, yang membedakan manusia dari ciptaan lain di bumi ini dan yang membuat manusia lebih mirip dengan sang Penciptanya.


Dewasa ini banyak terjadi pelanggaran terhadap martabat kemanusiaan. Di berbagai tempat terjadi kekerasan yang diakibatkan dari sikap fanatik dan diskriminatif ras, suku, agama, budaya, dan kelompok sosial. Sikap ini dapat menjalar pada siapa saja, tidak terkecuali orang muda. Oleh karena itu, mereka perlu disadarkan bahwa sikap tersebut dapat melahirkan berbagai kekerasan dan tindakan anarkis yang sungguh merusak dan sangat melukai martabat manusia sebagai citra Allah.


Sebagai sesama citra Allah, setiap manusia adalah bersaudara. Harus saling menghormati dan saling mengasihi. Sikap ini seperti yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Dalam perumpamaan itu dikisahkan bagaimana orang Samaria yang baik hati itu telah memperlakukan orang Yahudi yang mendapat bencana di jalan seperti saudaranya sendiri, bahkan lebih dari itu.


Dalam Kitab Kej 1: 26-27 dikisahkan demikian: Berfrmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Dalam kutipan Kej 1: 26-27 ini jelas dinyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tentang makhluk-makhluk yang lain tidak dikatakan seperti itu. Dalam pelajaran ini, para peserta didik diharapkan dapat mengagumi martabatnya yang luhur dan mensyukurinya.



Kegiatan Pembelajaran
Doa Pembuka
Guru mengajak peserta didik mengawali pelajaran diri dengan berdoa:
Mohon Rahmat Persaudaraan (PS 198)


Allah Bapa kami Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau telah menanamkan benih kasih dalam hati semua orang. Bahkan Engkau telah membiarkan Roh-Mu sendiri tinggal dalam hati semua insan. Dan Engkau sendiri menghendaki agar kami saling mengasihi,
sebagaimana kami mengasihi diri kami sendiri. Kami bersyukur kepada-Mu atas kasih-Mu. Engkau telah mengangkat semua orang menjadi Anak-Mu, dan mengasihi mereka dengan kasih yang sama. Semoga kami selalu saling mengasihi dan hidup rukun sebagai saudara. Lebih-lebih kami bersyukur, karena Yesus selalu berdoa bagi semua orang,
Seperti Yesus sendiri bersatu dengan Dikau. Kami mohon curahkanlah rahmat persaudaraan kepada semua orang, Agar mereka tekun mengusahakan kedamaian, kerukunan, ketenteraman . Bebaskanlah umat-Mu dari hal-hal yang melemahkan semangat persaudaraan. Bebaskan kami dari cekcok, iri hati, ftnah dan sikap hanya mementingkan diri sendiri. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan
Kristus Tuhan kami. Amin


Langkah Pertama: Mengamati Kasus Pelanggaran Terhadap
Martabat Manusia
a. Guru memberi pengantar singkat, misalnya:


Dalam pelajaran sebelumnya sudah dijelaskan, bahwa manusia itu bukan sesuatu, melainkan seorang pribadi unik yang bernilai. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh harta kekayaan, oleh kecantikan atau ketampanan, pun pula bukan oleh kebudayaan, suku, ras atau kebangsaannya. Tetapi mengapa kita masih menemukan banyaknya kasus pelanggaran martabat manusia? mengapa masih ada perbudakan? Mengapa masih ada pembantaian?


b. Guru mengajak peserta didik menyimak artikel berikut ini!

Harapan di Tengah Konflik Timor Leste


      Lagu “Te Wedding” berkumandang di Gereja St. Antonio Motael, Dili, Timor Leste, awal Juni tahun 2006. Sementara di luar gereja, derap langkah para tentara asing terdengar jelas.
      Lagu itu mengiringi perayaan Misa sebanyak 17 pasang perempuan dan lelaki muda. Tentulah perasaan bahagia itu melanda pasangan-pasangan yang hari itu mengucapkan janji setia dalam ikatan suami-istri. Dengan khidmat mereka mengikuti perayaan ekaristi yang dipimpin Pastor Antonio Alves.
      Walaupun tampak ceria, wajah-wajah khawatir tetap tidak disembunyikan,
baik wajah para pengantin maupun wajah para saksi, puluhan pengungsi yang
sudah berhari-hari memadati gereja. Bagaimana tidak, Misa dilakukan pada
saat Dili berada dalam situasi kacau. Kacau karena pertikaian yang terjadi di
antara petinggi militer, pemerintahan maupun politisi


Kekerasan Melawan Kelembutan


Sudah sejak Mei 2006, suasana negara yang baru merdeka empat tahun lalu Mitu kacau. Rumah-rumah penduduk hancur terbakar dan sarana transportasi yang vital seperti jembatan, putus. Namun, yang paling jelas akibat kekacauan itu adalah jumlah pengungsi yang semakin meningkat. Menurut Salvator Soares, Pemimpin Redaksi Suara Timor, jumlah pengungsi di berbagai daerah mencapai 130 ribu orang, di Dili sendiri jumlahnya lebih dari 80 ribu orang.

        Sudah sejak awal terjadinya pergolakan, Gereja menunjukkan posisinya. Mereka meminta pemerintah dan rakyat Timor Leste menghentikan kekerasan. Mereka juga mengajak umat untuk berdoa demi tercapainya perdamaian di Bumi Timor Leste. “Gereja Timor Leste mengutuk kekerasan yang menyebabkan kematian banyak orang dan membuat mereka harus meninggalkan rumah mereka. ‘ Demikian isi siaran Pers yang dikeluarkan Pastor Dominggus Soares kepada media di kantor keuskupan Dili, pada akhir Mei 2006. Kekerasan tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Ini juga ditekankan Pastor Aniceto Maia. Di depan para pengungsi yang mengikuti perayaan
ekaristi di Gereja St Antonio Motael, ia menyerukan homilinya. “Kita tidak bisa menjawab kekerasan dengan kekerasan. Aksi kekerasan terjadi karena sikap keras dibalas dengan kekerasan pula.” Untuk menghentikan kekerasan, ia meminta dengan kelembutan. “Kita sepatutnya membalas kekerasan dengan cinta dan kebenaran,” demikian homilinya. “Inilah saatnya bagi orang-orang Timor Leste untuk saling memaafan,” demikian homili Uskup Dili Mgr Alberto Ricardo da Silva di depan umat, ketika situasi semakin memburuk. “Lupakan penjarahan dan pembakaran. Kita harus belajar dari kekerasan ini supaya tidak terjadi lagi di masa mendatang.”

Doakan Timor Leste


Kekacauan yang terjadi di Timor Leste menjadi perhatian Paus Benediktus XVI. Dalam audiensi umum yang dihadiri 35 ribu umat di lapangan Santo Petrus Vatikan, Paus mengajak umat Timor Leste untuk menghentikan kekerasan dan berdamai.”Seluruh pikiran saya tujukan kepada bangsa Timor Leste yang terkasih. Kini Timor Leste sedang mengalami tekanan dan kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban dan kerusakan.”
Paus memuji Gereja Timor Leste, lembaga-lembaga katolik dan organisasi internasional yang tak henti-hentinya membantu para pengungsi. “Kita harus memberi semangat kepada Gereja Timor Leste untuk terus berkarya, bersamasama dengan organisasi-organisasi internasional untuk membantu usahausaha mereka menolong para pengungsi.” Lebih lanjut Paus Benediktus XVI berseru, ”Saya mengajak anda semua
untuk berdoa melalui Bunda Maria. Kita mohon dengan sifat keibuannya, Bunda tetap melanjutkan usaha orang-orang yang bekerja untu perdamaian bagi jiwa-jiwa dan kembalinya situasi menjadi normal.” (Silvia Marsidi: Majalah Hidup No. 28 Tahun ke-60)

c. Guru meminta peserta didik mengungkapkan tanggapannya terhadap kasus di atas dalam bentuk  

    pertanyaan untuk didiskusikan, berkaitan dengan tema keluhuran martabat manusia sebagai citra Allah !


d. Guru mengajak peserta didik melakukan diskusi kelompok dan menjawab pertanyaan- pertanyaan tersebut  

    dan mengemukakan contoh pelanggaran martabat manusia yang terjadi di daerahnya!


e. Setelah diskusi selesai, guru memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok 

    untuk mempresentasikan hasilnya. Kelompok lain dapat memberi tanggapan berupa 

    pertanyaan atau komentar kepada kelompok lain setelah semua kelompok selesai 

    presentasi.


f. Dibalik maraknya berbagai pelangggaran terhadap keluhuran matabat manusia, kita   

    bersyukur karena muncul juga tokoh-tokoh yang memberikan pikiran dan

    pelayanannya untuk membela dan memperjuangkan keluhuran martabat manusia.  

    Carilah informasi dari berbagai sumber tentang beberapa tokoh pejuang kemanusiaan 

    berikut ini, dan jelaskan pula nilai-nilai kemanusiaan apa yang diperjuangkannya!





1). Mahatma Gandhi


Mohandas Karamchand Gandhi biasa dipanggil Mahatma Gandhi (bahasa Sanskerta: “jiwa agung”) adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri. Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan,
yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai. Gandhi lahir pada 2 Oktober 1869 di negara bagian Gujarat di India. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Saat remaja, Gandhi pindah ke Inggris untuk mempelajari hukum. Setelah dia menjadi pengacara, dia pergi ke Afrika Selatan, sebuah koloni Inggris, di mana dia mengalami diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Dia
kemudian memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan. Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran. Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar
kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gandhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang
sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara. Pada 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Prinsip Gandhi, satyagraha, sering diterjemahkan sebagai “jalan yang benar” atau “jalan menuju kebenaran”, telah menginspirasi berbagai generasi, aktivis-aktivis demokrasi, dan anti-rasisme seperti Martin Luther King, Jr. dan Nelson Mandela. Gandhi sering mengatakan kalau nilai-nilai ajarannya sangat sederhana, yang berdasarkan kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa). Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepada Gandhi karena ia terlalu memihak kepada Muslim.


2). Ibu Teresa


Bunda Teresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu); lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910 – meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun) adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan
India yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 45 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta
Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata Teresa dari Kalkuta.
Pada 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra,
dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Pemerintah, organisasi sosial dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak sedikit flosof dan implementasi Bunda Teresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979. Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah. Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil. http://id.wikipedia.org/wiki/Bunda_Teresa



3). YB. Mangunwijaya


Sebagai seorang tokoh agama yang peduli pada nasib rakyat kecil, ia tak lelah membela hak-hak kaum yang tertindas. Seperti saat masyarakat Kedungombo menggugat penggusuran tanah mereka tanpa ganti rugi yang berarti karena di tanah yang akan mereka tempati akan dibuat sebuah waduk. Pada 5 Juli 1994, MA akhirnya mengabulkan tuntutan kasasi 34 warga Kedungombo dengan ganti rugi yang cukup besar. Namun niat baik rupanya tidak selalu ditanggapi dengan baik. Romo Mangun yang setia melakukan
pendampingan sejak tahun 1986 itu justru dituding berusaha melakukan Kristenisasi. Mendapat tudingan itu, pria yang pernah mengikuti kuliah singkat tentang kemanusiaan di Amerika Serikat itu hanya terdiam. Selain menaruh kepedulian yang tinggi pada nasib rakyat miskin, Romo Mangun juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli dengan
dunia pendidikan. “Anak-anak miskin yang tanpa sepengetahuan mereka terlempar lahir di kalangan kumuh, itulah yang sebetulnya lebih memerlukan pertolongan. Dari pengalaman itu saya mengambil kesimpulan bahwa prioritas selanjutnya yang ingin saya kerjakan adalah mengabdi kepada pendidikan dasar anak-anak miskin.” aku Romo.
Kekecewaan Romo Mangun terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Pada 19 Mei 1994, ia membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Sebelumnya, Romo Mangun membangun gagasan SD yang eksploratif untuk penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedungombo, Jawa Tengah, serta
penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta. Romo Mangun yakin bahwa interaksi saling ajar antar guru dan murid adalah hal yang paling menentukan keberhasilan pendidikan. Menurutnya, meski pendidikan tinggi di Indonesia tidak cukup baik, tapi lantas jangan meninggalkan pendidikan dasar. Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia Kedua (1966-1988) Orde Baru. Bahkan tak jarang ia bersuara lantang memprotes kesewenang-wenangan seperti pada 26 Mei 1998, Romo Mangun menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di
Yogyakarta. Namun sayang, semua kebaikannya harus terhenti karena kehendak Yang Maha Kuasa. Sosok pemuka agama yang santun dan bijak itu harus kembali ke haribaan-Nya ketika menghadiri sebuah acara. Kepergiannya terbilang tiba-tiba tetapi sangat tenang. Usai mengisi seminar ‘Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk

Masyarakat Indonesia Baru’ di Hotel Le Meridien, tubuhnya seketika limbung. Ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta. Namun tak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada Rabu, 10 Februari 1999 pukul 14:10 WIB akibat serangan jantung. Jenazahnya kemudian dimakamkan di makam biara komunitasnya di Kentungan, Yogyakarta. Kepergian Romo yang mendadak menyisakan rasa kehilangan yang teramat dalam bagi orang-orang yang pernah mengenal sosoknya.
Berbagai komentar dari tokoh masyarakat waktu itu, termasuk Mantan Presiden Republik Indonesia Ketiga (1998-1999) BJ Habibie, menunjukkan bahwa bangsa ini telah kehilangan seorang tokoh yang menjadi suri tauladan. Kebaikan, keteladan, ketekunan, dan jalan kebenaran yang ia tempuh, membuatnya dijadikan contoh oleh banyak orang. Tidak hanya untuk orang yang seiman, mereka yang berbeda keyakinan pun juga mengamini pendapat itu. Di mata kawan-kawannya, ia dikenal sebagai pejuang yang cinta perdamaian, yang memberikan perhatian lebih pada mereka yang menderita dan butuh bantuan.http://id.wikipedia.org/wiki/YBMangunwijaya/




4). Munir

Munir Said Talib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan
terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orangorang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.


Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu. Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini. Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi
Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfrmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya. http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Talib


g. Guru meminta peserta didik memilih salah satu tokoh dan menuliskan nilainilai yang

    diperjuangkan oleh tokoh tersebut, kemudian mempresentasikannya di depan kelas.

Langkah Kedua: Mendalami Ajaran Gereja dan Kitab Suci
yang Mengajarkan tentang Keluhuran Martabat Manusia
sebagai Citra Allah

a. Guru mengajak peserta didik menyimak kutipan dari Katekismus Gereja
    Katolik berikut:


KGK 357 Karena ia diciptakan menurut citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan karena rahmat ia sudah dipanggil ke dalam perjanjian dengan Penciptanya, untuk memberi kepada-Nya jawaban iman dan cinta, yang tidak dapat diberikan suatu makhluk lain sebagai penggantinya.

KGK 358 Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia (Bdk. GS 12,1;24,2; 39,1), tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepadaNya: “Makhluk manakah yang diciptakan dengan martabat yang demikian itu? Itulah manusia, sosok yang agung, yang hidup dan patut dikagumi, yang dalam mata Allah lebih bernilai daripada segala makhluk. Itulah manusia; untuk dialah langit dan bumi dan lautan dan seluruh ciptaan. Allah sebegitu prihatin dengan keselamatannya, sehingga Ia tidak menyayangi Putera-Nya yang tunggal untuk dia. Allah malahan tidak ragu-ragu, melakukan segala sesuatu,
supaya menaikkan manusia kepada diri-Nya dan memperkenankan ia duduk di sebelah kanan-Nya”(YohanesKrisostomus,Serm.inGen.2,1).

KGK 360 Umat manusia merupakan satu kesatuan karena asal yang sama. Karena Allah “menjadikan dari satu orang saja semua bangsa dan umat manusia” (Kis 17:26) Bdk. Tob8:6. Pandangan yang menakjubkan, yang memperlihatkan kepada kita umat manusia dalam kesatuan asal yang sama dalam Allah dalam kesatuan kodrat, bagi semua disusun sama dari badan jasmani dan jiwa rohani yang tidak dapat mati dalam kesatuan tujuan yang langsung dan tugasnya di dunia; dalam kesatuan pemukiman di bumi, dan menurut hukum kodrat semua manusia berhak menggunakan hasil-hasilnya,
supaya dengan demikian bertahan dalam kehidupan dan berkembang; dalam kesatuan tujuan adikodrati: Allah sendiri, dan semua orang berkewajiban untuk mengusahakannya: dalam kesatuan daya upaya, untuk mencapai tujuan ini;… dalam kesatuan tebusan, yang telah dilaksanakan Kristus untuk semua orang” (Pius XII Ens. “Summi Pontifcatus”) Bdk. NA 1.


KGK 361 “Hukum solidaritas dan cinta ini” (ibid.) menegaskan bagi kita, bahwa kendati keaneka-ragaman pribadi, kebudayaan dan bangsa, semua manusia adalah benar-benar saudara dan saudari.

KGK 362 Pribadi manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani. Teks Kitab Suci mengungkapkan itu dalam bahasa kiasan, apabila ia mengatakan: “Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Manusia seutuhnya dikehendaki Allah

b. Guru meminta peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk merumuskan nilai-nilai

    atau ajaran yang hendak diwartakan melalui kutipan-kutipan di atas.

c. Guru mengajak peserta didik untuk membaca dan merenungkan beberapa teks Kitab

    Suci berikut:


Kej 1: 26 - 27

26 Berfrmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfrman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Gal 3: 28


28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.


Orang Samaria Yang Murah Hati (Luk 10: 25 – 37)

25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya:
“Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?” 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan,
tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya
setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

d. Dalam kelompok, peserta didik diminta menanggapi keterkaitan teks-teks
    Kitab Suci di atas, dengan pemahaman tentang manusia Citra Allah.

e. Bila dianggap perlu, guru dapat memberikan pertanyaan untuk didiskusikan,
    misalnya:
• Apa yang dimaksud dengan manusia diciptakan sebagai gambar Allah
  (Citra Allah)?
• Apa keunggulan manusia dibandingkan ciptaan Allah yang lain?
• Berdasarkan kutipan di atas, siapa yang dimaksud dengan saudara?
• Buatlah sebuah rumusan yang menunjukkan sejauh mana kalian sudah
  menghayati keberadaan dirinya sebagai Citra Allah!
• Bagaimana pandangan kalian dengan pernyataan bahwa semua manusia satu saudara?

f. Guru memberi kesempatan peserta didik memplenokan hasil kelompoknya,
    kelompok lain menangggapi.

g. Setelah pleno, sejauh diperlukan, guru dapat memberikan peneguhan sebagai berikut:
• Kata Citra mungkin lebih tepat kita artikan sebagai Gambaran. Yang menggambarkan!  Kalau kita mirip dengan ibu kita, itu tidak berarti kita sama dengan ibu kita . Tetapi dengan mirip ini mau menggambarkan sesuatu, bahwa pada diri kita entah itu fsiknya, karakternya, sifat sifatnya ada kesamaan dengan ibu. Dan kesamaan ini bukan dalam arti
yang sebenarnya, tetapi merupakan gambaran dari ibu. Hasil karya, entah itu seni atau yang lainnya dapat menggambarkan si penciptanya. Demikian pula makhluk yang disebut manusia itu, dapat dikatakan sebagai gambaran atau citra si penciptanya, yaitu Allah sendiri.
• Manusia diberi kuasa untuk menguasai alam ciptaan lain. Menguasai alam berarti menata, melestarikan, mengembangkan, dan menggunakannya secara bertanggungjawab.
• Karena manusia diciptakan sebagai Citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas diri sendiri, mengabdikan diri dalam kebebasan, dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain, dan dipanggil membangun relasi dengan Allah, pencipta-Nya.
• Persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang dihayati atas dasar persamaan kodrat sebagai sesama ciptaan Tuhan dan persamaan kodrat sebagai Citra Allah.
• Persaudaraan sejati tidak membedakan orang berdasarkan agama, suku, ras, ataupun golongan, karena semua manusia adalah sama-sama umat Tuhan dan sama-sama dikasihi Tuhan. Maka setiap orang yang membenci sesamanya, ia membenci Tuhan.

h. Rumuskan pokok-pokok ajaran yang terdapat dalam Katekismus di atas dalam  

    bahasamu sendiri





i. Rumuskan Kesimpulan keseluruhan gagasan yang dipelajari dengan menjawab 

   beberapa pertanyaan berikut:
• Mengapa manusia disebut bermartabat luhur, dimana letak keluhuran martabatnya?
• Apa konsekuensi kedudukan manusia yang bermartabat luhur dalam relasinya dengan  

  Sang Pencipta dan dalam hubungan dengan sesama?
• Sikap/tindakan apa saja yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur martabat manusia?
• Sikap dan tindakan apa saja yang perlu dikembangkan dalam rangka menjunjung tinggi 

   keluhuran martabat manusia?


Langkah Ketiga: Menghayati Keberadaan Diri Sebagai Citra
Allah

a. Guru memberi mengajak peserta menyimak kisah kunjungan ke panti asuhan,
    sebagai berikut:

Pengalaman Kunjungan ke Panti Asuh

SURABAYA – Tiga hari sudah Trevor Ariza membagi keceriaan dan tawa kepada warga Surabaya. Dia menghibur penggila basket Kota Pahlawan di venue NBA Madness presented by Jawa Pos serta menyapa penggemarnya dalam berbagai meet and greet yang diadakan sponsor

       Kemarin (3/7), dia menjadi duta sosial dengan menunjukkan kepeduliannya kepada sesama lewat program sosial NBA Cares di Panti Asuhan Diponegoro. Rombongan Ariza tiba di panti asuhan yang berlokasi di kawasan Balongsari itu sekitar pukul 10.30. Ariza datang bersama pasangannya, Bree Anderson; Senior Director Business Development & Marketing Partnerships NBA Asia Ed Win kle beserta istri, Sukanya Winkle; Director Events and At tractions NBA Asia Ritchie Lai; Direktur Jawa Pos Azrul Ananda; serta beberapa staf NBA yang lain. Begitu tiba di panti asuhan yang menampung 60 anak yatim piatu itu, Ariza dan rombongan disambut musik hadrah. Musik tersebut dimainkan
anak-anak penghuni panti yang mengenakan seragam bernuansa oranye. Dua anak kecil, Firmansyah Anda Satria dan Kartika Rizki, menyongsong Ariza dan memakaikan kafyeh segi tiga bermotif kotak-kotak ke pundak Ariza. Sambutan di dalam ruang panti lebih bersahaja. Semua duduk di lantai beralas karpet hijau. Kemudian, Gholib, kepala Panti Asuhan Diponegoro, memberikan penjelasan kepada Ariza dan rombongan mengenai kondisi panti asuhan yang terletak di tengah-tengah permukiman penduduk itu. Gholib
menjelaskan bahwa Panti Asuhan Diponegoro menampung anak-anak yatim piatu dari usia TK hingga SMA. Setelah lulus SMA, mereka harus keluar dari panti asuhan. ’’Karena itu, kami harap kehadiran Ariza bisa memotivasi mereka untuk meraih kesuksesan,’’ katanya. Ariza lantas mengelilingi panti asuhan tersebut. Dia juga mengamati sejumlah ruang tidur beserta pernik-perniknya. Pemain Houston Rockets itu
juga tertarik pada sejumlah poster berisi kata-kata motivasi. Misalnya, agar
anak rajin belajar serta menjadi orang yang berguna. Ariza dan rombongan kemudian berjalan melalui sebuah gang sempit ke sebidang tanah di bagian belakang panti asuhan. Di sana, dia meresmikan sebuah lapangan basket yang dibangun NBA Cares untuk anak-anak penghuni panti dan masyarakat sekitar.


Peresmian lapangan basket tersebut ditandai dengan pembukaan selubung ring basket bertulisan NBA Cares oleh Ariza, Azrul, dan Gholib. Ariza juga membubuhkan tanda tangan berikut namanya di papan ring berwarna putih tersebut serta memberikan bola basket yang sudah dia tandatangani. Sebagai bagian dari peresmian, Gholib dan Ketua Yayasan Panti Asuhan Diponegoro Muljono menembakkan bola ke ring. Kemarin, Dell sebagai salah satu partner NBA Madness juga menyerahkan bantuan empat unit komputer kepada panti asuhan. Penyerahan itu dilakukan secara simbolis oleh Channel Manager-Consumer Business Dell Indonesia Wijono. Rencananya, dua komputer untuk penghuni perempuan dan dua lainnya khusus untuk penghuni laki-laki. Kunjungan ke panti asuhan tersebut juga sangat berkesan bagi Ariza. Sebab merupakan pengalaman pertama dia berkunjung langsung ke panti asuhan, meski dirinya berkali-kali bertemu anak-anak yatim piatu dan panti asuhan dalam berbagai acara. ’’Di Amerika pun, saya belum pernah melakukannya. Jadi, ini pengalaman yang sangat berharga,’’ ujarnya.
Sumber: dblindonesia.com 1ball.wordpress.com/2010/07/25/pengalaman-pertama-ke-panti-asuhan/

b. Masih dalam suasana hening, guru mengajak peserta menemukan pesan yang
    menyentuh yang terdapat dalam artikel koran di atas

c. Guru menugaskan peserta didik untuk membuat program/membuat aksi nyata yang 

    menunjukkan kepedulian terhadap sesama yang berkebutuhan khusus/ sesama yang  

    kurang beruntung.

Doa Penutup


Guru mengajak para peserta didik untuk mendaraskan bersama Mzm 104 berikut ini:

Kebesaran Tuhan dalam Segala Ciptaannya

1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau
yang berpakaian keagungan dan semarak, 2 yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, 3 yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awanawan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin, 4 yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala
sebagai pelayan-pelayan-Mu, 5 yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya. 6 Dengan samudera raya Engkau telah menyelubunginya; air telah naik melampaui gunung-gunung. 7 Terhadap hardik-Mu air itu melarikan diri, lari kebingungan terhadap suara guntur-Mu, 8 naik gunung, turun lembah ke tempat yang Kau tetapkan bagi mereka. 9 Batas Kau tentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi. 10 Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung,
11 memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan;
12 di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan. 13 Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar lotengMu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu. 14 Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah 15 dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri
karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. 16 Kenyang pohon-pohon TUHAN, pohon-pohon aras di Libanon yang ditanamNya, 17 di mana burung-burung bersarang, burung ranggung yang rumahnya di pohon-pohon sanobar; 18 gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. 19 Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu akan saat terbenamnya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. Amin









Penilaian
Aspek Pengetahuan
1. Apa arti manusia itu unik?
2. Dalam hal apa manusia disebut unik menurut Kitab Suci ?
3. Sikap apa saja yang perlu dikembangkan dalam menghadapi 

    kemampuan dan keterbatasan yang kamu miliki?
4. Apa pesan perumpamaan talenta dalam upaya mengembangkan 

    talenta yang kamu miliki ?
5. Berilah contoh kasus pelanggaran terhadap martabat perempuan

    yang sering terjadi dalam masyarakat kita? Jelaskan pula faktor penyebabnya !
6. Kemukakan pendapatmu terhadap pernyataan bahwa laki-laki itu lebih hebat
    dari pada perempuan!

7. Bersyukur karena diciptakan sebagai perempuan atau laki-laki, selayaknya  diwujudkan

    dengan mengembangkan diri menjadi perempuan sejati dan laki-laki sejati. Apa saja

    yang mencirikan seseorang layak disebut perempuan sejati atau laki-laki sejati?
8. Tunjukkan melalui contoh bahwa relasi perempuan dan laki-laki itu bersifat
    komplementer (saling melengkapi)!
9. Bertolak dari pemahamanmu atas Kejadian 2: 18 – 23, jelaskan alasan perempuan dan

    laki-laki dikatakan sederajat?
10. Bila manusia itu citra Allah, sikap apa yang harus dikembangkan dalam relasi
      antar manusia?
11. Mengapa tindakan diskriminatif bertentangan dengan paham manusia
      sebagai Citra Allah?
12. Kegiatan apa saja yang perlu dilakukan dalam upaya mengembangkan
      kesederajatan antara perempuan dan laki-laki?

Aspek Keterampilan:
1. Membuat doa syukur (atau puisi, atau renungan)sebagai ungkapan syukur karena 

    diciptakan sebagai pribadi yang unik, atas segala kemampuan dan keterbatasan, atas 

     keluhurannya sebagai Citra Allah.
2. Membuat simbol diri yang mengungkapkan keadaan dirinya sebagai Citra Allah 

    dengan kemampuan dan keterbatasannya
3. Melakukan studi literatur untuk memperoleh pemahaman tentang keunikan manusia, 

    tentang kesederajatan perempuan dan laki-laki, tentang perbedaan perempuan dan laki-

    laki, tentang panggilan sebagai perempuan dan laki-laki
4. Melakukan diskusi untuk membahas tema “manusia sebagai makhluk pribadi”

Aspek Sikap
1. Menerima diri dan bersyukur atas kebaikan Allah yang telah menciptakan dirinya

    sebagai pribadi yang unik, yang bermartabat luhur sebagai Citra Allah, entah sebagai 

    laki-laki atau perempuan yang sederajat, yang memiliki kemampuan dan keterbatasan.
2. Bersikap hormat terhadap sesama manusia Citra Allah, entah laki-laki dan
    perempuan,
3. Menerima dan menghormati sesama apa adanya sebagai pribadi entah sebagai
    laki-laki maupun perempuan, yang memiliki kemampuan dan kekurangannya








Pengayaan
Peserta didik mencari dari berbagai sumber (mass media cetak maupun elektronik, tokoh agama, tokoh masyarakat, teman sebaya, orang tua, dan sebagainya) untuk memperoleh informasi, atau pengalaman atau paham/ pandangan, yang berkaitan dengan tema: keunikan manusia sebagai pribadi Citra Allah, relasi dan kesederajatan perempuan dan laki-laki, pengembangan kemampuan dan keterbatasan, dalam upaya mengembangkan diri menuju kesempurnaannya. Hal itu dapat dilakukan dengan studi literatur, pengamatan, survei, wawancara dan teknik pengumpualan data yang dikuasai peserta didik.

Remedial
Remedial diarahkan pada penguasaan indikator-indikator kunci pada bab ini, antara lain:
1. Menjelaskan makna manusia sebagai pribadi yang unik
2. Menjelaskan sikap yang perlu dikembangkan dalam menghadapi kemampuan
    dan keterbatasan
3. Menyusun doa tertulis yang mengungkapkan rasa syukur atas anugerah Allah yang 

    telah menciptakan dirinya sebagai pribadi Citra Allah yang unik, entah sebagai laki- 

    laki atau perempuan
4. Menjelaskan pesan perumpamaan talenta dalam upaya mengembangkan
    talenta yang dimiliki
5. Menjelaskan pesan Kitab Suci dalam kaitan dengan perlunya membangun kesetaraan 

    antara perempuan dan laki-laki
6. Menjelaskan konsekuensi keberadaan manusia sebagai Citra Allah dalam
    mengembangkan sikap terhadap sesama




                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                           Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                                          BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                         NIP.19660826 200501 1 001





Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001













MODUL KELAS X MATERI 5

Suara Hati


Capaian Pembelajaran
3.5. Memahami sikap dan perilaku patuh terhadap suara hati dan dapat bertindak
      secara benar dan tepat
4.5. Berperilaku patuh terhadap suara hati dan dapat bertindak secara benar dan tepat
Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mendalami kisah boy dan sharing tentang pengalaman bertindak sesuai suara

    hati, peserta didik dapat memahami makna suara hati dilihat dan berbagai segi.
2. Setelah mendalami pandangan Gereja (GS art. 16) dan Kitab Suci (Gal 5: 16 – 25), 

    peserta didik dapat menjadikan suara hati sebagai hukum yang utama.
3. Setelah mendalami proses tentang bertindak berdasarkan suara hati, peserta didik dapat 

    membuat refleksi dan motto/stiker tentang penghayatannya berdasarkan suara hati.
Indikator
1. Menjelaskan arti dan makna suara hati
2. Menceritakan pengalaman bertindak berdasarkan suara hati.
3. Menjelaskan pandangan Gereja tentang Suara Hati (GS, art. 16).
4. Menyebutkan faktor-faktor penyebab tumpulnya suara hati.
5. Merumuskan cara-cara untuk membina suara hati.
6. Menafsirkan pesan Kitab Suci (Gal 5:16-25) yang berhubungan dengan suara hati.
7. Menuliskan refleksi yang mengungkapkan niat untuk melakukan segala sesuatu 

    menuruti suara hatinya.
Bahan Kajian
1. Arti dan makna suara hati
2. Pengalaman bertindak berdasarkan suara hati.
3. Pandangan Gereja tentang Suara Hati (GS, art. 16).
4. Faktor-faktor penyebab tumpulnya suara hati.
5. Cara untuk membina suara hati..
6. Pesan Kitab Suci (Gal 5:16-25) yang berhubungan dengan suara hati.
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifik


Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi
Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. http://www.petrafmjogja.com/2012/11/16/kisah-inspirasi-kios-suara-hati/
3. Kitab Suci: Galatia 5: 16 - 25
4. Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar, masalah-masalah pokok flsafat dasar,
Yogyakarta, Kanisius, 1991
5. Higgin, Gregory C. Dilema Moral Jaman Ini., Yogyakarta, Kanisius, 2006.
6. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik
    untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius, 2008.

7. Kristianto. Yoseph, dkk., Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan Agama
    Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kansius , 2010
8. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
9. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
Waktu
6 Jam Pelajaran
Pemikiran Dasar

Perkembangan sosial yang begitu cepat banyak membawa perubahan dalam berbagai 

aspek kehidupan, demikian juga persoalan-persoalan yang ditimbulkannya. Persoalan-persoalan tersebut membutuhkan pemecahan yang tepat. Di samping itu banyak tata nilai yang mengalami perubahan, seperti ketaatan, sopan santun, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dsb. sering menjadi kabur. Berhadapan dengan situasi itu kaum remaja perlu mendapatkan pendampingan, sehingga tidak salah dalam mengambil keputusan. Mereka harus belajar membuat keputusan dengan mendengarkan suara hati atau hati nuraninya.
Suara hati secara luas dapat diartikan sebagai keinsafan akan adanya kewajiban. Hati nurani merupakan kesadaran moral yang timbul dan tumbuh dalam hati manusia, sedangkan hati nurani secara sempit dapat diartikan sebagai penerapan kesadaran moral dalam situasi konkret, yang menilai suatu tindakan manusia atas buruk baiknya. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.


     Suara hati atau hati nurani merupakan daya atau kemampuan khusus untuk membedakan perbuatan baik atau perbuatan buruk, serta menilai baik-buruknya perbuatan itu berdasarkan akal budi. Conscience atau hati nurani merupakan hasil dialog pribadi kita yang terdalam dengan Allah ketika kita menghadapi dan menanggapi situasi hidup sehari – hari. Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita ada dua hukum,
yaitu hukum Allah dan hukum dosa. Kedua hukum itu saling bertentangan. Hukum Allah menuju kepada kebaikan, sedangkan hukum dosa menuju kepada kejahatan. Santo Paulus menyadari bahwa selalu ada pergulatan antara yang baik dan yang jahat dalam hati manusia (lih. Rom 7: 13–26). Sementara dalam suratnya kepada jemaat di Galatia 5: 17 Santo Paulus mengatakan bahwa kita harus memberikan diri dipimpin oleh Roh. Kita harus berusaha memenangkan hati nurani kita dan mengalahkan kecenderungan kita
yang menyesatkan. Kita harus peka terhadap sapaan dan rahmat Allah.

     Selanjutnya, Gereja melalui Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes Art. 16, antara lain dikatakan, “Tidak jarang terjadi, bahwa hati nurani keliru karena ketidaktahuan yang tak teratasi. Karena hal itu, ia tidak kehilangan martabatnya. Hal itu sebenarnya tak perlu terjadi kalau manusia berikhtiar untuk mencari yang benar dan baik”. Itu artinya manusia tidak boleh tunduk dan mengalah pada situasi yang membelenggu suara hati. Dengan bantuan Roh Allah kita dimampukan untuk mengalahkan kekuatan dahsyat yang menguasai suara hati kita, yang oleh Santo Paulus dinamai kuasa/ keinginan daging.











Kegiatan Pembelajaran
Doa Pembuka


Doa Kehendak Yang Kuat (PS 144)

Ya Allah, Engkau telah memberikan kehendak yang kuat pada Yesus, Tuhan kami.
Tanpa takut atau goyah, Engkau berpegang pada kehendak-Mu, harus menanggung pengorbanan yang berat. Tatkala digoda iblis, Ia tidak goyah. Demikian pula ketika harus menderita sengsara sampai mati. Bunda Maria pun Kauberikan kepada kami sebagai panutan yang berkehendak kuat. Berilah kami kehendak yang kuat, agar pada saat goyah kami tidak berbelok arah. Semoga kami tidak kecil hati menghadapi aneka kesulitan dan tantangan. Allah, gunung batu kami, berilah kami kehendak yang kuat laksana batu karang, yang tetap tegar meski diterpa gelombang. Semoga kami tetap teguh, bila kami digoda untuk menyeleweng, Bila kami dibujuk untuk menipu dan berlaku tidak jujur, Bila kami digoda untuk munafk, berbuat dosa, mencuri, berkhianat, Terlebih bila kami digoda untuk mengkhianati kasih-Mu. Ya Allah, kekuatan kami, buatlah kami kuat, Seperti Yesus yang lebih suka mati, dari pada menyimpang dari kehendakMu
Dialah Tuhan, Pengantara kami, kini dan sepanjang masa, AMIN.

Langkah Pertama: Mendalami Pergumulan Suara Hati
Dalam Pengalaman Sehari-hari

a. Guru memulai proses dengan memberi pengantar singkat, misalnya: “Hidup manusia sangatlah berbeda dengan ciptaan Tuhan lainnya, seperti hewan atau tumbuhan. Ada saat di mana manusia harus mengalami pergumulan atau pergulatan ketika hendak melakukan suatu tindakan, terutama ketika ia harus mengambil keputusan: apakah tindakannya layak dilakukan atau tidak, apakah yang dilakukan itu benar atau salah, apakah tindakan itu akan merugikan sesama atau tidak. Kemampuan itu nampaknya tidak dimiliki ciptaan Tuhan lainnya, karena tindakan mereka lebih diarahkan oleh instink. Kemampuan bergulat dalam dirinya sendiri sebelum dan sesudah melakukan kegiatan itu disebabkan manusia memiliki suara hati, atau suara batin atau hati nurani yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.”

b. Guru mengajak peserta didik menyimak artikel di bawah ini :


Pergumulan hati

Boy mendafarkan pada suatu sekolah, di mana sekolah itu mempunyai peraturan yang sangat ketat dan tegas, terutama berkaitan dengan nilai kejujuran. Ia harus menandatangani pernyataan yang menyatakan: “saya tidak akan mencontek atau tidak akan mentolerir mereka yang melakukannya.” Setiap peserta didik harus melaporkan kepada pimpinan sekolah, bila ada peserta didik yang mencontek. Bila mereka ketahuan mencontek, maka mereka harus angkat kaki dari sekolah itu atau jika mereka melihat ada yang mencontek, tetapi pura-pura tidak tahu merekapun akan kena sanksi yang cukup tegas. Pada suatu ketika, Boy mengikuti ujian akhir. Ia merasa kesulitan menjawab soal-soal yang ada di hadapannya dan ia juga melihat beberapa temannya mulai mencontek. Ia mulai gelisah. Jika ia tidak dapat menjawab soal di hadapannya dengan baik, ia pasti tidak lulus. Timbul keinginan dalam dirinya untuk mengikuti apa yang dilakukan beberapa temannya. Terjadi pergulatan dalam dirinya, apakah ia mau ikut-ikutan nyontek atau tidak. Kalau nyontek, ia kemungkinan lulus, tapi kalau ketahuan ia pasti dikeluarkan. Bila tidak, ia harus siap dengan kemungkinan tidak lulus.
Sumber: Bayu


c. Peserta didik diminta memberikan tanggapan atau kesan dari kasus di atas?
d. Guru mengajak peserta didik mensharingkan satu pengalaman dirinya saat
    mengalami pergulatan suara hati.
e. Guru menugaskan kelompok untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya
    dari buku-buku atau browsing dari internet tentang:
• Makna suara hati
• Cara kerja suara hati
• Mengapa suara hati bisa tumpul
• Cara membina suara hati supaya tidak tumpul

Langkah kedua: Mendalami Ajaran Gereja dan Kitab Suci
Tentang Suara Hati

Guru mengajak peserta didik mendalami teks-teks Kitab Suci berikut

Roma 8:31-38. 9:1

31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di
pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? 32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? 33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang
membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? 34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? 35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? 36 Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” 37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat,
maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan
datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada
dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. 1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,


Roma 13: 1-7


1 Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. 2 Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. 3 Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya
jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. 4 Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. 5 Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. 6 Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. 7 Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

II Korintus 1:12

12 Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.

Titus 1:15

15 Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.

b. Peserta didik melanjutkan membaca kutipan Dokumen Konsili Vatikan II
    Gaudium et Spes, berikut ini!

Gaudium et Spes, art. 16

“Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, melainkan harus ditaati. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jalankan ini, elakkan itu. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu, dan menurut hukum itu pula ia akan diadili.


     Suara hati ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar suci; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang pesan-Nya menggema dalam hatinya. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama. Atas kesetiaan terhadap hati nurani, umat Kristiani bergabung dengan sesama lainnya untuk mencari kebenaran, dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam
kehidupankemasyarakatan.”

c. Setelah mendalami kutipan-kutipan di atas, coba rumuskan bersama dalam
    kelompok beberapa hal penting berikut:
• Apa suara hati itu menurut kutipan-kutipan di atas?
• Bagaimana cara kerja suara hati?
• Apa hubungan suara hati dengan Allah? dan apa konsekuensinya?
• Apa hubungan suara hati dengan Roh Kudus?
• Apa hubungan suara hati dengan kasih kepada sesama?
• Apa fungsi suara hati berkaitan dengan persoalan dalam masyarakat?
• Tunjukkan berbagai kasus di dalam masyarakatmu atau dalam negara kita yang 

   menunjukkan bahwa banyak orang yang sudah tumpul suara hatinya! jelaskan juga 

   dampaknya bagi masyarakat maupun bangsa kita! jelaskan pula dampaknya bagi  

   generasi muda !

d. Sejauh perlu, setelah presentasi dari tiap kelompok, guru dapat menyampaikan
    beberapa gagasan berikut:




• Hati nurani sendiri dapat diartikan secara luas dan secara sempit.
Arti luas: Dalam arti luas hati nurani berarti kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia. Keinsyafan akan adanya kewajiban.
Arti sempit: Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral di atas dalam situasi konkret seperti yang dialami Boy dalam kisah tadi. Suara hati yang menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru.
• Suara hati adalah suara Allah, maka melawan suara hati berarti melawan Allah. Agar kita setia pada kehendak Allah kita perlu bersatu dengan Roh Kudus dan mengandalkan kekuatannya


• Kerja suara hati dapat ditinjau dari berbagai segi:
Segi waktu
1). Hati nurani dapat berperanan sebelum suatu tindakan dibuat. Biasanya, hati nurani 

     akan menyuruh kalau perbuatan itu baik dan melarang kalau perbuatan itu buruk.
2). Hati nurani dapat berperan pada saat suatu tindakan dilakukan. Ia akan terus 

      menyuruh jika perbuatan itu baik dan melarang jika perbuatan itu buruk atau jahat.

3). Hati nurani dapat berperan sesudah suatu tindakan dibuat. Hati nurani akan “memuji” 

      jika perbuatan itu baik dan hati nurani akan membuat kita gelisah atau menyesal jika 

      perbuatan itu buruk atau jahat.
Segi benar-tidaknya
1). Hati nurani benar, jika kata hati kita cocok dengan norma objektif.
2). Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyebutkan
      contoh, misalnya: menolong orang yang sedang mengalami musibah.
3). Hati nurani keliru, jika kata hati kita tidak cocok dengan norma objektif
Segi pasti-tidaknya
1). Hati nurani yang pasti, artinya, secara moral dapat dipastikan bahwa   hati nurani tidak 

      keliru.
2). Hati nurani yang bimbang, artinya, masih ada keraguan.
• Penyebab tumpulnya suara hati berikut ini:
1). Orang yang bersangkutan tidak biasa menghiraukan hati nuraninya.
2). Orang yang selalu bersifat ragu-ragu atau bingung.
3). Pandangan masyarakat yang keliru. Misalnya: riba dianggap biasa!
4). Pengaruh pendidikan dalam lingkungan keluarga atau lingkungan lainnya.
5). Pengaruh propaganda, mass media dan arus massa.
6). Cara kerja suara hati, antara lain:
• Sebelum bertindak, ia berfungsi sebagai petunjuk (indeks), yang mengingatkan   pengetahuan kita bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Sesungguhnya kesadaran moral semacam ini sudah dimiliki setiap orang dewasa.
• Pada saat-saat menjelang bertindak, ia bertindak sebagai hakim (iudeks), yang menyuruh kita melakukan yang baik dan melarang/menghindari yang jahat. Selama perbuatan itu belum selesai, suara hati akan bekerja terus antara menyuruh melakukan yang baik dan melarang melakukan yang jahat.
• Sesudah tindakan selesai dilakukan, ia berfungsi memberikan vonis (vindeks), yang akan menyatakan apakah perbuatan kita itu tepat atau tidak tepat. Bila yang kita lakukan itu benar, ia akan memberikan pujian sehingga kita merasakan ketenangan, tetapi bila yang kita lakukan itu yang jahat dan salah maka ia akan memberikan hukuman, yang membuat kita merasa bersalah dan tidak tenang, merasa dikejar-kejar kesalahan, dan
sebagainya.
7). Lewat hati nuraninya yang bersih, setiap orang dipanggil untuk bekerjasama memecahkan persoalan-persoalan dalam masyarakat, sehingga persoalan-persoalan dalam masyarakat seharusnya dipecahkan pertama-tama melalui dialog yang dilandasi hati nurani, karena hati nurani adalah suara Allah. Jangan langsung didekati
secara agama masing-masing atau melalui hukum. Contoh: ketika menangkap orang yang mencuri pisang hanya beberapa biji, menurut hukum wajib dikenai hukuman. Tetapi bisa jadi bila didekati secara nurani, akan muncul belas kasihan sehingga pencuri itu diampuni. Contoh lain: bila ada pasangan muda-mudi berbeda agama mau menikah, menurut hukum Perkawinan Negara dilarang, tetapi bila menuruti hati nurani mungkin orang akan berpikir mengapa cinta harus dibatasi dengan peraturan?
8). Suara hati dapat dibina dengan cara:
Mengikuti suara hati dalam segala hal
• Seseorang yang selalu berbuat sesuai dengan hati nuraninya, hati nurani akan semakin

                      terang dan berwibawa.
                  • Seseorang yang selalu mengikuti dorongan suara hati, keyakinannya akan menjadi sehat  

                     dan kuat. Dipercayai orang lain, karena memiliki hati yang murni dan mesra dengan   

                     Allah. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan memandang  

                     Allah.” (Mat 5: 8).
Mencari keterangan pada sumber yang baik
• Dengan membaca: Kitab Suci, Dokumen-Dokumen Gereja, dan   buku-buku lain 

  yang bermutu.
• Dengan bertanya kepada orang yang punya pengetahuan/ pengalaman dan dapat 

  dipercaya
• Ikut dalam kegiatan rohani, misalnya rekoleksi, retret, dsb.
• Koreksi diri atau introspeksi
• Koreksi atas diri sangat penting untuk dapat selalu mengarahkan hidup kita.
Menjaga kemurnian hati
• Menjaga kemurnian hati terwujud dengan melepaskan emosi dan nafsu, serta tanpa

   pamrih, yang nampak dalam tiga hal:
a). Maksud yang lurus (recta intentio): ia konsisten dengan apa yang direncanakan, tanpa

     dibelokkan ke kiri atau ke kanan.
b). Pengaturan emosi (ordinario affectum): ia tidak menentukan keputusan secara 

      emosional.
c). Pemurnian hati (purifcation cordis): tidak ada kepentingan pribadi atau maksud-

     maksud tertentu di balik keputusan yang diambil.
• Hal ini dapat dilatih dengan penelitian batin, seperti merefleksikan rangkaian kata dan 

   tindakan sepanjang hari itu, berdoa sebelum melakukan aktivitas, dan lain-lain.


Langkah Ketiga: Menghayati Suara Hati Sebagai Pedoman
dalam Mengambil Keputusan.

a. Guru mengajak peserta didik membaca dan merenungkan uraian berikut 

    dalam suasana  hening

Suara hati adalah tempat di mana Allah membisikkan apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Maka, menaati suara hati sama artinya menaati Allah sendiri. Ketaatan kepada suara hati atau ketaatan kepada Allah itu perlu dilatihkan
mulai dari hal-hal kecil. Banyak orang tahu bahwa berbohong itu tidak baik tetapi banyak orang terbiasa melakukannya. Kalau kebiasaan itu tidak dikikis sejak awal, maka
kebiasaan tersebut akan terbawa seumur hidup. Bahkan awalnya berbohong kecil-kecilan 

                    bisa menjadi bohong besar dan penipuan.
                    









                   Resapkanlah cerita berikut:


“Kios Suara Hati”


Beberapa waktu yang lalu pernah muncul sebuah kisah menarik yang ditayangkan dalam berita televisi di Taiwan. Di pegunungan Alishan ada sebuah tempat yang bernama Rueili. Seutas jalan yang menghubungkan Chiay dan Alishan melewati daerah ini.
Di pinggir jalan ada sebuah tempat penjualan sayur-sayuran segar, sayuran yang tumbuh dan mendapat pupuk organik alamiah tanpa bahanbahan kimia yang dewasa ini disinyalir oleh dunia medis sebagai unsur yang bisa mendatangkan kanker. Di samping sayur mayur, ada juga buah-buahan segar dijajar dalam kios kecil itu. Namun anehnya, kios itu terbuka selama 24 jam sehari dan tak pernah ditutup. Lebih aneh lagi, tak ada seorangpun yang duduk di sana melayani para pembeli. Dafar harga per kilogram dari masing-masing barang tertulis jelas. Sebuah alat timbang terletak di atas meja. Sebuah tong yang dibuat dari kayu ditinggalkan di salah satu sudut. Dalam tong kayu ini terdapat lembaran uang kertas serta uang logam yang dimasukan oleh para pembeli.
Di luar kios tersebut tertulis dalam huruf Cina; “Kios Suara Hati.” Seorang ibu tua, penduduk asli di daerah pegunungan Alishan, ketika ditanya oleh wartawan TV berkata; “Lewat kios kecil ini saya ingin mendidik setiap orang untuk menghormati suara hati masing-masing. Di sini tak ada orang yang menjaga. Namun saya yakin, suara hati setiap orang akan meneguhkan atau mengadili bila ia berbuat sesuatu.
http://www.petrafmjogja.com/2012/11/16/kisah-inspirasi-kios-suara-hati/

Santo Paulus, ketika ditangkap dan dijebloskan ke penjara, di depan umum dengan bangga dan berani berkata: “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” (Kis 23:1) lebih lanjut dia mengatakan: “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang 

                    murni di hadapan Allah dan manusia”. (Kis 24:16)

Pikirkanlah, kebiasaan apa saja yang ingin kalian tinggalkan agar suara hatimu tetap suci murni. Katakan hal itu di depan Tuhan, serta memohon kekuatan darinya untuk mampu meninggalkan kebiasaan buruk itu.

Guru memberi kesempatan peserta didik membuat motto yang mengungkapkan  

keinginannya untuk bertindak sesuai hati nurani yang benar, misalnya: “Mencontek adalah Perbuatan Tercela Menumpulkan Suara Hati”.
















Doa Penutup


Guru mengajak peserta didik untuk mendaraskan bersama Mazmur berikut
ini secara bergantian:


1 TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerubkerub, maka 

  bumi goyang.
2 TUHAN itu Maha Besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa.
3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; 

  Kuduslah Ia!
4 Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran;  

                       hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya.
                    5 Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan
                      kaki-Nya! Kuduslah Ia!
                    6 Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orangorang yang  

                       menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka.
                    7 Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada    

                       peringatan-    peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.
                    8 TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, Engkau Allah yang mengampuni  

                      bagi mereka, tetapi yang membalas perbuatan-perbuatan mereka. 9 Tinggikanlah 

                      TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus!   

                      Sebab  kuduslah TUHAN, Allah kita! Kemuliaan kepada Allah Bapa dan Putera dan 

                      Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala masa. 

                      Amin.







                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                          Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                                         BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                        NIP.19660826 200501 1 001



Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001





MODUL KELAS X MATERI 6


BERSIKAP KRITIS DAN BERTANGGUNG JAWAB
TERHADAP PENGARUH MEDIA MASSA


Capaian Pembelajaran
3.6. Memahami sikap kritis dan bertanggung-jawab terhadap pengaruh mass
      media, ideologi dan gaya hidup yang berkembang.
4.6. Bersikap kritis dan bertanggung-jawab terhadap pengaruh mass media,
      ideologi dan gaya hidup yang berkembang
Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mendalami kasus tentang remaja korban media, media masa, berbagai jenis media dan 

    pengaruhnya, peserta didik dapat menjelaskan dampak positif dan negatif media massa dalam  

    kehidupan sehari-hari.
2. Setelah mendalami ajaran Gereja (Intermerifca, Art. 9 & 10) dan Kitab Suci (Mrk 2:23-38) peserta

    didik dapat bersikap kritis terhadap media massa.
3. Setelah mendalami proses tentang perlunya bersikap kritis terhadap media massa, peserta didik 

    dapat membuat refleksi dan menuliskan motto hidupnya berkaitan dengan pengaruh media massa.
Indikator
1. Menjelaskan dampak positif serta negatif dari penggunaan alat teknologi  informasi pada era 

    digital  saat ini.
2. Merumuskan pandangan Gereja tentang media massa berdasarkan Dekrit  Konsili Vatikan II 

    tentang Komunikasi sosial (Intermerifca, Art. 9 & 10).
3. Menyebutkan contoh sikap kritis terhadap media massa.
4. Merumuskan pesan teks Mrk 2:23-38 dalam kaitannya dengan sikap kristis  Yesus terhadap Hukum 

    Taurat dan hari Sabat.
5. Menuliskan refleksi tentang bersikap kritis dan bertanggung jawab serta bijak terhadap pengaruh 

    media massa.
6. Menulis motto hidup berkaitan dengan pengaruh media massa pada era digital saat ini, misalnya 

    “No Signal, Life Go On”
Bahan Kajian
1. Pengertian Media
2. Dampak Positif Serta Negatif Dari Penggunaan Alat Teknologi Informasi  Pada Era 

    Digital Saat Ini.
3. Pandangan Gereja Tentang Media Massa Berdasarkan Dekrit Konsili Vatikan II Tentang 

    Komunikasi Sosial (Intermerifca, Art. 9 & 10).
4. Contoh Sikap Kritis Terhadap Media Massa.
5. Sikap Kritis Yesus Terhadap Hukum Taurat Dan Hari Sabat.


Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.


Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi

Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. Kitab Suci Markus 2: 23 – 28
3. Majalah Hidup No. 21 Tahun ke-60/ 21 Mei 2006)
4. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. 

    Yogyakarta:Kanisius, 2008.
5. Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan  Agama Katolik 

    untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius
6. Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, artikel 16.
7. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
8. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
9. http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/03/ramaja-korban-mediabenarkah-484001.html

Pemikiran Dasar

     Media komunikasi dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sebagai dampaknya, informasi yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari tidak terbendung. Persoalannya, informasi itu ada yang bersifat membangun, tetapi ada juga yang bersifat merugikan. Pada umumnya remaja bersifat polos dalam mengadopsi kehadiran media. Mereka menelan begitu saja apa yang disediakan
dan tidak mencernanya. Sehubungan dengan itu remaja perlu mendapatkan bimbingan supaya mereka dapat bersikap kritis dalam memilih media dan mampu mengolahnya menjadi nutrisi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.


    Kita dituntut untuk bersikap kritis atas segala tawaran yang ada dan informasi yang kita peroleh. Bersikap kritis tidak berarti menolak mentahmentah tentang media, melainkan kita mencoba menyaringnya dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita pilih dan kita percaya. Sikap kritis mengandaikan kedewasaan berpikir, mampu mempertimbangkan baik-buruk sesuatu hal, selektif dan mampu membuat skala prioritas dalam menentukan pilihan-pilihan hidup. Dengan demikian, kita akan dapat menempatkan media massa pada tempat yang semestinya bagi perkembangan diri kita.


     Gereja melalui Inter Mirifca art 9 menegaskan kewajiban-kewajiban khusus mengikat semua penerima, yakni para pembaca, pemirsa dan pendengar, yang atas pilihan pribadi dan bebas menampung informasi-informasi yang disiarkan oleh media itu. Sebab cara memilih yang tepat meminta supaya mereka mendukung sepenuhnya segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan dan pengetahuan. Sebaliknya hendaklah mereka menghindari apa saja, yang bagi diri mereka sendiri
menyebabkan atau memungkinkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh yang buruk, kebanyakan terjadi dengan membayar iuran kepada para penyelenggara, yang memanfaatkan media itu karena alasan-alasan ekonomi semata-mata.


    Maka supaya para penerima itu mematuhi hukum moral, hendaknya mereka jangan melalaikan kewajiban, untuk selalu mencari informasi tentang penilaianpenilaian mengenai semuanya itu yang diberikan oleh instansi-instansi yang berwenang, dan untuk mengikutinya sebagai pedoman menurut suara hati yang cermat. Untuk lebih mudah melawan dampak-dampak yang merugikan, dan mengikuti sepenuhnya pengaruh-pengaruh yang baik, hendaknya mereka berusaha mengarahkan dan membina suara hati mereka.


    Selanjutnya dalam artikel 10 ditegaskan pula bahwa, hendaknya kalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar, dan baca. Hendaklah itu mereka bicarakan dengan para pendidik dan
para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang tua hendaknya menyadari bahwa kewajiban mereka adalah menjaga dengan sungguh sungguh supaya tayangan-tayangan, terbitan-terbitan tercetak, dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anakanak menjumpainya di luar lingkup keluarga.


    Dokumen ini secara khusus menerima kekuatan pengaruh  media bagi masyarakat manusia secara penuh.


Kegiatan Pembelajaran

Doa Pembuka


Ya Allah, puji dan syukur kami haturkan hanya kepadaMu. Begitu banyak pilihan dalam hidup ini
Ada yang yang dapat menjauhkan kami dari pada-MU, Tetapi ada juga pilihan yang membuat kami semakin dekat kepada-Mu. Ya Allah, ajarlah kami untuk setia hanya kepada-Mu, Mampukanlah kami belajar bagaimana engkau setia pada pilihan kasih Sehingga begitu banyak orang yang terangkat kemanusiaannya. Buatlah kami semakin tangguh dalam menyikapi tawaran Buatlah kami semakin dewasa dengan tantangan itu Buatlah kami semakin bertanggung-jawab terhadap tugas kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

 

Langkah Pertama: Mendalami Berbagai Pengaruh Media
                                  Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

a. Guru mengajak peserta didik mengamati gambar-gambar di bawah ini, kemudian peserta didik 

    diminta memberi komentar berkaitan dengan pengaruh media dalam kehidupan




b. Guru mengajak para peserta didik untuk membaca dan mendalami artikel berikut ini.

“Remaja korban Media, betulkah?”


    Media mempunyai peranan besar dalam kehidupan masyarakat termasuk juga remaja. karena tidak bisa dipungkiri bahwa kita sebagai masyarakat membutuhkan informasi dan komunikasi. Dengan hadirnya media sebagai alat untuk menyampaikan berbagai gagasan, ide, dan penilaian terhadap sesuatu tentang apa yang kita rasakan, kita bisa berbagi pengalaman, ilmu,
dan lain sebagainya, media juga menumbuhkan rasa saling mengerti, saling berbagi, rasa kasih sayang antara sesama manusia. Dengan adanya media sebagai alat semua itu menjadi mudah dilakukan. Di zaman teknologi saat ini media bisa hadir dalam berbagai bentuk yang bisa di akses dengan mudah dan menghadirkan informasi yang lebih banyak dan beragam. oleh sebab itu media menjadi sesuatu yang pokok yang tidak bisa dihindari, di sisi lain walau peranan media begitu dominan dan komplit namun juga membawa dampak yang sangat signifkan. Bagaikan dua sisi mata uang berbeda, media massa mempunyai dampak positif dan negatif, yang bisa menguntungkan sekaligus menjatuhkan masyarakat sebagai objek dari media tersebut, baik dalam perilaku, moral dan intelektual. Media dapat mengubah pola pikir masyarakat, menentukan perasaan dan perilaku masyarakat melalui citra yang ditampilkan. Hal ini bisa berdampak baik dan bisa sebaliknya.
     

     Bagi para remaja, yang masih dalam masa proses pencarian jati diri, di mana pada fase ini tingkat perubahan mental, perilaku dan intelektualnya tumbuh secara cepat, pengaruh media ini sangat terasa. Baik ketika menonton tv, membaca majalah atau tabloid, maupun ketika mendengar radio. Hal ini Dapat kita lihat dari perubahan pola pikir, perilaku dan mentalnya. Sebagai
contoh, banyak remaja putri rela menghabiskan uangnya untuk membeli produk kecantikan yang di iklankan di tv dan media cetak lainnya demi tampil menawan seperti gadis dalam sampul produk tersebut. Begitu pula remaja putra merasa gagah dan maco jika merokok, seperti ditampilkan dalam iklan rokok yang memberikan citra lelaki sejati, sehingga timbul anggapan “kalau laki-laki
ya merokok”, padahal kalau diperhatikan tidak satupun bintang iklan tersebut yang nampak sedang mengisap rokok yang diiklankannya. Dan banyak lagi contoh perilaku-perilaku yang merupakan korban dari citra yang ditimbulkan oleh media massa tersebut. Pada fase ini juga, para remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ingin merasakan sesuatu yang baru, dan ingin menjadi seperti
apa yang dilihatnya, karena memang pada masa ini remaja belum mempunyai konsep diri yang matang. Contohnya: ketika menonton tv dan membaca majalah atau tabloid yang menampilkan citra remaja dengan gaya hidup hedonis, modern, dan instan, para remaja cenderung ingin meniru sehingga tak heran saat ini banyak remaja SMA/SMP atau yang setingkat dengan itu, ganti-ganti produk elektronik yang dimilikinya, mulai dari hp, laptop, i-pad, dan banyak yang lainnya. Ketika ditanya, motivasi mereka tentang perilaku tersebut, kebanyakan tidak lain adalah penampilan semata bukan kebutuhan. Begitu juga dengan gaya berpakaian, model rambut, dan gaya bicara yang meniru gaya bintang-bintang di televisi, terutama bintang-bintang berwajah oriental yang berasal dari Korea Selatan, yang kebetulan sangat digemari oleh kalangan remaja saat ini. Salah satu sebab dari perilaku-perilaku menyimpang tersebut adalah akibat dari penggunaan media yang tidak terkontrol.
     

     Beberapa media seperti tv, radio, majalah, flm, dan banyak lainnya tidak begitu menghiraukan kualitas program yang akan di tampilkan, program yang hadir saat ini jarang yang memberikan inspirasi dan pendidikan bagi para penontonnya khususnya remaja. Seperti acara infotainment, yang menampilkan kehidupan artis dengan sekelumit problem rumah tangga atau karier mereka yang lagi jatuh bangun, kemudian acara reality show tentang remaja yang sedang jatuh cinta kemudian bingung bagaimana mengungkapkannya, juga flm-flm yang bertemakan horor atau beragam acara lawakan. Media cetak pun tak jauh berbeda. Majalah remaja dipenuhi dengan ramalan-ramalan
dan cerita-cerita cinta kemudian informasi-informasi praktis seperti “cara diet dengan cepat” atau “agar kulit putih dalam tujuh hari” dan banyak lagi yang lainnya. Hal ini dapat mengubah pola pikir remaja menjadi instan, dimana mereka tidak tahan menjalankan suatu proses. Memang, tidak semua
media menampilkan hal demikian, ada beberapa media yang masih berusaha menampilkan hal-hal yang positif, edukatif, dan inspiratif, tapi jumlahnya tidak banyak dan itupun tidak dikhususkan untuk remaja.

     Menurut beberapa ahli yang mengamati dan mengkaji dampak media massa, menyatakan bahwa peran orang tua sebagai orang terdekat diharapkan aktif mendampingi remaja dalam menggunakan jasa media baik elektronik maupun cetak. Kemudian orang tua perlu melakukan dialog edukatif, dan kreatif dengan remajanya, tentang tayangan atau bacaan yang mereka konsumsi, sehingga mereka tetap dapat mengambil nilai-nilai positif dari media tersebut, dan dampak negatif media bisa diminimalisir. Selain itu kontribusi dari semua pihak sangat dibutuhkan, baik pihak sekolah, masyarakat dan instansi-instansi terkait, termasuk pihak media itu sendiri. yaitu dengan melakukan flterisasi yang ketat terhadap program atau bahan bacaan yang akan dipublikasikan. Pihak pemerintah hendaknya juga memperketat penyaringan terhadap program media yang akan ditampilkan dengan mempertimbangkan segala aspek, sehingga dengan perhatian yang intensif, dengan melibatkan segala komponen terkait bisa membantu tumbuhnya nilai-nilai moral dan akhlak
yang melahirkan generasi bangsa yang cerdas secara intelektual dan spiritual sejak dini.
http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/03/ramaja-korban-media-benarkah-484001.html

c. Guru membagi peserta didik menjadi dua kubu besar, yang dapat dipecah ke dalam beberapa 

    kelompok yang lebih sedikit. Kubu pro (yang setuju terhadap artikel di atas), sedangkan kubu 

    kontra (yang tidak setuju terhadap pernyataan dalam artikel di atas). Masing-masing kelompok 

    sesuai dengan kubunya, harus mencari informasi seluas-luasnya dari berbagai sumber, untuk 

    membuat argumen dalam debat. Secara bergantian dua kelompok maju untuk berdebat!

d. Setelah selesai debat, peserta didik masuk kembali dalam kelompok untuk membahas:
• Dampak positif dan negatif dari media cetak maupun media elektronik
• Contoh penggunaan media massa yang bijaksana dan yang tidak bijaksana di kalangan 

   remaja   seusiamu


Langkah kedua: Pandangan Gereja tentang Media Komunikasi Sosial

a. Guru menugaskan kelompok pro membaca kutipan Dekrit tentang Komunikasi Sosial, artikel 9, dan 

    artikel 10 untuk kelompok kontra, lalu mendiskusikan pertanyaan di bawahnya:

Artikel 9
(Kewajiban-kewajiban para pemakai media komunikasi sosial)

     Kewajiban-kewajiban khusus mengikat semua penerima, yakni para pembaca, pemirsa dan pendengar, yang atas pilihan pribadi dan bebas menampung informasi-informasi yang disiarkan oleh media itu. Sebab cara memilih yang tepat meminta, supaya mereka mendukung sepenuhnya
segala sesuatu yang menampilkan nilai keutamaan, ilmu-pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya hendaklah mereka menghindari apa saja, yang bagi diri mereka sendiri menyebabkan atau memungkinkan timbulnya kerugian rohani, atau yang dapat membahayakan sesama karena contoh yang buruk, atau menghalang-halangi tersebarnya informasi yang baik dan mendukung tersiarnya informasi yang buruk. Hal itu kebanyakan terjadi dengan membayar iuran kepada para penyelenggara, 

yang memanfaatkan media itu karena alasan-alasan ekonomi semata-mata.

     Maka supaya para penerima itu mematuhi hukum moral, hendaknya mereka jangan melalaikan kewajiban, untuk pada waktunya mencari informasi tentang penilaian-penilaian yang mengenai semuanya itu diberikan oleh instansi-instansi yang berwenang, dan untuk mengikutinya sebagai pedoman menurut suara hati yang cermat. Untuk lebih mudah melawan dampakdampak yang merugikan, dan mengikuti sepenuhnya pengaruh-pengaruh yang baik, hendaknya mereka berusaha 

mengarahkan dan membina suara hati mereka dengan upaya-upaya yang cocok.

Pertanyaan:
• Sebagai penerima informasi kita mempunyai kebebasan memilih informasi? Kriteria apa yang  

   sebaiknya digunakan dalam memilih informasi?
• Kita diajak menghindari informasi yang menimbulkan kerugian rohani, membahayakan sesama  

  dengan contoh buruk, menghalang-halangi tersebarnya informasi yang baik dan mendukung 

  tersiarnya informasi yang buruk. Berilah contohnya!
• Apa yang dimaksud bahwa kita perlu menerima informasi dengan mempertimbangkan  hukum 

  moral dan menuruti pedoman suara hati?


Artikel 10.
(Kewajiban-kewajiban kaum muda dan para orang tua)

     Hendaknya para penerima, terutama dikalangan kaum muda berusaha, supaya dalam memakai upaya-upaya komunikasi sosial mereka belajar mengendalikan diri dan menjaga ketertiban. Kecuali itu hendaklah mereka berusaha memahami secara lebih mendalam apa yang mereka lihat, dengar
dan baca. Hendaklah itu mereka percakapkan dengan para pendidik dan para ahli, dan dengan demikian mereka belajar memberi penilaian yang saksama. Sedangkan para orang-tua hendaknya menyadari sebagai kewajiban mereka: menjaga dengan sungguh sungguh, supaya tayangan-tayangan, terbitanterbitan tercetak dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan iman serta tata susila, jangan sampai memasuki ambang pintu rumah tangga, dan jangan sampai anak-anak menjumpainya di luar 

lingkup keluarga.

Pertanyaan:
• Apa kewajiban kaum muda dalam menyikapi dan menggunakan berbagai kemajuan media sosial 

   maupun media elektronik?
• Apa kewajiban orang tua dalam menyikapi dan menggunakan berbagai kemajuan media sosial 

   maupun media elektronik?



b. Guru meminta kedua kelompok membaca artikel berikut:

“Berani Ambil Sikap!”


    “Anda harus berani mengambil sikap! Jadikanlah media sebagai alat bukan tuan! Demikian penegasan ketua Komisi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia (Komsos KWI) Mgr. Hilarion Datus Lega Pr. “Media bukan segalagalanya yang harus melampaui hati nurani, akal budi sehat dan 

kebutuhan konkret manusia yang menggunakannya.
     

     Sikap tegas ini harus diambil oleh siapa saja, termasuk kaum muda dan orang tua yang mau mendidik anak-anaknya dalam menghadapi banjir media. Tidak dapat dipungkiri kalau setiap saat informasi dari berbagai media, baik yang harum semerbak laksana melati, maupun yang berbau menusuk seperti sampah busuk, memasuki setiap rumah tangga, melalui segala macam media, dari cetak, audio visual, sampai multi media. Namun, sampah busuk itu memang tidak terpisahkan dari mawar melati tadi, karena memang pada dasarnya media seperti dua sisi mata uang. “Implikasi negatif dari media tidak dapat kita hindari. Mau atau tidak, suka atau tidak media membawa serta 

kaitan-kaitan seperti itu.
     

     Ia memberi contoh tayangan-tayangan di televisi yang menunjukkan kekerasan. Banyak orang menuding bahwa tawuran anak sekolah dan kebrutalan lainnya merupakan akibat dari tayangan seperti itu. Mgr. Datus mengajak semua pihak untuk tidak bersikap panic menghadapi banjir media. Yang penting adalah anak-anak harus dilatih untuk bersikap kritis dan orang tua juga harus 

menyediakan waktu untuk anak-anaknya.
(Sylvia Marsidi: Majalah Hidup No. 21 Tahun ke-60/ 21 Mei 2006)

 

Guru mengajak para peserta didik untuk membaca dan merenungkan kutipan Kitab Injil 

     (Mrk 2: 23-28) di bawah ini.

d. Guru meminta kedua kelompok menjawab pertanyaan berikut:
• Apa yang kalian pahami dari pernyataan “Jadikanlah media sebagai alat bukan tuan! Media bukan

   segala-galanya yang harus melampaui hati nurani, akal budi sehat dan kebutuhan konkret manusia 

   yang menggunakannya.”
• Mgr. Hilarion Datus Lega Pr. Juga menekankan perlunya bersikap kritis terhadap media. Dengan 

  cara bagaimana sikap itu diwujudkan ?
e. Setelah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Rangkumlah semua gagasan yang kalian 

    peroleh itu dalam sebuah motto, misalnya: “No Signal, Life Go On!”
f. Setelah pleno, bila dianggap perlu guru dapat menegaskan beberapa gagasan pokok berikut:
• Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari medium secara harafah berarti 

  perantara atau pengantar dalam hal ini untuk menyalurkan pesan atau informasi.
• Kita sekarang sedang mengalami revolusi informasi. Karena berbagai kemajuan teknologi media, 

  kita dibanjiri oleh arus informasi yang melimpah ruah dan tidak henti, hampir tanpa saringan.   

  Informasiinformasi itu dapat berupa informasi yang baik dan membangun, tetapi juga dapat berupa 

  informasi yang buruk dan merusak.
• Kita harus memiliki sikap kritis terhadap semua informasi yang kita terima. Sikap kritis berarti dapat 

  memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah; mana yang baik dan mana yang buruk; mana  

  yang positif dan mana yang negatif. Jadi, kita harus bersikap kritis terhadap pengaruh positif dan 

  negatif dari media yang menyuguhkan berbagai informasi.
• Pengaruh positif dari media dapat terjadi karena:
1). Teknologi media mendekatkan manusia satu sama lain. Ia dapat mendekatkan pikiran dan relasi 

      kita. Pikiran dan relasi kita menjadi lebih terbuka kepada orang lain, kepada bangsa lain, 

      budaya lain, dsb.
2). Teknologi media dapat membuat kita terlibat pada peristiwa di belahan bumi yang lain. Kita 

      terlibat pada gempa bumi di Aljazair, pada SARS di Cina, pada Piala Dunia, dsb.


3). Teknologi media menyajikan mutu dan pola pemberitaan yang semakin menarik. Pemberitaan 

      lewat satelit dan jaringan internet yang makin semarak.
4). Teknologi media dapat menyajikan gambar dan suara yang lebih canggih, seperti musik stereo, 

      gambar tiga dimensi, dsb.


• Pengaruh dari pemilik atau sponsor media
1). Manusia, entah pemilik media, entah sponsor, entah lembaga negara, entah masyarakat dan

     Gereja, dapat menggunakan media untuk menciptakan perhatian dan keprihatinan umum  

     tentang suatu masalah di belahan bumi, seperti AIDS, narkotika, pembunuhan massal oleh

     suatu pemerintahan totaliter, dsb. Ia membantu menciptakan keprihatinan.
2). Media dapat digunakan untuk memberi informasi membentuk, opini umum yang baik dan  

      juga untuk mendidik. Media dapat digunakan untuk membela keadilan dan kebenaran, dsb.
3). Media dapat digunakan untuk hiburan. Misalnya, hiburan musik, tari, sinetron, dsb.
• Pengaruh yang tidak disadari, yakni:
1). Sadar tidak sadar, media sudah membentuk budaya baru. Kaum muda adalah massa yang  

      terlibat penuh dalam budaya baru ini.
2). Sadar tidak sadar, media telah mengubah cara pikir kita tentang hidup, tentang kebudayaan, 

     dsb. Jendela dunia terbuka lebar bagi kita.
• Pengaruh Negatif dari Media
Pengaruh negatif yang disebabkan dari teknologi media sendiri, antara lain:
1). Media telah membangun kerajaan dan kekuasaan yang sangat kuat. Siapa yang memiliki  

     media dia yang kuat dan berkuasa, Dengan media Dunia Utara menguasai Dunia Selatan. 

     Kota menguasai desa. Yang kuat dan kaya menguasai yang lemah dan miskin.
2). Media menciptakan budaya baru yang gemerlap, budaya asli dan lokal perlahan-

      lahan tersingkir.
Pengaruh negatif yang disebabkan oleh pemilik dan sponsor media, yakni:
1). Media adalah bisnis. Supaya bisnis dapat laku, maka digalakkan semangat materialisme,  

     konsumerisme dan hedonisme.
2). Lewat media dapat dibangun persepsi yang salah tentang kesejahteraan. Kesejahteraan berarti   

      memiliki materi sebanyakbanyaknya. Manusia tidak lagi dinilai dari karakter dan dedikasi,
      tetapi dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, uang, dsb.) seperti yang dipromosikan pada 

      iklan-iklan di media.
3). Lewat media dapat diciptakan stereotip tentang tokoh kecantikan, mode, dsb. yang akan ditiru   

     oleh khalayak ramai, misalnya mode rambut, mode pakaian, dsb. yang begitu cepat ditiru.
4). Lewat media dapat diciptakan sensasi tantangan seks, kekerasan, dan  horor yang mungkin 

      sangat disenangi oleh penonton.

5). Pemilik, penguasa, dan sponsor media dapat melakukan berbagai rekayasa dan trik demi  

      kepentingan bisnis dan politiknya.
Pengaruh negatif yang tidak disengaja
1). Jadwal hidup dan kerja kita menjadi tidak teratur. Banyak waktu tersedot untuk menonton 

      atau mendengar siaran media. Komunikasi antar pribadi dalam keluarga berkurang.
2). Kecanduan dan keterlibatan pada kekerasan dan seks bebas sering ada hubungannya dengan 

      siaran TV atau chatting di internet atau HP (SMS).
3). Arus urbanisasi sering disebabkan oleh tayangan yang glamour tentang kehidupan kota
• Oleh karena itu, kita harus tetap kritis terhadap media dan pandai-pandai
menggunakan media untuk kepentingan kita dan masyarakat/umat.







Langkah Ketiga: Menghayati Penggunaan Media Secara Bijaksana

a. Guru meminta peserta didik membaca dan merenungkan kutipan berikut:
Bacalah uraian berikut dalam suasana hening

     Seorang pakar komunikasi pernah berkata: “Apa yang kita ungkapkan dalam media, sesungguhnya menggambarkan siapa kita: sikap kita, idealism kita, dan tanggapan kita atas kenyataan dan problematik yang ada di sekitar kita, termasuk kedalaman hidup rohani kita”.
    Pernyataan ini hendak mengingatkan kita, supaya kita berhati-hati dan bersikap kritis terhadap media.
    Beberapa remaja senang sekali menulis di facebook, bahkan ada yang dalam sehari menuliskan banyak hal. Tahukah kalian apa yang dituliskan?
    “Saya sudah ngantuk, mau bobo ah….”. “Pulang sekolah hujan deras, enaknya ngapain yach…”. “Makan dulu ach…”, “Di rumah sendirian, bête rasanya…”, dan yang lainnya….
    Lalu apa untungnya menulis seperti itu, baik bagi diri sendiri maupun orang lain?
Sudah saatnya kita menggunakan media sebagai sarana membawakan kabar gembira bagi siapapun yang akan melihat atau membacanya.
    Mungkin akan lebih baik bila menuliskan hal-hal yang dapat membantu orang berpikir dan berefleksi, misalnya: “hari ini ibuku ultah. Tuhan terima kasih atas pemeliharaan-Mu, dan berkatilah kami anak-anaknya agar selalu setia mendampingi ibu di masa tuanya..”
    Kata-kata yang indah bukan?
    Mungkin ada teman-temanmu yang membaca lalu merasa ditegur ataumerasa diingatkan: “Oya..aq koq sering melupakan Ultah Ibuku…. aq koq
jarang mendoakan ibu….”
    Bagaimana dengan pengalamanmu?


Doa Penutup
Guru mengajak para peserta didik untuk mendaraskan bersama Mzm 95
berikut ini secara bergantian:

1 Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. 3 Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. 4 Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gununggunung pun kepunyaan-Nya. 5 Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya. 6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. 7 Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suaraNya! 8 Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di 
















Masa di padang gurun, 9 pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku. 10 Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: “Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.” 11 Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.” 

Kemuliaan kepada Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, 

       selalu dan sepanjang segala masa. Amin.


                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                          Guru Bidang Studi

  



                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                                         BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                         NIP.19660826 200501 1 001


Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001























MODUL KELAS X MATERI 7

Bersikap Kritis terhadap Ideologi dan Gaya
Hidup yang Berkembang Dewasa  hal.78



Capaian Pembelajaran
3.6. Memahami sikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh mass media, ideologi dan gaya 

       hidup yang berkembang
4.6. Bersikap kritis dan bertanggung jawab terhadap pengaruh mass media, ideologi dan gaya hidup

       yang berkembang.
Tujuan Pembelajaran
1. Dengan mendalami cerita tentang gaya hidup pribadi dan ideologi, serta sharing peserta didik dapat 

    memahami berbagai gaya hidup dan aliran yang berkembang dalam masyarakat
2. Melalui pendalaman teks Luk 4: 1 – 13 dan Mat 13: 1 - 36, peserta didik dapat memahami sikap 

    kritis Yesus terhadap ideologi dan gaya hidup yang berkembang pada zaman-Nya.
3. Melalui refleksi peserta didik dapat membuat membuat iklan berkaitan dengan sikap kritis terhadap

    ideologi dan gaya hidup yang berkembang dewasa ini,
Indikator
1. Menyebutkan macam-macam ideologi dan gaya hidup yang berkembang.
2. Menyebutkan aliran-aliran yang ada pada masa Yesus.
3. Menganalisa sikap kritis Yesus terhadap ideologi dan gaya hidup yang berkembang pada 

    jaman-Nya.
4. Menjelaskan ajaran Kitab Suci tentang sikap kritis Yesus terhadap aliran dan tawaran keduniaan

    yang ada pada zaman-Nya
5. Menuliskan refleksi tentang bersikap kritis sesuai ajaran dan teladan Yesus terhadap gaya hidup 

    konsumeristik, hedonistik dan materialistik.
6. Membuat iklan berkaitan dengan sikap kritis terhadap ideologi dan gaya hidup yang berkembang 

    dewasa ini, Misalnya “No concumeristic, no hedonistic and no matterailistic”.
Bahan Kajian
1. Pengertian ideologi dan gaya hidup.
2. Macam-macam ideologi dan gaya hidup yang berkembang.
3. Sikap kritis Yesus terhadap ideologi dan gaya hidup yang berkembang pada zaman-Nya.
4. Aliran-aliran yang ada pada masa Yesus.
5. Sikap kritis Yesus terhadap aliran dan tawaran keduniaan yang ada pada zaman-Nya


Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.
Metode Pembelajaran
1. Dialog Partisipatif
2. Diskusi
3. Penugasan
4. Studi Pustaka
5. Refleksi
Sumber Belajar
1. Pengalaman hidup peserta didik
2. Kitab Suci Matius 13: 1 – 36; 4: 1 - 13
3. Komkat KWI, Perutusan Murid-Murid Yesus Pendidikan Agama Katolik
untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius, 2008.
4. Kristianto. Yoseph, dkk. 2010. Menjadi Murid Yesus, Buku Teks Pendidikan
Agama Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta:Kanisius
5. Dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, artikel 16.
6. Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1995.
7. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
8. http://www.kompasiana.com
9. http://posbali.com/trend-komunitas-motor-di-kalangan-remaja/
Pemikiran Dasar

Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini. Terlebih seperti yang dialami oleh banyak kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, flm,
sampai pada berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi kita. Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan menentukan pilihan. Pada pelajaran ini, kita akan mengamati berbagai pengaruh dari suatu ideologi, aliran/paham, dan tren-tren yang berkembang saat ini. Harapannya adalah bahwa kita 

harus bersikap kritis terhadap:
a. Tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini, antara lain:
    materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme, fundamentalisme, dsb. Tren-tren itupun 

    dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian identitasnya.
b. ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam. Sebab, ideologi, paham-paham, dan 

    aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-sekte agama. Kaum muda sering 

    dijadikan sasaran dari penyebaran dan perluasan ideologi atau paham-paham dan aliran.


Sewaktu hidupNya, Yesus bertemu dengan berbagai orang yang menganut macam-macam ideologi, paham dan aliran, misalnya kaum Farisi, kaum Saduki, kaum Esseni, dan kaum Zelot. Dalam menghadapi berbagai ideologi, paham, dan aliran tersebut, Yesus sudah memiliki sikap kritis. Yesus tetap pada pilihan-Nya (opsi-Nya), yaitu Kerajaan Allah. Yesus juga pernah dihadapkan kepada berbagai tawaran yang menggiurkan, seperti jaminan sosial ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan, tetapi Yesus tetap menolaknya (lih. Mat 4: 1-11). Pilihan (opsi) Yesus tetap pada mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Pada zaman yang penuh tawaran ideologi, paham-paham, dan macam-macam godaan untuk berbagai jaminan sosial ekonomi dan politik serta kesenangan, kaum muda hendaknya membekali diri dengan sikap kritis, sehingga dapat menentukan

pilihan dengan benar.

Kegiatan Pembelajaran
Doa Pembuka
Guru mengajak peserta didik membuka kegiatan pembelajaran dengan doa,
misalnya:

Ya Allah kami bersyukur kepada-Mu, Karena Engkau mengaruniakan kepada kami Kemampuan untuk membedakan hal baik dan buruk. Dengan anugerah yang Kau berikan itu Kami dapat membuat pilihan dalam hidup kami Pilihan yang akan membuat kami menjadi pribadi Yang semakin bertanggung jawab terhadap hidup kami dan sesama Teguhkanlah senantiasa keyakinan kami
Untuk selalu setia pada nilai-nilai yang Engkau ajarkan Walaupun banyak tantangan dan rintangan yang akan kami temui. Buatlah kami hanya selalu ingat akan Putera-MuYang selalu setia akan nilai-

nilai cinta kasih. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

Langkah Pertama: Menganalisa Berbagai Gaya Hidup Pribadi, Tren dan Ideologi yang Berkembang dalam Masyarakat.
a. Guru mengajak peserta didik mengamati foto-foto berikut, kemudian peserta didik diminta  

    menuliskan tanggapan atau komentar mereka berkaitan dengan gaya hidup, tren dan ideologi yang 

    berkembang dalam masyarakat dan kaum muda!

b. Guru mengajak peserta didik menyimak artikel-artikel berikut.



“Fenomena K-POP”


Merebaknya gaya hidup Korea benar-benar telah merubah gaya hidup dan jadwal kegiatan anak dan remaja di Indonesia. Para remaja mulai mengimitasi gaya hidup Korea. Contohnya, pagi bangun tidur dari kamar mereka sudah terdengar lagu K-Pop terbaru semacam You and I, IU atau Trouble Maker, Hyun A & Jang Hyun Seung. Meminta dan mendownload seakan merupakan keasyikan tersendiri bagi mereka. Yang kadang menyebalkan para orang tua adalah kegilaan pada Korea ini sampai mengorbankan waktu beristirahatnya demi menonton show, sinema atau drama Korea di 

internet maupun televisi.

Contoh lainya yaitu, ketika Super Junior (SUJU) akan mengadakan Konser Super Show 4 di Jakarta, begitu banyak remaja kita yang rela antri sehari semalam hanya untuk mendapatkan tiket konser itu.
Melihat hal semacam ini, semua orangtua tentulah ingin menyenangkan putra putri mereka. Seperti misalnya, Jono (39), yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Istri Jono hanya seorang ibu rumah tangga. Gaji yang diterima Jono setiap bulannya hanya cukup untuk membayar cicilan KPR
rumahnya, listrik, telepon, belanja bulanan dan harian, serta untuk membayar kewajiban SPP anak-anaknya. Beberapa hari sebelum berita hebohnya antrian tiket Konser SUJU di Twin Plaza Hotel, Jono tidak kalah hebohnya mencari pinjaman uang untuk bisa memenuhi keinginan putrinya membeli tiket Konser. Seperti yang kita ketahui harga tiket Konser Super Show 4 untuk kelas Junior Sky Seat sebesar Rp500 ribu, kelas Super Sky Seat Rp1 Juta, Junior VIP Seat Rp1,4 juta, Super Box, serta 

Super Fest Rp1,7 juta dan kelas Super VIP Seat Rp2 Juta.

Fenomena K-Pop dan Drama Korea di negeri ini memang tak bisa terbendung lagi. Salah satu bukti anak muda Indonesia terjangkit K-Pop, yaitu dengan dibanjirinya antrian penjualan tiket konser boyband asal Korea, Super Junior, oleh anak muda kita yang dikabarkan tiket sudah ludes terjual pada tanggal (7/4/2012). Lidah para remaja lincah melafalkan bahasa Korea dari setiap lirik lagu 

K Pop. Akibatnya banyak remaja berminat belajar Bahasa Korea secara intensif. Fashion dan 

penampilan gaya Korea memiliki banyak pengikut di Indonesia.


Hal yang mengagetkan lagi, penggemar K-Pop begitu fanatik. Contohnya, Nadhila (18), remaja asal Bekasi, saking cintanya kepada band Korea pernah nekat memburu personel band asal Korea, X5, di Bandara Soekarno-Hatta. “Saya sampai lemas dan kehilangan kata-kata,” kata Nadhila menggambarkan perasaannya ketika berjabat tangan dengan Haewon, personel X5. Belum puas,
Nadhila menguntit X5 hingga ke hotel tempat mereka menginap. Ceritanya cukup dramatis. Ia menyamar sebagai wartawan agar bisa menembus barikade pengamanan hotel. Bersama rombongan wartawan, Nadhila berhasil menemui X5 di lobi hotel. Saking senangnya, ia menjerit keras. “Semua kaget dan menoleh ke arah saya,” kenangan Nadhila, yang kini menjadi personel Ladyschool,
coverband Aferschool asal Korea.
(www.entertainment.kompas.com)

“Ideologi”

Johan adalah penduduk sebuah Negara sosialis di Afrika yang dikuasai oleh satu partai Negara, PPR (Partai Persatuan Rakyat). PPR dan Negara itu mempunyai ideologi resmi yang menuntut kepercayaan tanpa batas pada kepemimpinan PPR demi menciptakan masyarakat baru yang lebih sejahtera. Johan bekerja penuh semangat sebagai wartawan muda sebuah harian PPR itu. Agak kebetulan ia sampai ke daerah yang agak terpencil untuk membuat suatu reportase. Ternyata daerah itu terancam kelaparan yang akut: persediaan pangan sudah habis sama sekali, beberapa anak-anak di desa sudah mulai meninggal. Tetapi yang mengagetkan Johan adalah bahwa pimpinan PPR
setempat mencoba menutup-nutupi malapetaka itu, padahal mereka sendiri hidup dengan berfoya-foya. Waktu laporannya disampaikan kepada pimpinan redaksi, dikatakan bahwa malapetaka itu tidak boleh diberitakan. Waktu Johan mendesak terus agar diambil tindakan bantuan, ia malah diancam kalau terus mencampuri urusan itu. Tetapi Johan tidak dapat melupakan orang-orang sebangsa yang sedang mati kelaparan, yang dikorbankan oleh sebuah elite politik yang sudah
terlalu korup. Matanya mulai terbuka oleh kekorupan moral dalam negaranya. Ia masih melihat satu jalan terbuka, yakni mempublikasikan laporannya ke luar negeri. Publikasi itu akan memaksa pemerintahnya berbuat sesuatu, karena pemerintah sedang merundingkan pinjaman luar negeri yang tidak akan diperolehnya, kalau bencana kelaparan itu dibiarkan begitu saja. Tetapi kalau ia nekat melakukan itu, ia akan dianggap pengkhianat dan tentu saja keselamatan dirinya dan 

keluarganyapun terancam. (sumber: etika dasar-franz magnis suseno)

c. Setelah mengamati foto-foto dan membaca artikel-artikel di atas, carilah data/informasi dari buku- 

    buku, internet atau sumber lain berkaitan dengan hal-hal berikut:
• Budaya atau gaya hidup apa saja yang sedang melanda dunia remaja, baik di perkotaan maupun di 

   pedesaan saat ini?
• Ideologi atau pandangan hidup apa saja yang sedang berkembang saat ini?
• Tren, isu atau masalah-masalah sosial apa saja yang sedang melanda dunia sekarang ini?
• Bagaimana dampak ketiga hal tersebut di atas bagi remaja?
• Bagaimana menyikapi semua hal tersebut di atas?

d. Guru memberi kesempatan tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompoknya 

    dan menanggapi kelompok lain.

e. Bila dipandang perlu, selesai pleno, guru dapat menyampaikan beberapa gagasan pokok, misalnya
Tentang Gaya Hidup:
• Dalam hidup modern dewasa ini, kita tidak dapat lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, baik itu 

   paham atau ideologi maupun aliran hidup yang ada dan berkembang saat ini.
• Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan atau di perlihatkan dalam aktivitas, minat,

   dan pendapatnya yang berkaitan dengan citra dan status sosialnya.
• Menurut KBBI, gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam 

   masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan
  masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui  

   lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang 

   memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.
• Gaya hidup bisa ditentukan oleh apa saja, mulai dari agama, profesi, zaman, teknologi, hobi, umur,

   jenis kelamin, idola, dan sebagainya. Semua itu terbentuk karena adanya kesamaan sejumlah 

   manusia dalam menjalani hidupnya pada suatu jalan tertentu.
• Bagi kaum muda sekarang ini, tren apapun bentuknya mulai dari mode, musik, flm, sampai pada

  berbagai gaya hidup lainnya, hingga perangkat teknologi, tak bisa dilepaskan pengaruhnya bagi 

  kita.Tingkatan pengaruhnya sangat tergantung pada kedewasaan kita dalam menjalani dan 

  menentukan pilihan.
• Kita harus bersikap kritis terhadap tren-tren yang sedang berkembang pesat pada saat ini. Tren-tren 

  yang sangat pesat berkembang antara lain: materialisme, konsumerisme, individualisme, pluralisme,
  fundamentalisme, dsb. Tren-tren pun dapat mempengaruhi kaum muda dalam usaha pencarian 

  identitasnya.
Tentang Ideologi

1). Kita harus bersikap kritis terhadap ideologi, paham-paham, dan aliran yang beraneka ragam.

     Sebab, ideologi, paham-paham, dan aliran itu dapat melahirkan partai-partai politik atau sekte-

     sekte agama. Kaum muda sering dijadikan sasaran dari penyebaran slogan perluasan ideologi
    atau paham-paham dan aliran. Nasionalisme. Nasionalisme dapat disebut semacam etno-sentrisme 

     atau pandangan yang berpusat pada bangsa sendiri. Gejala seperti semangat nasionalisme,
    patriotisme, dsb. terdapat pada semua bangsa untuk menciptakan rasa setia kawan dari suatu 

     kelompok yang senasib. Nasionalisme negatif atau nasionalisme sempit ialah nasionalisme
    yang mengagung-agungkan bangsa sendiri dan meremehkan/menghina bangsa lain. (Right or 

     wrong my country). Nasionalisme positif adalah nasionalisme yang mempertahankan
    kemerdekaan dan kedaulatan bangsa, sekaligus menghormati kemerdekaan dan kedaulatan bangsa 

     lain!


Marxisme
Sejarah bangsa kita pernah berkenalan dengan marxisme. Marxisme ialah suatu kumpulan ajaran yang menjadi dasar sosialisme dan komunisme. Tujuan utama dari marxisme ialah menghapuskan kapitalisme yang dianggap menyengsarakan dan menjajah kaum proletar, yaitu kaum buruh/rakyat kecil. Marxisme hanya percaya pada materi, tidak percaya pada dunia adikodrati, termasuk tidak percaya kepada Tuhan. Manusia merupakan satu unsur materi, suatu unsur yang sangat terbatas dalam proses perubahan keseluruhan umat manusia dan semesta alam. Maka, manusia dapat digunakan untuk tujuan marxisme itu. Jika manusia itu menjadi penghalang, maka ia dapat dilenyapkan.
Yang kiranya positif dari ideologi marxisme ini ialah perjuangan dan opsinya kepada kaum 

buruh/proletar. Hanya sayangnya, ideologi marxisme ini menghalalkan segala cara.

Komunisme
Komunisme adalah anak dari marxisme. Komunisme mencitacitakan suatu sistem masyarakat di mana sarana-sarana produksi dilakukan berdasarkan asas bahwa setiap anggota masyarakat dapat memperoleh hasil sesuai dengan kebutuhan. Cita-cita komunisme ini praktis diperjuangkan dan 

dimonopoli oleh partai komunis.

Teokrasi
Teokrasi merupakan sebuah paham yang menghendaki agama menguasai masyarakat politis. Dalam hal ini, pemerintahan dianggap melakukan kehendak ilahi seperti diwahyukan menurut kepercayaan
agama tertentu. Negara adalah negara agama. Segala bentuk teokrasi bersifat statis-konservatif, 

karena hukum agama dipandang tetap.

Neo-Liberalisme
Liberalisme adalah suatu paham dan gerakan yang memperjuangkan kebebasan dari penindasan apapun. Namun, kebebasan itu dapat memberi peluang bagi yang kuat untuk menekan yang lemah dan yang kaya memeras yang miskin. Oleh sebab itu, liberalisme di Indonesia sering berkonotasi negatif. Neo-Liberalisme ialah paham yang berkembang dewasa ini dalam hubungannya dengan globalisasi dan pasar bebas, yang akan dikuasai oleh mereka yang kuat secara ekonomis dan politis. Neo-Liberalisme mempunyai konotasi negatif untuk negara-negara yang sedang berkembang.

Liberalisme memang memiliki segi positif dan negatif.
• Positif karena liberalisme memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia.
• Negatif karena liberalisme, terutama neo-liberalisme dapat menguasai pasar karena terjadi  

  persaingan yang tidak seimbang. Neo-Liberalisme melahirkan sikap-sikap asosial. Perlu dicatat 

  bahwa kebanyakan ideologi cenderung untuk bersikap fanatik!


2). Ideologi dapat diartikan juga sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu. Contoh: banyak

     remaja di kota besar yang tidak lagi menganggap “kesucian” badan (keperawanan dan 

     keperjakaan), sebagai sesuatu yang penting dipertahankan sampai jenjang perkawinan. Atau, 

     memandang ibadat bersama sebagai buang-buang waktu, dan sebagainya.

Tren Yang Berkembang:
Pada saat ini muncul banyak tren dan isu yang semakin lama semakin kuat, yang perlu kita sikapi dengan kritis. Tren-tren dan isu-isu yang actual dan relevan untuk ditanggapi secara kritis adalah sebagai berikut.
Budaya Materialistik dan Hedonistik

Budaya materialistik dan hedonistik adalah hidup berlimpah materi dan berkesenangan. Manusia diukur dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dsb), bukan karakter. Pengorbanan, menanggung penderitaan, askese dan tapa, kesederhanaan dan kerelaan untuk melepaskan nikmat demi cita-cita luhur tidak mempunyai tempat dalam budaya materialistik dan hedonistik. Budaya materialistik dan hedonistik itu antara lain melahirkan sikap konsumerisme. Konsumerisme adalah sikap orang yang terdorong untuk terus-menerus menambahkan tingkat konsumsi, bukan karena konsumsi itu dibutuhkan, melainkan lebih demi status yang dianggap akan diperoleh melalui konsumsi
tinggi itu. 

Individualisme
Individualisme umumnya muncul akibat dari perkembangan sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sedang berlangsung. Sikap individualistik ini umumnya muncul pada masyarakat yang hidup di kota, terutama pada masyarakat kelas menengah ke atas. Sikap individualistik ini umumnya jarang
terjadi pada kaum petani, nelayan, tukang, dan pedagang tradisional yang pekerjaannya tidak 

terpisahkan dari kehidupan keluarga.

Gaya hidup modern memisahkan dengan tajam antara dua bidang itu. Hidup dalam keluarga dan pekerjaan semakin tidak ada sangkut-pautnya satu sama yang lain. Pagi hari ayah secara fsik dan emosional meninggalkan rumah dan keluarganya, selama delapan sampai sebelas jam, menyibukkan
diri dengan pekerjaannya di kantor. Apabila pulang malam hari jika tidak membawa pekerjaan kantor, barulah tersedia waktunya bagi keluarganya. Dengan demikian, budaya kampung, ketetanggaan dan 

kekeluargaan dalam arti luas berubah. Orang menjadi individualistik dan privatistik. 


Pluralisme
Pluralisme berarti bahwa orang dari berbagai suku, daerah, agama, keyakinan religius, dan politik bercampur-baur di kampung-kampung, di tempat kerja, kendaraan umum, di rumah sakit, dan di mana pun juga; tidak ada masyarakat yang tertutup dan tradisional murni. Dengan kata lain, kontrol sosial terhadap pelaksanaan keagamaan dan hidup bermasyarakat rakyat makin berkurang. Lingkungan sosial semakin tidak menentukan lagi dalam hal agama, keyakinan, politik, atau kepercayaan. Orang menentukan sendiri keterlibatan dalam bidang-bidang tersebut. Dalam arti ini, agama menjadi urusan pribadi seseorang, bukan urusan masyarakat atau pemerintah. Orang tidak harus mengetahui dan tidak 

mempedulikan kepercayaan tetangganya.

Fundamentalisme
Gerakan fundamentalisme sekarang banyak muncul, baik di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Gerakan fundamentalisme ini umumnya muncul karena adanya suatu tekanan atau ketidakpuasan terhadap kelompok tertentu atau negara tertentu. Gerakan-gerakan fundamentalisme ini umumnya berkedok agama atau kepentingan politik tertentu, seperti yang
kita alami di negeri kita saat ini. Selain fundamentalisme agama dan politik, ada juga fundamentalisme yang bersifat non-agama, misalnya sukuisme, nasionalisme, dan sebagainya.

Isu Gender
Pembebasan kaum perempuan akan menjadi pembebasan umat manusia seluruhnya menuju masyarakat baru, dengan paradigma sosial baru. Dalam proses itu kita pun harus menuju pola hubungan yang sederajat sebagai mitra, dengan sikap solider-partisipatif, polisentrik dan karena itu membentuk jaringan dengan banyak simpul yang saling berhubungan. Gerakan kaum perempuan akan menjadi gerakan pembebasan yang kuat dan terasa dampaknya dalam abad ke-21 ini. Gerakan ini 

akan merombak paradigma sosial lama menuju masyarakat baru yang lebih egalitarian.

Isu Demokrasi, Otonomi, dan Hak Asasi
Alam demokratis semakin dibutuhkan pada masa sekarang, bukan saja sebagai sikap politik, tetapi sebagai sikap budaya. Secara global, demokrasi menjadi penting bukan saja karena sosialisme telah runtuh, melainkan karena liberalisme politik seakan-akan menjadi satu-satunya paham yang sekarang
berlaku. Sikap demokratis dibutuhkan terutama karena munculnya kekuatankekuatan baru yang dibawa oleh globalisasi yang telah menimbulkan berbagai perubahan yang akan menjadi produktif jika ditanggapi secara demokratis. Isu demokrasi, otonomi, dan hak asasi akan semakin kuat dalam 

millennium ini.

Isu Lingkungan Hidup
Pada tahun-tahun terakhir ini, isu lingkungan hidup menjadi sangat sentral di planet ini. Lingkungan hidup sangat erat hubungannya dengan mutu dan kelangsungan hidup manusia. Sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup dianggap sebagai perbuatan yang konyol dan bunuh diri. Budaya modern yang individualistik, rasionalistik, dan eksploitatif mulai sedikit digeser oleh budaya pasca modern yang lebih sosial dan akrab dengan alam/lingkungan hidup.


Langkah Kedua: Mendalami Ajaran Kitab Suci tentang Perlunya Bersikap Kritis Terhadap Gaya Hidup, Trend dan Ideologi yang Berkembang
a. Guru meminta peserta didik untuk membaca dan merenungkan teks Kitab Suci tentang perlunya 

    bersikap kritis terhadap gaya hidup yang berkembang (Luk 4: 1 – 13)


1 Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. 2 Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ
Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. 3 Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.” 4 Jawab Yesus kepadanya: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” 5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. 6 Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. 7 Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” 8 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” 9 Kemudian ia membawa Yesus ke Yerusalem dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah,
10 sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikatmalaikat-Nya untuk melindungi Engkau, 11 dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu
jangan terantuk kepada batu.” 12 Yesus menjawabnya, kata-Nya: “Ada frman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu! 13 Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-

Nya dan menunggu waktu yang baik.

Pertanyaan refleksi:
1). Seandainya kalian diminta menggambar kondisi Yesus yang baru selesai berpuasa dan berpantang

      selama 40 hari, 40 malam; bagaimana kondisinya saat itu?
2). Tawaran apa yang diberikan iblis kepada Yesus? Bagaimana sikap Yesus menghadapi berbagai 

      tawaran tersebut?
3). Pesan apa yang kalian peroleh dari kisah tersebut?


b. Guru mengajak peserta didik hening sejenak untuk peresapan sebelum menyimak bacaan yang 

    kedua. Dilanjutkan membaca kutipan berikut:

Mat 13: 1 – 36

1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dankamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di Surga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa
merendahkan diri, ia akan ditinggikan. 13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafk, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di
depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. 14 [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafk, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] 15 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafk, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. 16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci,
sumpah itu mengikat. 17 Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih
penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? 18 Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
19 Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? 20 Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. 21 Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. 22 Dan barangsiapa bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. 23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafk, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 24 Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. 25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafk, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. 26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu,
maka sebelah luarnya juga akan bersih. 27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafk, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih,
yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafkan dan kedurjanaan.
29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orangorang munafk, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh 30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! 33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? 34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh
dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, 35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. 36 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung
angkatan ini!” 37 “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari
dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anakanaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. 38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang 

datang dalam nama Tuhan!”

Pertanyaan refleksi:
1). Nilai-nilai apa yang dikritik Yesus dalam kutipan di atas ?
2). Nilai-nilai apa yang ditawarkan Yesus kepada para murid-Nya ?
3). Apa yang membuat Yesus berani menyampaikan kritik semacam itu ?
4). Bagaimana tanggapanmu terhadap nilai-nilai yang ditawarkan Yesus ?




c. Guru meminta peserta didik membaca kembali secara jeli kutipan di atas, lalu dalam kelompok 

    membuat perbandingkan: Nilai/ kebiasaan seperti apa yang dipraktekkan oleh Ahli taurat dan 

    Orang Farisi ? Nilai/ kebiasaan apa yang ditawarkan Yesus?
d. Setelah diskusi selesai, presentasikan hasilnya di depan kelas. Kelompok lain dapat memberi 

    tanggapan berupa pertanyaan atau komentar kepada kelompok lain setelah semua kelompok 

    selesai presentasi.
e. Bilamana perlu, guru dapat memberikan beberapa gagasan berikut:


Yesus kritis terhadap tawaran-tawaran keduniaan
Sesudah Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun, secara fsik Yesus lemah. Kondisi “lemah” tersebut dimanfaatkan oleh iblis untuk mencobai Yesus. Ia mencobai Yesus dengan menawarkan hal-hal yang menggiurkan (lih. Luk 4: 1-13).

Pertama

Jaminan social ekonomi

Kedua 

Kedudukan dan kekuasaan.

Ketiga 

Kesenangan dan kenikmatan.





Godaan-godaan iblis bertujuan agar Yesus menggagalkan pilihan (opsi) mewartakan Kerajaan Allah, dan supaya Yesus menyibukkan diri dengan jaminan sosial, ekonomi, kekuasaan, dan kesenangan. Yesus menolaknya, bukan karena hal-hal itu jelek, tetapi karena ada hal yang lebih pokok, yaitu
Kerajaan Allah!

Yesus bersikap kritis terhadap ideologi dan aliran pada zaman-Nya.
Waktu Yesus hidup di Palestina telah ada berbagai kelompok dan aliran, misalnya:

FARISI (dari kata Ibrani Pharesees = ‘terpisah’) Kelompok Farisi adalah kelompok orang-orang Yahudi saleh yang menerima hukum tertulis dan lisan dan dengan amat teliti menaati berbagai
macam kewajiban. Mereka mengecam Yesus karena Ia mengampuni dosa, melanggar peraturan Sabat, dan bergaul dengan pendosa. Sebaliknya, Yesus melawan sikap legalisme lahirilah dan formalisme pembenaran diri mereka. Mereka bekerja sama dengan para Saduki (lawan mereka) untuk

membunuh Yesus.

SADUKI
Kelompok Saduki merupakan salah satu kelompok politik Palestina zaman Yesus. Mereka mempunyai pengaruh besar dalam bidang politik. Mereka berhubungan erat dengan para Imam Agung, kaum ningrat, dan golongan konservatif. Dalam hal agama, mereka menolak tradisi lisan,
kebangkitan orang mati, dan adanya malaikat. Mereka menentang Yesus dan bersama para Farisi mengusahakan penyaliban Yesus, karena Yesus dianggap mengancam kedudukan politis dan 

kepentingan mereka.

ESENI (mungkin berasal dari kata Ibrani Kasidim =’orang-orang setia’) Kelompok Eseni ini menganggap diri sebagai orang terpilih dari antara orang-orang saleh. Mereka hidup bermatiraga melaksanakan Hukum Taurat dengan sangat ketat, hidup berkelompok tanpa milik pribadi, dan sebagian dari mereka tidak menikah. Mereka hidup demikian karena yakin bahwa mereka akan bangkit dan hidup pada akhir zaman, waktu di mana hampir semua orang menjadi murtad termasuk 

pimpinan bangsa dan imam-imam Yahudi.

ZELOT
Kelompok Zelot adalah pejuang-pejuang kemerdekaan Yahudi melawan orang-orang Roma pada awal abad pertama Masehi dan dalam perang yang berakhir dengan kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Yesus ternyata tidak memilih salah satu dari kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut di atas. Yesus memilih aliran dan gerakan-Nya sendiri, yaitu mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah. Dalam rangka mewartakan dan memberi kesaksian tentang Kerajaan Allah, Yesus menyapa orang-orang miskin. Walaupun ia berasal dari kelompok kelas menengah, Yesus secara sosial bercampur dengan orang-orang yang paling rendah dan menyamakan diriNya dengan mereka. Mereka adalah orang miskin, buta, lumpuh, kusta, kerasukan setan (dikuasai oleh roh najis), pendosa, pelacur, pemungut cukai, rakyat gembel yang buta hukum, lintah darat, dan penjudi. Mereka ini dianggap oleh orang Farisi sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang, tidak berguna atau najis. Mereka harus disingkirkan dari pergaulan masyarakat, karena menyimpang dari hukum dan warisan adat-istiadat. Bersikap kritis terhadap media dan ideologi tanpa tanggung jawab dan dasar yang kuat akan menyebabkan kita hanya ingin tampil beda saja. Sebagai murid Kristus, sikap kritis harus berdasar dan dapat dipertanggung jawabkan. Kita harus mengkritisi berbagai media, cara pandang, dan ideologi yang mempengaruhi kita agar kita menemukan kehidupan yang autentik (dapat dipercaya) atau yang sejati. Budaya modern dengan berbagai teknologi, gaya hidup, dan ideologi cenderung tidak lagi memusatkan nilai iman dan hanya sedikit memberi dukungan untuk menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap kritis pada media dan berbagai ideologi

menunjukkan bahwa kita mempunyai sikap iman.


• Sikap iman merupakan bentuk sikap bagaimana kita menerima Allah dan kasih Allah yang 

  diwahyukan kepada kita dalam pribadi Yesus melalui komitmen-komitmen kita.
• Sikap kritis terhadap ideologi yang ada, semestinya membuat kita mampu bertahan dan berkembang 

   sebagai seorang Kristen sejati di tengahtengah dunia ini.
• Konsekuensi dan dasar dari hidup kritis adalah berani menyatukan diri ke dalam perkembangan 

  dunia, dan berani melepas apa yang “nikmat” dan menjadi murid Kristus.

Sikap kritis mempunyai 3 proses dasar:
• Berusaha memusatkan diri pada perkembangan nilai-nilai atau cita-cita yang kita anggap luhur.
• Berusaha memalingkan diri dari keegoisan dan mengarahkan segala perhatian kepada kepentingan 

  bersama.
• Membuka perhatian kepada hidup yang lebih sempurna, yaitu ke arah hidup Allah sendiri.

Langkah Ketiga: Menghayati Sikap Dasar Kristiani Berhadapan dengan Gaya Hidup, Ideologi, dan Tren yang Berkembang dalam Masyarakat

a. Dalam keadaan hening, peserta didik menuliskan dalam kolom seperti di bawah tentang gaya hidup, 

    ideologi atau tren yang dirasakan sudah menjadi bagian hidupnya, kemudian merumuskan sikap

    kritis, serta nilai hidup yang sesuai dengan iman Katolik yang ingin diperkembangkan


Gaya hidup, ideologi,
tren dalam diriku

Bahaya bagi diriku bila tetap
dipertahankan

Nilai yang ingin
dikembangkan





b. Peserta didik dapat mensharingkan hasil refleksinya kepada teman-teman kelompoknya (sebaiknya 

    kelompok kecil, maksimal 5 orang). Setiap anggota kelompok diminta mengingat keprihatinan dan

    niat dari anggota kelompoknya.
c. Selesai sharing, semua anggota kelompok berdiri, lalu satu persatu berdiri di tengah kelompok, 

    anggota kelompok secara bergilir menumpangkan tangan sambil mendoakan anggota kelompok 

    yang berdiri di tengah.











Doa Penutup
Guru mengajak para peserta didik untuk mendaraskan bersama Mzm 139 berikut ini:

1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
2 Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,3 yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan
yang ditunjukkan-Nya. 4 Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. 5 Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!
6 Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu.
7 Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.
8 Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.
9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan frman-Mu. 10 Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku
menyimpang dari perintah-printah-Mu. 11 Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. 12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. 13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan.
14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. 15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalanMu. 16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; frman-Mu tidak akan kulupakan. Kemuliaan kepada Allah, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad, Amin.

Penilaian
Aspek Pengetahuan
1. Jelaskan arti dan makna suara hati?
2. Jelaskan makna suara hati dilihat dari segi waktu kebenaran dan 

    kepastiannya?
3. Bertolak dari pemahamanmu tentang suara hati dari dokumen Gaudium et
    Spes artikel 16, jelaskan mengapa manusia harus menaati suara hati?
4. GS 16 menekankan bahwa suara hati bukan milik manusia dengan agama
    tertentu. Bagaimana suara hati harus dikembangkan dalam kaitan dengan
    persoalan-persoalan hidup manusia pada umumnya?
5. Sebutkan faktor-faktor penyebab tumpulnya suara hati?
6. Sebutkan beberapa cara-cara untuk membina suara hati?
7. Apa pesan Kitab Suci (Gal 5:16-25) yang berhubungan dengan suara hati?
8. Sebutkan dampak positif serta negatif dari penggunaan alat teknologi
    informasi pada pada era digital saat ini.
9. Bagaimana pandangan Gereja tentang media massa berdasarkan Dekrit
    Konsili Vatikan II tentang Komunikasi sosial(Intermerifca, Art. 9 & 10).
10. Sikap atau nilai apa saja yang dikritik Yesus dari orang-orang Farisi dalam
      Mrk 2:23-38? Nilai atau sikap apa yang ditawarkan Yesus?
11. Salah satu ideologi, paham atau pandangan hidup yang berkembang dalam
      masyarakat adalah “Orang jujur itu akan hancur”. Apa dampak negatif dari
      ideologi, paham atau pandangan semacam itu?


12. Gaya hidup remaja seperti apa yang menjadi keprihatinanmu saat ini? Gaya
      hidup seperti apa yang ditawarkan Yesus yang dapat dianggap sebagai  

      Solusi atas keprihatinanmu itu?


Aspek Keterampilan:
1. Membuat refleksi tertulis berkaitan dengan niat untuk bertindak menuruti
    suara hatinya dalam kehidupan sehari-hari, bersikap kritis terhadap media
    massa dan teknologi komunikasi, dan budaya hidup alternatif menghadapi
    budaya, gaya hidup, tren, dan ideologi yang tidak sesuai dengan iman 

    kristiani
2. Membuat motto, semboyan, doa, puisi atau renungan yang berisi ajakan  

    untuk bertindak sesuai hati nurani, untuk bersikap kritis terhadap media

    massa, bersikap kritis terhadap ideologi, tren dan gaya hidup yang tidak

    membangun
Aspek Sikap
1. Terbiasa bertindak dengan suara hati, yang nampak dalam sikap jujur dan
    menjunjung tinggi kebenaran.
2. Bersikap kritis dan bijaksana dalam menggunakan media massa dan  

    teknologi
3. Bersikap kritis dan bijaksana dalam menghadapi berbagai ideologi, tren dan
    gaya hidup yang tidak sesuai dengan iman kristiani

Pengayaan

Peserta didik mencari dari berbagai sumber (mass media cetak maupun elektronik, tokoh agama, tokoh masyarakat, teman sebaya, orang tua, dan
sebagainya) untuk memperoleh informasi, atau pengalaman atau paham/
pandangan, yang berkaitan dengan tema: suara hati, dampak positif dan negatif
media massa, dampak positif dan negatif berbagai ideologi, tren dan gaya
hidup yang sedang berkembang Hal itu dapat dilakukan dengan studi literatur,
pengamatan, survei, wawancara dan teknik pengumpulan data yang dikuasai

peserta didik.
Remedial
Remedial diarahkan pada penguasaan indikator-indikator kunci pada bab ini,
antara lain:
1. Menjelaskan secara lisan atau tertulis alasan manusia harus menaati suara
    hati, cara membina suara hati, teladan Yesus dalam bertindak sesuai suara
    hati.
2. Menjelaskan secara lisan atau tertulis pandangan Gereja tentang sikap
    manusia dalam menggunakan media massa dan teknologi komunikasi





3. Menjelaskan secara lisan atau tertulis berbagai wujud ideologi, tren dan gaya
    hidup yang tidak sesuai dengan iman kristiani, serta berbagai contoh ideologi,
    tren dan gaya hidup yang perlu dikembangkan .




                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                          Guru Bidang Studi

  



                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                                         BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                         NIP.19660826 200501 1 001




Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001






























                MODUL KELAS X MATERI 8


Kitab Suci Perjanjian Lama

Capaian Pembelajaran
3.7 Memahami Kitab Suci dan Tradisi sebagai dasar iman kristiani
4.7 Menghayati Kitab Suci dan Tradisi sebagai dasar iman kristiani
Tujuan Pembelajaran
1. Dengan mendalami legenda Sangkuriang dan Kisah Penciptaan (Kej 2: 7; 18; 21-24) peserta didik

    memahami pentingnya tradisi lisan sebagai sarana pewarisan nilai-nilai luhur sebelum munculnya 

    tradisi tulis
2. Dengan menemukan data-data dari Kitab Suci dan dari berbagai sumber, peserta didik mampu 

    memahami isi Kitab Suci Perjanjian Lama, sejarah tersusunnya dan kanonisasi Perjanjian Lama
3. Melalui latihan merenungkan salah satu kutipan, peserta didik mampu memahami Kitab Suci 

    sebagai frman Allah dan pentingnya mendalami Kitab Suci Perjanjian Lama
Indikator Hasil Belajar
1. Menjelaskan pentingnya membaca Kitab Suci Perjanjian Lama
2. Menyebutkan garis besar kronologis tersusunnya Kitab Perjanjian Lama
3. Menjelaskan makna istilah “Perjanjian” dalam Perjanjian Lama
4. Menyebutkan bagian-bagian Kitab Perjanjian Lama
5. Merumuskan pesan Tuhan yang terdapat dalam salah satu perikope Kitab Perjanjian Lama.
Bahan Kajian
1. Pentingnya membaca Kitab Suci Perjanjian Lama
2. Kronologis tersusunnya Kitab Perjanjian Lama
3. Makna istilah “Perjanjian” dalam Perjanjian Lama
4. Kitab-kitab dalam Perjanjian Lama
5. Merumuskan pesan Tuhan yang terdapat dalam salah satu perikope Kitab
Perjanjian Lama.
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk.
Metode
1. Diskusi
2. Dialog interaktif
3. Refleksi
4. Berlatih merenungkan Kitab Suci


Sumber Belajar
1. Baker, David L,.Dr . 1997. Mari Mengenal Perjanjian Lama : Pentingnya
  Mempelajari Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia Halaman : 13-14)
2. Dokpen KWI. 1993. Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Obor
3. Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, Flores,
4. Konferensi Wali Gereja Indonesia.1995. Iman Katolik. Yogyakarta :Kanisius
5. Kristianto Yoseph, dkk. 2010 Menjadi Murid Yesus, Pendidikan Agama
    Katolik untuk SMA/K Kelas X. Yogyakarta: Kansius
6. Marsunu Seto.YM. 2008. Allah Leluhur Kami. Yogyakarta:Kanisius
7. Marsunu Seto.YM. 2008. Dari Penciptaan Sampai Babel. Yogyakarta:Kanisius
Waktu
3 Jam Pelajaran


Pemikiran Dasar

Bagi umat beriman Kitab Suci memegang peranan yang sangat penting. Ia menjadi sumber tertulis yang utama untuk memahami karya penyelamatan Allah kepada manusia sepanjang zaman. Ia juga menjadi sumber referensi dan inspirasi untuk mengembangkan imannya. Karena kedudukan dan perannya yang sangat penting itu, maka setiap orang beriman perlu memahami Kitab Suci secara benar. Pemahaman tersebut akan berpengaruh pada sikap dan tindakan orang beriman dalam mendudukkan dan memperlakukan Kitab Suci bagi kehidupan berimannya. Pemahaman yang benar itu menyangkut pemahaman tentang sejarah terjadinya, latar belakang atau konteks sejarah saat Kitab Suci itu disusun, latar belakang penulisnya, jenis sastra dalam penulisannya, isi dan maksud penulisannya Kitab Suci Perjanjian Lama seperti yang dimiliki umat Kristiani saat ini disusun melalui proses yang panjang sekitar lebih dari sepuluh abad, sejak abad XI SM sampai kurang lebih abad I Sesudah Masehi. Pada mulanya berupa kumpulan cerita-cerita tentang pengalaman bangsa Israel dalam hubungannya dengan sejarah bangsanya dan sekaligus peranan serta kehadiran Allah dalam
seluruh perjalanan hidup mereka. Pengalaman-pengalaman penyelamatan Allah sepanjang sejarah mereka itu diceritakan kepada anak cucu mereka secara turuntemurun. Hingga suatu saat ada orang-orang tertentu, yang mendapat ilham Roh Kudus menyusun dan menuliskannya menjadi sebuah buku 

utuh seperti yang kita miliki sekarang ini.

Melalui kegiatan pembelajaran tentang Kitab Suci Perjanjian Lama, para peserta didik diajak untuk mengenal Alkitab sebagai buku kesaksian iman bangsa Israel sekaligus sebagai frman Tuhan yang tertulis. Kitab Suci bukanlah Kitab Sejarah, walaupun di dalamnya terdapat unsur-unsur sejarah. Para peserta didik diberi peneguhan tentang proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Lama secara garis besar. Kemudian, para peserta didik diberi penjelasan tentang pembagian Kitab Suci Perjanjian Lama 

dan akhirnya diuraikan tentang pentingnya mendalami sabda Tuhan dalam Kitab Suci.


Kegiatan Pembelajaran
Doa Pembuka
Allah Yang Mahamurah, melalui berbagai cara dan peristiwa, Engkau senantiasa mewahyukan Diri kepada manusia. Melalui berbagai cara dan peristiwa itu pula, Engkau mengajak manusia semakin dekat dengan-Mu. Hari ini kami ingin memahami pengalaman dan perjalanan hidup bangsa Israel
dalam mengimani Engkau. Semoga melalui pelajaran ini, kami semakin mengenal dan mencintai-Mu

 lebih baik lagi. Amin

Langkah Pertama: Menggali Pentingnya Tradisi Lisan Sebagai Sarana Pewarisan Nilai-Nilai Luhur dalam Masyarakat
a. Guru memberikan pengantar singkat, misalnya:

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar berbagai macam legenda yang ada dalam masyarakat. Umumnya tidak pernah ada yang tahu, kapan legenda tersebut mulai muncul, sebab legenda tersebut awalnya diceritakan secara lisan dan secara turun temurun, hingga suatu saat ada
orang-orang yang menuliskannya. Itulah sebabnya sering ditemui pula, legenda yang sama tetapi 

dalam penuturannya berbeda. Seperti legenda berikut
b. Guru mengajak peserta didik menyimak pentingnya tradisi lisan dengan
    mendalami cerita legenda Gunung Tangkuban Perahu.

Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Awalnya diceritakan di kahyangan ada sepasang dewa dan dewi yang berbuat kesalahan, maka oleh Sang Hyang Tunggal mereka dikutuk turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi babi hutan (celeng) bernama celeng Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing
bernama si Tumang. Mereka harus turun ke bumi menjalankan hukuman dan bertapa mohon pengampunan agar dapat kembali ke wujudnya menjadi dewadewi kembali. Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara tengah pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan), dalam versi lain disebutkan air kemih sang raja tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bertapa sedang kehausan, ia kemudian tanpa sengaja meminum air seni sang raja tadi. Wayung Hyang secara ajaib hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik, karena pada dasarnya ia adalah seorang dewi. Bayi cantik itu ditemukan di tengah hutan oleh sang raja yang tidak menyadari bahwa ia adalah putrinya. Bayi perempuan itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi
nama Dayang Sumbi alias Rarasati. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Dayang Sumbi pun atas permintaannya sendiri mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir
dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si
Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan. Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan
buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan
kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan sendok yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga terluka. Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah. Dayang Sumbi yang menyesali perbuatannya telah mengusir anaknya, mencari dan memanggilmanggil Sangkuriang ke hutan memohonnya untuk segera pulang, akan tetapi Sangkuriang telah pergi. Dayang Sumbi sangat sedih dan memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya.
Untuk itu Dayang Sumbi menjalankan tapa dan laku hanya memakan tumbuh-tumbuhan dan sayuran mentah (lalapan). Sangkuriang sendiri pergi mengembara mengelilingi dunia. Sangkuriang pergi berguru kepada banyak pertapa sakti, sehingga Sangkuriang kini bukan bocah lagi, tetapi telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi-ibunya. Karena Dayang Sumbi melakukan tapa dan laku hanya memakan
tanaman mentah, maka Dayang Sumbi menjadi tetap cantik dan awet muda. Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya,
dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang
Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya. Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan
bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hamper tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya, maka Dayang Sumbi pun
berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang 

disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Sangkuriang_(legenda)

c. Guru meminta peserta didik mendiskusikan beberapa pertanyaan berikut
• Apakah kalian meyakini terjadinya gunung Tangkuban Perahu seperti legenda di atas?
• Adakah teori-teori yang kalian ketahui tentang terbentuknya sebuah gunung atau gunung berapi?
• Ajaran/nilai/norma apa yang hendak diwariskan melalui cerita legenda tersebut?
• Masih relevankah ajaran/nilai/norma yang terdapat dalam cerita di atas untuk manusia zaman 

  sekarang?
• Legenda apa saja yang ada di daerahmu?Apa ajaran/nilai yang hendak diwariskan dalam legenda

   tersebut?
d. Bila diperlukan guru dapat menegaskan beberapa pokok berikut:
• Dalam masyarakat terdapat banyak cara untuk memelihara dan meneruskan nilai-nilai luhur bagi  

  generasi selanjutnya. Penerusan nilainilai luhur tersebut dapat memakai sarana pantun, lagu,

  kebiasaan, atau cerita legenda
• Cerita Sangkuriang hendak menyampaikan nilai: bahwa cinta dan mencintai orang lain, sekalipun 

  merupakan hak semua orang, tetap harus diterapkan secara benar. Maka orang yang menikahi

  saudara dekatnya, apalagi orang tuanya sangat ditentang.
• Di kemudian hari dalam penelitian kedokteran, ternyata legenda itu dapat dibuktikan. Banyak 

  keturunan dari perkawinan sedarah mengalami berbagai cacat

Langkah Kedua: Memahami Kitab Suci Perjanjian Lama.
a. Beberapa bagian Kitab Suci disampaikan dalam kesusastraan yang berbentuk bentuk legenda. 

    Bacalah Kej 1:1-31 tentang Tuhan yang menciptakan bumi dan segala isinya:


1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
3 Berfrmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. 4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap 5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. 6 Berfrmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” 7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi,
itulah hari kedua. 9 Berfrmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul
pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. 10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamaiNya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
11 Berfrmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian. 12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang
berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga. 14 Berfrmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahuntahun, 15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. 16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai
malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari
gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. 20 Berfrmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” 21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, frman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burungburung di bumi bertambah banyak.” 23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima. 24 Berfrmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan
jadilah demikian. 25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala
jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 26 Berfrmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burungburung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala Binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfrman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29 Berfrmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhtumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.



Coba pikirkan: Betulkah penciptaan bumi dan segala isinya berjalan seperti dikisahkan di atas? Adakah teori-teori lain yang berbicara tentang penciptaan bumi dan segala isinya? ajaran/nilai/norma apa yang hendak disampaikan dari kisah penciptaan tersebut?


b. Memahami Jenis Sastra dalam Perjanjian Lama:
Dokumen Konsili vatikan II tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum) menjelaskan bahwa untuk menafsirkan Perjanjian Lama secara benar, salah satunya adalah memperhatikan “Jenis sastra”. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas
yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis (ramalan/nubuat), atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya.
• Untuk memahami jenis sastra dalam Perjanjian Lama, cobalah membaca secara acak satu perikope 

  dari Kitab I Raja-raja, satu perikope dari Kitab Imamat, satu perikope dari Kitab Amsal, satu

  perikope dari Kitab Mazmur!
• Apakah kalian merasakan sendiri adanya perbedaan dalam penuturan Isi Perjanjian Lama? 

  Termasuk jenis sastra apa Kitab Raja-raja, Kitab Imamat, Kitab Amsal, Kitab Mazmur?



c. Mendafar dan mengelompokkan Kitab-kitab Perjanjian Lama:
    Kitab Suci Perjanjian Lama dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok yaitu 1) Pentateukh  

    atau Taurat, 2) Kitab-Kitab Sejarah, 3) KitabKitab Kebijaksanaan dan Sesembahan atau Pujian, 

    serta  4) Kitab-Kitab Kenabian atau Para Nabi.
• Bukalah Alkitab kalian, lalu lihatlah dafar isinya, kemudian masukkan nama-nama kitab tersebut

  menurut pengelompokannya


Pentateukh atau
Taurat

Kitab-kitab
Sejarah

Kitab-kitab Kebijaksanaan
dan sesembahan/Pujian

Kitab-kitab Kenabian atau para Nabi



d. Memahami Isi Pokok Perjanjian Lama:

Tentang Perjanjian Lama, Dokumen Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum) , artikel 14 menyatakan: Allah Yang Mahakasih dengan penuh perhatian merencanakan dan menyiapkan keselamatan segenap umat manusia. Dalam pada itu Ia dengan penyelenggaraan yang istimewa memilih bagi diri-Nya suatu bangsa, untuk diserahi janji-janji-Nya. Sebab setelah mengadakan perjanjian dengan Abraham (lih. Kej 15:18) dan dengan bangsa Israel melalui Musa (lih. Kel 24:8), dengan sabda maupun karya-Nya Ia mewahyukan Diri kepada umat yang diperolehNya sebegai satu-satunya Allah yang benar dan hidup sedemikian rupa, sehingga Israel mengalami bagaimanakah Allah bergaul dengan manusia. Dan ketika Allah bersabda melalui para Nabi, Israel semakin mendalam dan terang memahami itu, dan semakin meluas menunjukkannya di antara para bangsa
(lih. Mzm 21:28-29; 95:1-3; Yes 2:1-4; Yer 3:17). Adapun tata keselamatan, yang diramalkan, diceritakan dan diterangkan oleh para pengarang suci, sebagai sabda Allah yang benar terdapat dalam Kitab-kitab Perjanjian Lama. Maka dari itu kitab-kitab itu, yang diilhami oleh Allah, tetap mempunyai nilai abadi: “Sebab apapun yang tertulis, ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita karena kesabaran dan penghiburan Kitab Suci mempunyai pengharapan” (Rom 15:4).
• Bertolak dari dokumen di atas, rumuskanlah: Apa isi Pokok Kitab Suci Perjanjian Lama?

e. Memahami Hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
    Dokumen Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi (Dei Verbum), artikel16, 

    menyatakan sebagai berikut:


Allah, pengilham dan pengarang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Baru, dalam kebijaksanaan-Nya mengatur (Kitab Suci) sedemikian rupa, sehingga Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama terbuka dalam Perjanjian Baru. Sebab meskipun Kristus mengadakan
Perjanjian yang Baru dalam darah-Nya (lih. Luk 22:20; 1Kor 11:25), namun Kitab-kitab Perjanjian Lama seutuhnya ditampung dalam pewartaan Injil, dan dalam Perjanjian Baru memperoleh dan memperlihatkan maknanya yang penuh (lih. Mat 5:17; Luk 24:27; Rom 16:25-26; 2Kor 3:14-16) dan 

sebaliknya juga menyinari dan menjelaskan Perjanjian Baru.
• Bertolak dari dokumen di atas, rumuskanlah: hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru!

f. Makna istilah “Perjanjian Lama”


• Istilah “Perjanjian Lama” dipergunakan untuk membedakan dengan “Perjanjian Baru”. Dalam sejarah keselamatan, relasi manusia dengan Allah diikat dengan perjanjian, yang dalam Perjanjian Lama manusia diwakili oleh bangsa Israel, teristimewa melalui para pemimpin mereka. Perjanjian itu adalah perjanjian kasih yang menyelamatkan. Dalam perjanjian itu, Allah berjanji akan senantiasa 

menyelamatkan manusia, dan dari pihak manusia Allah menuntut kesetiaan.


• Sayangnya kesetiaan Allah itu seringkali dibalas dengan ketidaksetiaan Israel. Maka Allah yang  adalah setia tetap menjanjikan penyelamatan pada manusia dengan cara memperbaharui perjanjian melalui putraNya sendiri Yesus Kristus. Maka Perjanjian Lama menunjuk pada perjanjian

antara manusia dengan Allah sebelum Kristus.


• Walaupun “Perjanjian Lama” pada dasarnya belum sempurna dan telah ternodai, namun apa yang diungkapkan di dalamnya tetap penting, sebab ia mengungkapkan kepada manusia semua orang pengertian tentang Allah dan manusia serta cara-cara Allah yang adil dan rahim; bergaul dengan
manusia. Meskipun juga mencantumkan hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, Kitab-Kitab memaparkan cara pendidikan ilahiah yang sejati. Maka Kitab-Kitab itu mengungkapkan kesadaran hidup akan Allah, yang mencantumkan ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang perikehidupan manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan. Dan terutama, karena di dalamnya memuat janji kedatangan Kristus Penebus,
mempersiapkan warta, Kerajaan Allah, yang dinyatakan dalam nubuatnubuat (lih. Luk 24:44 Yoh 

5:39; 1Ptr 1:10), dengan pelbagai lambang (lih. 1Kor 10:11)


• Ini pula yang menjadi dasar Paulus ketika ia mengatakan: “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung ini masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca Perjanjian Lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat
menyingkapkannya (2 Kor 3:14). Maka “perjanjian lama” hanya mungkin dipahami bila kita juga 

memahami “perjanjian baru” dalam Kristus.


g. Masuklah dalam kelompok, carilah dari berbagai sumber hal-hal yang berkaitan dengan Kanonisasi 

    dan Kitab Deuterokanonika, Proses Penyusunan Perjanjian Lama,
Proses Penyusunan Kitab Suci Perjanjian Lama
• Kitab –kitab yang termasuk dalam Kitab Suci Perjanjian Lama itu ada 46. Tentu saja kitab-kitab itu tidak ditulis dalam waktu bersamaan, melainkan melalui suatu proses panjang. Berikut ini garis besar proses tersusunnya Kitab Suci Perjanjian Lama.
• Secara garis besar Kitab Suci Perjanjian Lama memuat dua bagian besar, yakni Kitab Prasejarah dan Kitab Sejarah. Kitab Prasejarah, mulai dari Kisah Penciptaan sampai dengan Menara Babel (Kej 1-11), sedangkan Kitab Sejarah Israel mulai dari Abraham yang hidup sekitar tahun 2000/1800 sebelum Masehi sampai menjelang Yesus Kristus. Namun, sejarah yang ditulis dalam Perjanjian Lama lebih merupakan sejarah iman. Maka, untuk mengetahui proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian
Lama, sebaiknya dimulai dengan awal sejarah Israel yaitu sekitar tahun 1800 sebelum Masehi.
• Maka untuk mengetahui proses tersusunnya Kitab Suci Perjanjian Lama, proses akan dimulai pada saat awal sejarah Israel, yaitu sekitar tahun 1800 SM


Antara tahun 1800 - 1600 S.M.: Zaman Bapa-bapa bangsa (Abraham–Ishak–Yakub). Periode ini adalah awal sejarah bangsa Israel yang dimulai dari panggilan Abraham sampai dengan kisah tentang
Yakub. Dalam tahun inilah Bapa-bapa bangsa hidup. Sebagian kisah mereka tersimpan dalam 

Kej 12 - 50. Kisah ini kemudian diteruskan secara lisan turun temurun.


Antara tahun 1600 - 1225 S.M.: Kisah bangsa Israel mengungsi ke Mesir, perbudakan di Mesir, pembebasan dari Mesir sampai Perjanjian di Sinai. Kisah-kisah tersebut juga masih disampaikan secara lisan. Mungkin sekali 10 perintah Allah dalam rumusan yang pendek sudah ditulis pada masa 

ini sebagai pedoman hidup.


Antara tahun 1225 - 1030 S.M.: Perebutan tanah Kanaan dan zaman Hakim-Hakim. Pada periode ini, bangsa Israel merebut tanah Kanaan yang diyakini sebagai Tanah Terjanji di bawah pimpinan Yosua dan kehidupan bangsa Israel di tanah yang baru di bawah para tokoh yang diberi gelar Hakim. Hakim-hakim itu antara lain adalah Debora, Simson, dan sebagainya. Di samping cerita pada masa 

ini, juga sudah terdapat beberapa hukum.



Antara tahun 1030 - 930 S.M.: Periode Raja-Raja. Pada periode ini, bangsa Israel memasuki tahap baru dalam kehidupannya. Mereka mulai menganut sistem kerajaan yang diawali dengan raja Saul, kemudian digantikan oleh raja Daud dan diteruskan oleh raja Salomo, putra Daud. Pada masa inilah bangsa Israel menjadi cukup terkenal dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Pada zaman raja Saul, Daud, dan Salomo, bagian-bagian Kitab Suci Perjanjian Lama mulai ditulis. Misalnya, Kisah
Penciptaan Manusia, Manusia jatuh dalam dosa dan akibatnya, Bapabapa Bangsa, Kisah Para Raja, 

beberapa bagian Mazmur, dan hukumhukum.


Antara tahun 930 - 722 S.M.: Kerajaan Israel dan Yahuda. Sesudah raja Salomo wafat, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Utara (Israel) dan kerajaan Selatan (Yuda). Kerajaan Utara hanya berlangsung sampai tahun 722 S.M. Pada periode ini dilanjutkan dengan penulisan Kitab-kitab Suci Perjanjian Lama yang melengkapi ceritacerita Kitab Taurat Musa serta beberapa tambahan hukum. Di samping itu, pada periode ini mulai muncul pewartaan para nabi dan kisah para nabi seperti Elia dan Elisa, Hosea, Amos. Beberapa bagian pewartaan para nabi mulai ditulis. Pada masa ini, beberapa kumpulan hukum perjanjian mulai diterapkan dan ditulis. Kita dapat membacanya dalam
kitab Ulangan.


Antara tahun 722—587 S.M.: Kerajaan Yehuda masih berlangsung sesudah kerajaan Israel jatuh. Kerajaan Yehuda atau Yuda masih tetap berdiri kokoh sampai akhirnya mereka dibuang ke Babilon pada tahun 587 S.M. Pada masa ini beberapa tradisi tertulis tentang kisah bapabapa bangsa mulai disatukan. Demikian juga, pewartaan para nabi mulai ditulis dan sebagian diteruskan dalam bentuk lisan. Pada masa ini juga muncul tulisan tentang sejarah bangsa Israel, beberapa bagian dari
Mazmur, dan Amsal.


Antara tahun 586 - 539 S.M.: Zaman pembuangan Babilon. Orangorang Israel yang berasal dari Kerajaan Yuda hidup di pembuangan Babilon atau Babel selama kurang lebih 50 tahun. Pada masa ini, penulisan Kitab Sejarah dilanjutkan. Muncul pula tulisan yang kemudian kita kenal dengan kitab Ratapan. Demikian pula halnya dengan nabinabi, pewartaan para nabi sebelum pembuangan ditulis pada masa ini. Pada periode ini juga muncul para imam yang menuliskan hukumhukum yang 

sekarang masuk dalam kitab Imamat.


Antara tahun 538 - 200 S.M: Sesudah pembuangan, bangsa Israel diizinkan pulang kembali ke tanah airnya oleh raja Persia yang mengalahkan Kerajaan Babilon. Pada masa ini kelima kitab Taurat telah
diselesaikan. Juga kitab-kitab Sejarah Yosua, Hakim-hakim, 1-2 Samuel, dan Raja-raja sudah selesai ditulis. Kitab-kitab para nabi pun sudah banyak yang diselesaikan Dari ratusan nyanyian, akhirnya dipilih 150 mazmur yang kita terima sampai sekarang. Pada masa ini muncul pula beberapa tulisan Kebijaksanaan.


Dua abad terakhir: Pada masa ini ditulislah kitab-kitab seperti:
Daniel, Ester, Yudith, Tobit, 1, 2 Makabe, Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo.
Kanonisasi Kitab Suci dan Kitab Deuterokanonika
• Kata “kanon” berasal dari bahasa Yunani “canon”, yang artinya: norma, ukuran atau pedoman. Kitab-kitab yang terdapat dalam kanon disebut kitab-kitab kanonik. Kitab-kitab yang diakui sebagai
kanonik tersebut diakui resmi sebagai Kitab Suci dan dijadikan patokan atau norma iman mereka
• Kitab-kitab Perjanjian Lama pada awalnya ditulis dalam Bahasa Ibrani (Hebrew), tetapi setelah orang-orang Yahudi terusir dari tanah Palestina dan akhirnya menetap di berbagai tempat, mereka
kehilangan bahasa aslinya, banyak keturunan mereka tidak lagi bisa menggunakan bahasa Ibrani, dan mulai berbicara dalam Bahasa Yunani (Greek) yang pada waktu itu merupakan bahasa internasional.
Oleh karena itu banyak diantara mereka membutuhkan terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani. Kebetulan pada waktu itu di Alexandria berdiam sejumlah besar orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Selama pemerintahan Ptolemius II Philadelphus (285 - 246 SM) proyek penterjemahan dari seluruh Kitab Suci orang Yahudi ke dalam bahasa Yunani dimulai oleh 70 atau 72 ahli-kitab Yahudi (mereka adalah wakil dari ke 12 suku bangsa Israel, dan tiap suku diwakili 6 orang )


• Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 - 125 SM dan disebut Septuagint, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penterjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui
sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) bagi kaum Yahudi yang terusir, yang tinggal di Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Bahasa Ibrani nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. (Jadi hampir bisa dipastikan Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menggunakan Perjanjian Lama terjemahan Septuagint. Bahkan, 300 kutipan dari Kitab Perjanjian Lama yang ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru adalah berasal dari Septuagint. Harap diingat juga bahwa seluruh Kitab Perjanjian Baru ditulis dalam

 bahasa Yunani).


• Setelah Yesus disalibkan dan wafat, para pengikut-Nya tidak menjadi punah tetapi malahan menjadi semakin kuat. Pada sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia, Palestina, mungkin sebagai reaksi terhadap Gereja. Dalam konsili Jamnia ini mereka menetapkan 

empat kriteria untuk menentukan kanon Kitab Suci mereka :
1. Ditulis dalam bahasa Ibrani;
2. Sesuai dengan Kitab Taurat;
3. Lebih tua dari zaman Ezra (sekitar 400 SM);
4. Ditulis di Palestina.


• Atas kriteria-kriteria diatas mereka mengeluarkan kanon baru untuk menolak tujuh buku dari kanon Alexandria, yaitu seperti yang tercantum dalam Septuagint, yaitu: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan
Salomo, Sirakh, Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, berikut tambahantambahan dari kitab Ester dan Daniel. (Catatan: Surat Nabi Yeremia dianggap sebagai pasal 6 dari kitab Barukh)

Hal ini dilakukan semata-mata atas alasan bahwa mereka tidak dapat menemukan versi Ibrani dari

 kitab-kitab yang ditolak di atas.


• Gereja tidak mengakui konsili rabbi-rabbi Yahudi ini dan tetap terus menggunakan Septuagint. Pada konsili di Hippo tahun 393 Masehi dan konsili Kartago tahun 397 Masehi, Gereja Katolik secara resmi menetapkan 46 kitab hasil dari kanon Alexandria sebagai kanon bagi Kitab-kitab Perjanjian Lama. Selama enam belas abad, kanon Alexandria diterima secara bulat oleh Gereja. Masing-masing dari tujuh kitab yang ditolak oleh konsili Jamnia, dikutip oleh para Bapa Gereja (diantaranya: St. Polycarpus, St. Irenaeus, Paus St. Clement, dan St. Cyprianus ) sebagai kitab-kitab yang setara dengan kitabkitab lainnya dalam Perjanjian Lama. Tujuh kitab berikut dua tambahan kitab yang ditolak tersebut dikenal oleh Gereja sebagai Deuterokanonika (=termasuk kanon kedua) yang artinya kira-

kira: “disertakan setelah banyak diperdebatkan”.


Langkah Ketiga: Menghayati Pentingnya Mempelajari
Perjanjian Lama Bagi Kehidupan
a. Sebelum memahami pentingnya Perjanjian Lama bagi kehidupan iman kita sebagai pengikut 

    Kristus, lakukanlah kegiatan berikut: 

Pilihlah salah satu perikope berikut, baca dan renungkan, kemudian rumuskan pesan yang
terdapat di dalamnya, apakah pesan itu masih relevan bagi hidupmu saat ini.
• Kejadian 11: 1-9
• Keluaran 32: 1-35
• Imamat 25: 1-22
• Mazmur 75:1-11
• Pengkotbah 11 – 12:8
• Kebijaksanaan Salomo 15:1-19
b. Setelah kalian mampu memahami isi pesan/kehendak Tuhan dalam Kitab
Suci Perjanjian Lama, maka sekarang rumuskan : apa pentingnya mempelajari
Perjanjian Lama?
c. Setelah siswa menjawab, bila dipandang perlu, guru dapat memberikan
peneguhan berikut:
• Sepanjang masa Allah senantiasa mewahyukan Diri. Pewahyuan Diri Allah pada dasarnya tertuju kepada semua manusia dari segala bangsa. Pewahyuan Diri Allah yang universal itu, ditanggapi dengan berbagai macam cara dan sikap. Dari sekian banyak bangsa manusia, ada satu kelompok bangsa yang menanggapi pewahyuan Diri Allah itu secara khas, yaitu bangsa Israel, yang sekaligus dipakai Allah untuk menjadi sarana dalam menyampaikan rencana penyelamatan-Nya, sebagaimana
terungkap dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama.


• Mengingat isi Perjanjian Lama yang sangat penting itu, maka membaca dan mendalami Kitab Perjanjian Lama merupakan keharusan.
Pertama, dengan mempelajari Perjanjian Lama, kita akan melihat bagaimana Allah secara terus-menerus dan dengan setia menyatakan Diri-Nya untuk dikenal; dan bagaimana bangsa Israel menanggapi pewahyuan Allah itu. Hubungan timbal-balik antara Allah dengan bangsa Israel tersebut dapat menjadi cermin bagi manusia yang hidup zaman sekarang dalam membangun relasi yang lebih baik dengan Allah.
Kedua, Kitab Suci Perjanjian Lama bukan buku yang pertamatama hendak menguraikan fakta-fakta sejarah, melainkan dan terutama hendak mengungkapkan Allah yang berfrman, yang menyampaikan
rencana dan tindakan penyelamatan kepada manusia. Perjanjian Lama adalah Firman Allah. Karena Firman Allah, maka manusia diminta untuk mau mendengarkan dan menjalankan apa yang difrmankan-Nya.

Ketiga, beberapa bagian kitab Perjanjian Lama berisi nubuatnubuat tentang Juru Selamat yang dijanjikan Allah, yang digenapi dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, pemahaman diri Yesus Kristus sebagai penggenapan janji Allah dapat sepenuhnya dipahami bila kita mempelajari Perjanjian Lama.
Keempat, Yesus sendiri sebagai orang Yahudi mendasarkan pengajaran-Nya dari Kitab Perjanjian Lama. Ia tidak meniadakan Perjanjian Lama, melainkan meneguhkan dan sekaligus memperbaharuinya.


d. Guru membimbing peserta didik hening, sambil diselingi lagu dari Puji Syukur 373, atau musik 

    atau lagu lain yang sesuai. Misalnya:
Lagu bait 1:
3 3 3 3 5 5 | 3 3 2 1 2 3 |
Bersabdalah Tuhan Kami Mendengarkan
5 5 5 5 1 1 | 5 5 4 3 2 1 |
Bersabdalah Tuhan Kami Mendengarkan
Anak-anakku yang terkasih, seorang penyair, Anthony de Mello menceritakan kisah berikut:
Seorang murid mengeluh kepada gurunya: “Bapa menceritakan banyak kisah, tetapi tidak pernah menerangkannya kepada kami!” Sang guru menjawab: “Anakku, bagaimana pendapatmu, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahnya terlebih dahulu untukmu?”
Hening.....
Lagu: Bait 2 Sabdamu Ya Tuhan Roh Dan Kehidupan 2 X

Hari ini, kita belajar tentang Kitab Suci Perjanjian Lama. Di awal kita mendiskusikan, bahwa banyak orang tidak membacanya dengan berbagai alasan. Ada yang karena merasa sulit memahami, ada yang memang malas, ada yang merasa tidak penting. Hari ini juga, kita belajar memahami bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama berisi frman Allah. Maka, barang siapa yang membaca dan merenungkannya dengan tekun dapat menangkap kehendak Allah di dalamnya.
Hening.....
Lagu Bait 3: Sabdamu Ya Tuhan Sungguh Mengagumkan 2X
Karena Kitab Suci berisi frman Allah, Untuk memahaminya kita tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan akal budi kita Kita membutuhkan iman dan membiarkan Roh hadir saat kita membaca Kitab
Suci Kita butuh hati yang terbuka untuk Allah yang bersabda pada diri kita
Hening.... Lagu Bait 4: Sabdamu Ya Tuhan Dasar Hidup Kami 2X
Mungkin satu dua kali kita sulit memahaminya Tetapi dengan membaca dan membacanya terus menerus kita akan mendapatkan pesan Allah bagi kehidupan kita. Sekarang berjanjilah dalam dirimu sendiri, Untuk mencoba dan mencoba menemukan kehendak Allah itu dengan giat
membaca Kitab Suci dan terutama bersedia hidup seturut kehendak Allah sebagaimana tersirat
dalam Kitab Suci
Hening....
Lagu Bait 5: Pada Sabda Tuhan Kami Akan Patuh 2X



Doa penutup:
Guru mengajak para peserta didik menutup pelajaran dengan mendaraskan
bersama Amsal 30:4-9 berikut ini:


4 Siapakah yang naik ke Surga lalu turun? Siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamnya? Siapakah yang telah membungkus air dengan kain? Siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi? Siapa namanya dan siapa nama anaknya? Engkau tentu tahu! 5 Semua frman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.
6 Jangan menambahi frman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.
7 Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: 8 Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. 9 Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan 

mencemarkan nama Allahku.



                             Mengetahu    

                             Kepala Sekolah                                                          Guru Bidang Studi

  




                      OLGA Y. POSUMAH, S.Pd                                         BENEDIKTUS BAO LILE, S.Pd, M.Pd

                      NIP.19741010 200012 2 004                                         NIP.19660826 200501 1 001


Mengetahui

Pengawas PAK





Dra. OLIVA L. M. KAWUNG

NIP.196910232000032001












MODUL KELAS X MATERI 9


Kitab Suci Perjanjian Baru


Capaian Pembelajaran
3.7. Memahami Kitab Suci dan Tradisi sebagai dasar iman kristiani
4.7. Menghayati Kitab Suci dan Tradisi sebagai dasar iman kristiani
Tujuan Pembelajaran:
1. Dengan membandingkan isi puisi dan cerita pengalaman dengan contoh kutipan Kitab Suci, peserta 

    didik mampu memahami bahwa tradisi tulis sangat dipengaruhi oleh latar belakang sang penulis
2. Melalui kegiatan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, peserta didik mampu memahami 

    makna kata Perjanjian Baru, sejarah tersusunnya, kitab-kitab yang ada di dalamnya serta

    pentingnya mendalami Kitab Suci Perjanjian Baru
3. Melalui latihan mendalami salah satu kutipan, peserta semakin menghayati Perjanjian Baru sebagai 

    frman Allah
Indikator Hasil Belajar
Pada akhir pelajaran, peserta didik mampu:
1. Menjelaskan proses tersusunnya Kitab Suci Perjanjian Baru;
2. Menyebutkan bagian-bagian Kitab Suci Perjanjian Baru;
3. Menjelaskan alasan membaca Kitab Suci
4. Membaca dan merenungkan Kitab Suci dengan baik.
Bahan Kajian
1. Proses terjadinya Kitab Suci Perjanjian Baru.
2. Bagian-bagian Kitab Suci Perjanjian Baru.
3. Alasan membaca Kitab Suci.
4. Usaha membaca Kitab Suci.
Pendekatan
Pendekatan Kateketis dan Pendekatan Saintifk
Metode:
1. Diskusi
2. Studi literatur
3. Sharing pengalaman iman
Sumber Belajar
1. Groenen OFM, Pengantar Kitab Suci Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius, 1980.
2. I. Suharyo. Pr., Pengantar Injil Sinoptik, Penerbit Kanisius, 1989.















BAB 1  

MANUSIA MAKLUK PRIBADI


Kita sering mendengar ada sebagian remaja yang merasa tidak puas terhad Kita sering mendengar ada sebagian remaja yang merasa tidak puas terhadap apa yang ada pada dirinya. Ia tidak puas terhadap keadaan fsiknya, kebiasaan maupun karakternya, atau kemampuan serta keterbatasan yang dimilikinya. Orang-orang seperti itu sering kali berfkir: “mengapa saya tidak bisa seperti mereka?”, “apa salah saya sehingga saya bernasib seperti ini?”. Bahkan lebih jauh lagi, akhirnya mereka menganggap Tuhan tidak adil. Munculnya perasaanperasaan manusiawi seperti itu merupakan pengalaman yang wajar dan biasa dialami oleh remaja dalam upaya pencarian jati dirinya.

Jawaban atas kegelisahan remaja seperti itu, tidak akan terpuaskan selama mereka mencarinya terbatas fenomena fsik-manusiawi belaka. Mereka perlu diajak untuk masuk ke kedalaman dirinya. Mereka perlu dihantar pada pengalaman imani, sehingga sampai pada pertanyaan baru: “Mengapa Tuhan menciptakan aku seperti ini?”, “Apa maksud dan panggilan Allah dalam keadaanku seperti
ini?”. Ketika masuk dalam kedalaman pengalaman iman, mereka akan sampai menyadari bahwa apapun yang melekat pada dirinya semata-mata anugerah Allah, dan bahwa di balik semua yang melekat pada dirinya tersimpan di dalamnya maksud panggilan Allah yang luhur.

Keberanian masuk pada pengalaman  iman inilah yang akan membuat setiap orang menerima diri dan mensyukuri hidupnya sebagai anugerah. Penerimaan diri dan dan syukur itu selanjutnya akan mendorong untuk bersikap bertanggung jawab dan mengembangkan diri. Bila proses ini bisa dijalani, maka mereka akan sampai pada kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Mereka tidak akan lagi
menjadi minder, atau ingin seperti orang lain. Mereka menjadi dirinya sendiri. Mereka merasakan bahwa dirinya bukan lagi sesuatu, melainkan sebagai pribadi yang bernilai, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Untuk membantu remaja pada pengalaman dan proses di atas, maka pada Bab ini berturut-turut akan dibahas materi pokok tentang:
A. Aku Pribadi Yang Unik.
B. Mengembangkan Karunia Allah.
C. Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan.
D. Keluhuran Manusia sebagai Citra Allah.






















BAB II
KITAB SUCI DAN TRADISI SEBAGAI
SUMBER IMAN AKAN YESUS KRISTUS

Sesudah menggumuli tema Pribadi manusia, selanjutnya kita akan mendalami tema Pribadi Yesus Kristus. Sebagai pribadi yang bermartabat Citra Allah kita dipanggil oleh Allah untuk secara bertanggung jawab mengembangkan diri menuju kesempurnaan dalam kebersamaan dengan sesama. Upaya mengembangkandiri tersebut bukanlah suatu hal yang mudah, sebab dalam perjalanan hidupnya manusia selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan dan rintangan.

Sebagai orang yang beriman akan Yesus Kristus, kita ingin mengembangkan diri dengan berpolakan pada Yesus Kristus. Pribadi Yesus Kristus dijadikan pola dan teladan pengembangan diri, sebab dalam Dia-lah kita menemukan keluhuran martabat manusia yang unggul dan berkenan kepada Allah. Dialah Citra Allah yang telah dipilih Allah menjadi jalan, kebenaran dan hidup manusia. Dalam Dialah kesempurnaan manusia di hadapan Allah.

Agar mampu menempatkan Yesus sebagai sosok kesempurnaan hidup, maka kita perlu menggali pemahaman kita dari sumbernya, yakni Kitab Suci, baik Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta Tradisi Gereja. Kitab Suci dan Tradisi menjadi sumber iman kita. Maka pembelajaran dalam Bab ini akan menggali lebih dalam tentang:


A. Kitab Suci Perjanjian Lama
B. Kitab Suci Perjanjian Baru
C. Tradisi






























Bab IV
YESUS MEWARTAKAN DAN
MEMPERJUANGKAN KERAJAAN ALLAH

Kitab Suci dan Tradisi dapat dipahami sebagai pintu masuk untuk lebih mengenal dan memahami Yesus Kristus. Ia adalah sumber utama iman akan Yesus Kristus. Pada bab ini kita akan lebih mendalami Yesus Kristus yang kita imani itu. Yesus yang kita imani ialah Yesus Kristus sebagai utusan Bapa untuk mewartakan Kerajaan Allah dan mewujudkannya.

Misi Yesus mewartakan Kerajaan Allah rupanya bukan tugas yang mudah. Sebelum Yesus tampil di muka umum, sudah banyak paham Kerajaan Allah yang hidup dan berkembang dalam masyarakatnya. Paham-paham Kerajaan Allah yang berkembang saat itu tidak bisa dilepaskan dari situasi dan kondisi yang dialami bangsa Yahudi, yang langsung maupun tidak langsung berpengaruh pula pada sikap dan perilaku masing-masing kelompok dalam kehidupan sehari-hari, baik
dalam relasi mereka dengan sesama, maupun dengan Tuhan.

Di tengah berbagai paham Kerajaan Allah itu, Yesus mewartakan Kerajaan Allah sesuai dengan yang dihayati-Nya sendiri. Dalam mewartakan Kerajaan Allah tersebut, Yesus berusaha agar pewartaan-Nya dapat dipahami dengan mudah. Itulah sebabnya kerap kali Ia menggunakan perumpamaan. Tetapi Yesus tidak hanya mengajarkan dan menjelaskan Kerajaan Allah, melainkan menunjukkan
tanda-tanda kehadirannya melalui tindakan-Nya.

Untuk lebih memahami perjuangan Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah, dua pokok bahasan berikut akan digumuli bersama:
A. Gambaran tentang Kerajaan Allah pada zaman Yesus
B. Yesus mewartakan dan memperjuangkan Kerajaan Allah.




























Bab V
SENGSARA, WAFAT, KEBANGKITAN
DAN KENAIKAN YESUS

Dengan bekerja keras, Yesus melaksanakan tugas perutusan Bapa untuk mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah. Walaupun demikian tidak semua orang menanggapi pewartaan Yesus itu dengan tangan terbuka. Ada sebagian masyarakat yang justru merasa terancam dengan kehadiran dan kegiatan Yesus itu. Mereka menganggap pewartaan dan tindakan Yesus sebagai ancaman bagi
jabatan, kehormatan, serta nafah mereka. Bagi mereka, Yesus adalah musuh yang harus ditumpas. Hal itulah yang menyebabkan mereka dengan berbagai cara berusaha menjebak dan melemahkan pengaruh pewartaan Yesus. Bahkan beberapa kali mereka berusaha membunuh Yesus. Hingga pada saat yang tepat, mereka berhasil menangkap Yesus, mengadili, menyiksa dan menyalibkan-Nya.

Di mata para musuh-Nya, kematian Yesus merupakan bentuk hukuman yang layak bagi seorang penghujat Allah. Tetapi Yesus menghayati sengsara dan wafat-Nya sebagai bentuk kesetiaan-Nya kepada nasib manusia yang berdosa, dan sekaligus kesetiaan dan penyerahan total kepada Bapa. Yesus mengalami nasib seperti manusia, yakni kematian. Tetapi Allah membangkitkan Dia pada hari
ketiga sebagai tanda penerimaan penyerahan diri Anak-Nya dan memuliakan Dia dengan mengangkat Dia ke Surga.

Untuk lebih menghayati hal tersebut di atas, maka dalam bab lima ini, secara berturut-turut akan dibahas topik-topik:
A. Sengsara dan wafat Yesus
B. Kebangkitan dan kenaikan Yesus ke Surga.






























Bab VI
YESUS, SAHABAT, TOKOH IDOLA,
PUTERA ALLAH DAN JURU SELAMAT

Banyak aspek yang dapat kita dalami tentang Yesus Kristus. Dalam bab sebelumnya, kita sudah memahami perjuangan Yesus Kristus dalam mewartakan Kerajaan Allah. Perjuangan-Nya yang tergolong singkat (sekitar 3 tahun) ternyata bukan perkara mudah. Ia tidak hanya berusaha memurnikan pemahaman masyarakat tentang Kerajaan Allah yang sudah terlebih dahulu diajarkan oleh tokoh-tokoh dan kelompok masyarakat sebelumnya; melainkan juga harus berhadapan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama Yahudi yang tidak menyukai karya-Nya. Tokoh masyarakat dan tokoh agama Yahudi tidak hanya membenci dan menolak kehadiran Yesus, tetapi mereka juga berusaha menjebak dan mempersalahkan Yesus, bahkan selalu berupaya dengan berbagai cara untuk
membunuh-Nya.

Perjuangan untuk mewartakan Kerajaan Allah dilakukan Yesus Kristus dalam kesetiaan total kepada Bapa dan kepada manusia. Itulah sebabnya Ia juga tetap setia menjalani sengsara sampai wafat di kayu salib. Namun, wafat Yesus Kristus bukan akhir dari rencana Allah menyelamatkan manusia. Dengan membangkitkan Yesus Kristus Allah memberi harapan baru tentang keselamatan manusia yang lebih paripurna. Berkat kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus ke Surga, harapan akan keselamatan kekal menjadi makin jelas, sebab Yesus tidak hanya berjanji, melainkan sudah membuktikannya sendiri.

Tindakan Yesus Kristus dalam mewartakan Kerajaan Allah sampai wafat di salib itu sangat mengagumkan. Oleh karenanya, Yesus Kristus pantas menjadi sahabat dan idola hidup kita masa kini. Kekaguman kita akan bertambah, bila kita melihat kembali kepribadian-Nya secara lebih dalam. Maka dalam bab ini berturut-turut akan didalami topik-topik berikut:

A. Yesus Kristus sahabat sejati dan tokoh idola
B. Yesus Putera Allah dan Juruselamat

























Bab VII
ROH KUDUS DAN ALLAH TRITUNGGAL

Dalam pengalaman sehari-hari sebagai orang beriman Katolik, mungkin kita lebih banyak berbicara tentang Allah Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus, pribadi pertama dan pribadi kedua dalam Tritunggal. Peranan Allah Bapa terasa lebih sering disoroti sejak penciptaan, penyertaan-Nya dalam perjalanan jatuh bangunnya Bangsa Israel, sampai pada persiapan menjelang penjelmaan Yesus
Kristus. Yesus Kristus, sebagai pribadi kedua, juga lebih mudah dipahami, apalagi lewat penjelamaan-Nya menjadi manusia, karya-Nya dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh para saksi hidup zaman-Nya. Hal yang sering dirasa agak sulit adalah ketika kita memasuki pembicaraan tentang pribadi ketiga, yakni Roh Kudus. Banyak orang merasa berbicara tentang Roh Kudus seolah berbicara sesuatu yangabstrak.

Tetapi, iman Katolik adalah Iman yang Trinitas. Kita mengimani Allah yang melaksanakan karya penyelamatannya bagi manusia sepanjang zaman, melalui peran ketiga pribadi: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ketiganya merupakan kesatuan utuh yang tak dapat dipisahkan, walaupun ketiganya berbeda. Peran Bapa, hanya mempunyai arti penyelamatan secara utuh dan universal bila kita kaitkan dengan
karya Putera dan Roh Kudus. Karya Putera, hanya mempunyai arti penyelamatan secara utuh bila ditempatkan dalam keseluruhan karya dan rencana Bapa, dan yang masih terus berlangsung berkat Roh Kudus. Demikian pula, kehadiran Roh Kudus dan karya-Nya, hanya dapat dipahami sebagai bagian utuh karya keselamatan bila ditempatkan sebagai roh penghibur dan roh kebenaran yang dimintakan Yesus kepada Bapa untuk menyertai manusia.

Melalui pembahasan materi dalam bab ini, peserta didik akan diajak untuk memahami bersama pengertian Tritunggal Mahakudus dan Peranan Roh Kudus bagi gereja. Materi ini cukup berat untuk diproses dan dipahami, baik bagi guru maupun peserta didik. Tetapi, mengingat materi ini merupakan pintu masuk untuk memahami dasar iman kristiani, maka diperlukan kesetiaan untuk mempelajarinya. Secara metodologis, materi dalam bab ini dominan bersifat informatif. Walaupun demikian kegiatan pembelajaran tidak akan membosankan bila peserta didik sendiri terlibat langsung untuk membaca sumbernya, yakni Kitab Suci. Berturut-turut akan dipelajari tentang:

A. Tritunggal Mahakudus.
B. Peran Roh Kudus bagi Gereja


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODUL FASE E BAB.1